Monday, March 11, 2013

Living Inside a Crown - 1


Written by
LIGHT

Main Cast
King Jonghyun (SHINee Jonghyun)
Queen Lee (OC)
Prince Lee Jinki (SHINee Onew)
Kang Joon (OC)
Choi Minho (SHINee Minho)
Jeong Minhye (OC)
Lee Jeongshin (CNBlue Jeongshin)
Dan cast lain yang belum disebutkan dalam cerita.. ^o^

Genre
Slice of Life, Romance, Fluff, Friendship, Family

Rate
General

Length
chaptered : 1 of ?

Disclaimer
hak milik pada cerita, bukan pada tokoh, bahkan OC nya pun bukan punya saya~ hahaha

Warning
hanya fiksi belaka.. :)

^o^

==========

Siang ini pukul 13.45 pangeran Lee Jinki, telah sampai di bandara internasional Incheon. Putra Pertama King Jonghyun kembali ke Korea setelah selama 3 tahun berada di Kanada untuk melakukan studi setelah lulus dari South Korea Royal Academy..

Berita tentang putra pertama raja Korea Selatan itu sejak semalam tak berhenti memenuhi acara berita di televisi, radio, dan internet. Bahkan halaman utama Koran pagi hari ini. Wajah tampan sang pangeran pun tak berhenti menghiasi media-media informasi di seluruh negri, membuat hampir seluruh perhatian masyarakat Korea Selatan tertuju pada calon kuat Putra Mahkota yang akan menjadi penerus Raja saat ini. Sosok santun, ramah, dan pintar yang sudah dikenal oleh seluruh rakyat Korea Selatan sejak dirinya masih kecil. Putra kebangaan Korea.

Di layar besar yang melekat di tembok sebuah bangunan besar di tengah ibu kota itu, tampak sang pangeran yang tengah berjalan keluar dari pintu kedatangan. Disambut oleh sekelompok wartawan yang ingin meliput kedatangannya, juga beberapa warga masyarakat yang ingin melihat secara langsung sosok pangeran yang sudah cukup lama meninggalkan negaranya untuk belajar itu. Namun harapan untuk melihat sosok pangeran itu tak bisa benar-benar mereka dapatkan, karena sekelompok pengawal dengan pakaian formal seragam berdiri berjajar, meminta orang-orang itu memberikan jalan agar pangeran tidak terhambat sampai ke mobil yang akan mengantarkannya menuju ke Istana. Dimana keluarga dan ayahnya telah menunggu.

Nampak senyum lebar yang berkarisma ia layangkan kepada semua yang berada di sekitarnya. Ia melambaikan tangannya dengan santun, tanpa berhenti melangkahkan kakinya ke arah tujuan. Semua itu dapat dilihat dari layar besar yang tengah menyiarkan berita kedatangannya. Dimana sebagian orang yang berada disana, menyempatkan diri untuk melihatnya.

Termasuk seorang pria dengan jaket kulit berwarna coklat yang tengah menggigit roti melonnya, mengisi penuh mulutnya hingga pipinya menggembung. Ia mengawasi layar besar itu tanpa berkedip. Ia kemudian menelan separuh dari isi mulutnya, kemudian meneguk susunya hingga menetes sedikit di dagunya. Masih melihat beritanya, ia menghabiskan semua makanannya, kemudian membersihkan mulutnya. Ia membuang bungkus makanannya kedalam tempat sampah, kemudian kembali memperhatikan ke arah layar itu sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku jeansnya. Ia mendengus sejenak, kemudian pergi untuk mengambil motor yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.

~O~

Istana sudah sibuk sejak semalam. Para pelayan membersihkan kamar putra pertama raja yang sudah lama tak terpakai. Meskipun setiap hari kamar itu tetap dirawat dan di bersihkan, namun di saat yang terhitung spesial ini, kepala pelayan menugaskan mereka untuk membersihkan ruangan itu dengan ekstra. Karpet, gorden, sprei, bed cover dan sarung bantal diganti dengan yang baru. Bunga-bunga yang mengiasi dalam kamar juga diganti dengan yang baru meskipun baru kemarin mereka mengganti semuanya. Kepala pelayan tetap memeriksa secara detil, barang-barang yang diletakkan didalamnya. Buku-buku, hiasan-hiasan, juga benda-benda kesayangan pangeran, tidak boleh ada yang terletak dengan asal. Bahkan sebatas satu inchi saja, kepala pelayan tidak membiarkan itu terjadi.

Di ruangan lain, beberapa pelayan menyiapkan dekorasi untuk penyambutan pangeran Lee Jinki. Menata meja dan kursi di hall istana yang luas, menyiapkan hiasan-hiasan sederhana sesuai selera putra pertama raja itu. Sementara juru masak didapur istana menyiapkan segala hidangan untuk menyambut kedatangan sang pangeran, sekaligus merayakan kelulusan pangeran Lee Jinki dari universitasnya di Kanada.

Kepala pelayan istana mengawasi semua yang dikerjakan bawahannya, tanpa luput sedikitpun dari kesalahan, sekecil apapun. Bahkan semut kecil yang merambat diatas kudapan yang dihidangkan, ia akan meminta juru masak mengganti semuanya, kemudian memperingatkan dengan keras atas kesalahan itu.

Sementara di salah satu ruangan di istana, tempat dimana Raja sering menghabiskan waktu untuk sekedar membaca buku, atau minum teh bersama istrinya, nampak sang Raja tengah menonton televisi untuk melihat berita tentang kedatangan anak lelaki yang sudah di rindukannya. Anak sulungnya yang telah membanggakannya. Senyum lebar pun terkembang di bibirnya.

“Aku senang, akhirnya aku bisa bertemu dengan anakku lagi..” sang Ratu berkata, kemudian tersenyum lembut.

“Dia sudah terlihat lebih dewasa! Dia benar-benar.. tidak pernah mengecewakanku!” timpal sang Raja, kemudian tersenyum puas. Tampak guratan bahagia di wajahnya yang tidak bisa di tutupinya dengan ekspresi apapun. Ia terlalu bahagia.

.

“Kursi yang disini! Pindahkan kesana!” “Bunga ini, ganti! Pangeran tidak suka yang terlalu merah!” “Potongan kue ini beda 2 inchi! Bawa ke dapur, ganti dengan yang lain!”

Yah! Tidakkah kau merasa dia sedikit keterlaluan?” bisik seorang pelayan wanita dengan seragam yang mirip seperti hanbok, namun lebih modern. Ia memeluk pot bunga di tangannya, masih mencibir kepala pelayan yang sibuk berteriak ini itu di tengah ruangan, namun ia tidak berani menghentikan apa yang ia lakukan. Sementara temannya yang ia ajak bicara sedang meletakkan kudapan manis di salah satu sudut meja panjang yang telah di siapkan.

Gadis yang memakai pakaian juru masak itu terlihat tidak mengindahkan apa yang dibicarakan pelayan yang masih berdiri di sebelahnya itu. Bukannya ia tidak setuju dengan apa yang diucapkannya, ia hanya tidak berani mengangkat wajahnya untuk memperhatikan kepala pelayan yang dikenal galak itu, kemudian akan dimarahi habis-habisan karena ia tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya.

“Tsk! Kalau saja dia bukan kepala pelayan aku-”

“Yang memeluk bunga disana! Apa yang kau kerjakan? Cepat pindahkan bunga itu dan segera kerjakan yang lain!” kepala pelayan berteriak pada bawahannya itu, dan segera di turuti tanpa banyak bicara. Setelah menunduk hormat, ia bergegas memindahkan bunganya. Sementara juru masak yang sudah selesai meletakkan makanan itu kembali ke dapur untuk menerima perintah dari kepala dapur.

.

Aroma lama. Aroma yang sangat dirindukan Lee Jinki selama ia berada di Kanada. Ia sangat merindukan rumahnya, tempat dimana ia menghabiskan waktu sejak kecil hingga tiga tahun yang lalu, sebelum ia berangkat ke Kanada karena mendapatkan bea siswa atas prestasinya di South Korea Royal Academy pada tingkat sekolah menengah. Jinki berjalan mengelilingi lorong-lorong dalam istana itu. Setelah sampai di istana, bukannya istirahat atau bergegas menemui orang tuanya, ia malah berkeliling melihat kesibukan pelayan-pelayan istana mempersiapkan acara yang akan diadakan nanti malam, untuknya.

Semua pelayan menunduk pada saat Jinki melalui mereka, meskipun mereka sedang mengangkut satu keranjang apel, membuat apel yang ada didalam keranjang yang ia peluk berjatuhan. Jinki senang, akhirnya ia bisa berada di rumah sekarang. Terutama kamarnya, tempatnya menghabiskan separuh waktunya untuk belajar saat ia masih berada di sekolah menengah. Ia ingin segera masuk kedalam kamarnya. Namun sebelum ia menjalankan niatnya itu, ia berhenti didepan kamar lain. Ia merasa ingin menyapa pemiliknya. Namun ia tidak yakin pemilik ruangan itu sedang berada disana.

“Lee-Wonja (Pangeran)!” tiba-tiba seseorang memanggilnya, membuat Jinki menoleh begitu saja kearah suara. Ia menemukan ibunya, sang ratu, berdiri tak jauh darinya dengan senyum lembut, senyum yang sangat dirindukannya.

“Ibu!” Jinki berjalan mendekati ibunya, kemudian memeluknya erat. Ia sangat merindukan wanita paruh baya ini, meskipun hampir setiap hari mereka berhubungan melalui telepon.

Jinki melepaskan pelukanya, begitu juga ibunya. “Ibu senang kau tidak memanggilku, Mama (Yang mulia)! Kalau begini ibu benar-benar merasa bertemu dengan anak ibu!” ujarnya. Jinki tersenyum, kemudian kembali memeluk ibunya sampai beberapa lama.

“Kau tidak merindukan ayahmu?” Tanya ibunya setelah melepaskan pelukannya untuk yang kedua kali. Jinki hanya mengangguk mengiyakan. Tentu saja ia merindukan ayahnya.

“Tapi, ibu, aku juga merindukan pemilik kamar itu!” jawabnya sambil menunjuk ke arah kamar yang sebelumnya menjadi perhatiannya. Kamar yang tidak terlihat tanda-tanda kehidupannya sedikitpun.

Ibunya ikut memandang kea rah kamar itu, kemudian melepas nafas pendek. “Ia berjanji akan datang nanti malam!” jawab ibunya. Ia kemudian menepuk lengan anak lelaki yang berdiri di hadapannya itu. “Sekarang mandi dan beristirahatlah! Kau pasti lelah! Nanti malam akan ada banyak tamu yang datang! Kau tidak boleh mengantuk, arraseo?” ujar ibunya memperingatkan.

Ye, eomoni!”
~O~

“Apa yang terjadi dengan rambutmu? HAHAHAHAHAHA”

Suara tawa Jeongshin terdengar menggelegar di ruang tengah rumah Kang Joon. Ia tertawa begitu saja saat memasuki ruangan itu dan melihat apa yang terjadi pada kepala temannya itu. Rambut Kang Joon dipotong sangat pendek. Ia tahu Kang Joon memang tidak feminim, tapi ia juga tidak menyangka gadis itu akan memotong rambutnya sependek ini.

Kang Joon berusaha tidak peduli pada suara tawa Jeongshin, meski pada akhirnya ia masih merasa terganggu karenanya. Bukan karena di sengaja juga ia memiliki rambut sependek ini sekarang. Ini karena kelalaian pegawai salon tempatnya potong rambut. Konsentrasinya terpecah karena pegawai itu memotong rambutnya sambil menonton berita kepulangan Lee Jinki dari televisi yang diletakkan di sudut ruangan, hingga melakukan kesalahan pada rambut Kang Joon. Dan kini gadis itu harus memiliki rambut yang sangat pendek karenanya.

Jika ia harus menyalahkan orang, ia tidak tahu siapa yang harus ia salahkan. Mungkin ia harus menyalahkan dirinya sendiri karena berangkat untuk memotong rambutnya pada hari yang sama dengan kepulangan pangeran negara mereka. Ia pikir, siapa yang perhatiannya tidak teralihkan oleh berita itu? Oke, mungkin dirinya salah satu yang tidak terlalu memperhatikan beritanya.

“Diam kau!” akhirnya Kang Joon angkat bicara setelah emosinya meluap. Ia kesal karena Jungshin membuat konsentrasinya pecah, juga karena menertawakan kondisi rambutnya saat ini.

Sorry~” jawabnya.

Jeongshin duduk. Kemudian memandang ke arah meja pendek yang ada didepan sofa ruang tengah itu, dimana buku-buku milik Kang Joon bertebaran di atasnya.

Yah! Kau tidak berangkat kerja?” tanya pria jangkung itu seraya mengambil dengan asal salah satu buku di atas meja ruang tengah yang sedang dipakai Kang Joon untuk belajar. Kang Joon, belajar, adalah hal yang luar biasa sebenarnya. Namun Jeongshin sudah tidak heran lagi, karena akhir-akhir ini gadis itu sering menghabiskan waktunya bersama buku-buku pelajarannya saat ia tidak bekerja. “Joon-ah?”

Day-off!” jawab Kang Joon asal tanpa memperdulikan Jungshin yang kini sudah terlentang di atas karpet di samping Kang Joon. Ia membaca buku yang sebelumnya diambilnya itu. Buku cetak dari South Korea Royal Academy. Dimana Kang Joon menuntut ilmu sekarang.

Sejak gadis ini menyadari, betapa pentingnya hidup layak, ia jadi memiliki tekad yang besar. Dengan kemampuan yang dimilikinya, belajar habis-habisan, ia mengikuti tes masuk sekolah terbaik di Korea itu dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kedalamnya, dan dengan segala keberuntungan yang dimilikinya, Kang Joon berhasil masuk ke sekolah itu. Namun konsekwensinya adalah, ia harus belajar mati-matian setiap ada kesempatan, meskipun pada saat istirahat kerja.

“Padahal aku dengar yang lain mati-matian berebut shift hari ini karena Lee-Wonja baru pulang dari Kanada!” Jeongshin bangun, duduk di hadapan sisi meja yang lain, kemudian meletakkan buku yang memuakkan pikirannya untuk sesaat itu. “Kau tidak mau bertemu dengan prince charming seluruh gadis di Korea Selatan itu, Kang Joon?”

Kang Joon menghentikan kegiatannya, kemudian menatap Jeongshin dengan malas. “Aku-tidak-peduli!” katanya. “Cepat pergi kalau kau tidak ada urusan lagi di rumahku, Lee-Borangja (gelandangan)! Aku mau belajar!” tambahnya dan berusaha untuk tidak mempedulikan Jeongshin lagi. Jeongshin hanya membalasnya dengan dengusan, kemudian kembali tiduran diatas karpet.

Sebenarnya Kang Joon bersyukur hari ini Lee Jinki pulang, karena bisa dipastikan seluruh pelayan berebut ingin bertemu dan melihat pangeran pujaan mereka itu secara langsung. Terutama bagi pelayan-pelayan baru yang ingin melihat Lee-Wonja dari jarak dekat. Itu artinya dirinya bisa beristirahat karena pelayan-pelayan itu akan memperebutkan shift dimana ia seharusnya bekerja. Saat ada satu teman kerjanya yang meminta dirinya untuk bertukar, ia mengiyakan saja. Ia bisa membayangkan pekerjaan berat apa yang akan ia temui hari itu jika ia tidak mau bertukar. Saat ada acara besar seperti ini, kepala pelayan Kwon akan berteriak-teriak hanya karena kesalahan kecil dalam persiapan, menggunakan bawahannya sebagai alat untuk kerja rodi. Hanya membayangkannya saja ia sudah bisa merasakan betapa melelahkannya pekerjaan mereka. Lebih baik ia libur saja.

Sekaligus, ia menggunakan waktu kosongnya ini untuk belajar, karena besok pagi akan ada ‘hadiah’ dari guru di kelas astronomi dasar. Ia akan mati jika tidak benar-benar belajar malam ini. Ia tidak ingin nilainya buruk hanya karena mempedulikan Lee-Wonja yang tidak akan membantunya mendapatkan nilai yang baik besok.

~O~

Stelan jas bermerk dengan desain yang sederhana, sepatu formal yang mengkilat dan rambut yang ditata dengan rapi, membuat Lee Jinki benar-benar terlihat seperti pangeran. Tidak seperti sebelumnya, hanya mengenakan kaos dan cardigan tipis seperti pria biasa. Kini ia benar-benar terlihat seperti pangeran.

Acara penyambutan sedang berlangsung, sang Raja tengah berpidato didalam ruangan tersebut, sementara Lee Jinki berdiri di samping ayahnya itu dengan senyum tipis terulas di wajahnya. Ia mengangguk hormat kepada para tamu kerabat saat ayahnya sedikit membanggakannya. Putra pertama raja ini benar-benar memiliki etika. Ia tidak sedikitpun membuat ayahnya berhenti untuk membanggakannya.

Seluruh tamu undangan dengan pakaian formal yang terlihat mahal itu berdiri didalam ruangan tersebut, mendengarkan pidato raja yang cukup panjang. Entah mereka benar-benar mendengarkan atau tidak, yang jelas tidak tampak sedikitpun raut wajah bosan dari satupun tamu yang ada disana. Hampir seluruhnya memandang bangga ke arah Jinki. Terutama tamu-tamu wanitanya, yang berharap bisa mengakrabkan diri pada pangeran itu, kemudian berniat menjodohkan anak mereka dengannya.

Tak ketinggalan beberapa pelayan istana yang berjaga di sekitar ruangan menunggu perintah, mereka mencuri-curi pandang ke arah Lee-Wonja yang berdiri cukup jauh didepan mereka. Sesekali mereka berbisik, bagaimana mereka ingin mendekati pria itu kemudian ingin memperkenalkan diri. Tapi mengingat status derajat yang berbeda jauh, mereka tidak mungkin melakukannya.

Ditengah pidato sang raja kepada seluruh tamu undangan, Jinki terlihat melirik kesana kemari. Mencari-cari seseorang yang sejak awal ingin di temuinya. Namun ia yakin, tidak akan mudah bisa bertemu orang itu. Sejak dulu memang seperti itu.

.

Pidato akhirnya usai, dan kini acara bebas sudah dimulai. Para tamu bergerombol dengan kelompok kecil mereka, bercakap-cakap sambil menikmati makanan yang telah disiapkan oleh juru masak kerajaan. Sementara Lee Jinki sibuk berjalan kesana kemari tanpa membawa makanan apapun ditangannya. Ia masih sibuk mencari-cari seseorang. Hingga tak sengaja, seseorang menabraknya di depan pintu hall kerajaan itu.

Seorang pria tinggi dengan seragam penjaga istana melangkah mundur setelah tak sengaja ia menabrak Jinki. Namun bukannya meminta maaf, ia malah tersenyum lebar. “Hyeo-” ia terdiam sejenak, mengoreksi panggilannya. Ia berdiri tegak, kemudian menunduk hormat di hadapan Jinki. “Wonja mama (Yang mulia pangeran)!” sapanya hormat.

Jinki tersenyum, kemudian menepuk lengan pria yang masih menunduk di hadapannya itu. Membuat pria itu menegakkan badannya. “Sangat canggung mendengarmu memanggilku seperti itu, Choi Minho!” ujarnya, kemudian tertawa pelan. Penjaga bernama Minho itu hanya menanggapinya dengan senyum malu-malu sambil menggosok bagian belakang lehernya. “Kau sudah memakai seragam ini sekarang?” katanya.

“Ah.. ye, akhirnya saya bisa memakainya!” jawabnya.

“Bagaimana dengan kepala penjaga istana? Kau menyukainya?” tanya Jinki iseng. Ia tahu bagaimana sifat kepala penjaga. Kadang dirinya sendiri juga tidak menyukainya.

Minho terlihat memeriksa sekeliling mereka. Ia ingin membuka suara pada awalnya, namun ia mengurungkan niatnya. Ia menutup kembali mulutnya, tampak berpikir sebentar, kemudian mulai menjawab. “Bisakah kita tidak membicarakan ini? Saya baru seminggu menjalani training, saya tidak ingin dikeluarkan hanya karena mengumpat..” jawabnya jujur.

Lee Jinki tertawa terbahak-bahak, membuat beberapa tamu kerabat yang datang menoleh ke arahnya. “Arraseo! Tidak perlu menjawab, aku sudah tau apa yang akan kau katakan!” jawabnya. Minho tersenyum tipis. Ia pikir, Jinki selalu tahu apa yang ada dipikirannya. “Ah, Minho-ya!”

Ye, H-, Wonja mama?”

“Dia.. apa hari ini tidak datang?”

Ye?”

~O~

11.35 PM

Tidak terasa, Kang Joon sudah menghabiskan waktunya sangat lama untuk belajar. Bahkan Jungshin kini sudah berada di atas sofa dan tidur disana. Ibunya yang sudah pulang dari tempatnya bekerja juga sudah berada di dalam kamarnya untuk tidur. Tinggal dirinya sendiri yang masih hidup dirumah itu.

Tiba-tiba saja perutnya terasa lapar. Mungkin energinya habis karena ia terlalu berkonsentrasi untuk belajar malam ini. Ia tidak ingat sejak kapan ia mulai ‘gila belajar’ seperti ini, padahal dulu menyentuh buku saja rasanya ia malas. Dari pada membacanya, ia hanya akan menggunakannya sebagai bantal tidur. Tapi sekarang, ia bahkan tidak sadar matanya mulai minus dan harus menggunakan kacamata saat membaca. Akibat terlalu banyak belajar, ia jadi seperti ini.

Kang Joon menemukan nasi, lauk, sup dan kimchi di atas meja makan di dapur. Pasti ibunya yang meninggalkannya disana. Ibunya sangat tahu, Kang Joon akan melupakan segalanya jika ia sudah berkonsentrasi pada satu hal. Makanya ia tinggalkan makan malam untuk anaknya sebelum ia pergi tidur.

Gadis itu mencuci tangannya, kemudian duduk dan berdoa. Ia memegang sumpitnya, mengambil kimchi dan menyuapkannya banyak-banyak, dan sesaat kemudian ia mendengar seseorang menekan bel pintu rumahnya. Masih mengunyah makanannya, Kang Joon memeriksa jam di ponselnya. Sudah hampir tengah malam. Sangat tidak etis bertamu malam-malam seperti ini ke rumah orang. Apa jangan-jangan penjahat?

Mungkin lebih baik tidak dibukakan saja! Pikir Kang Joon, kemudian mengambil sendoknya dan menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya yang masih berisi kimchi.

Namun suara bel pintu terdengar lagi beberapa kali, membuat Kang Joon kesal, karena lagi-lagi seseorang mengganggunya. Kang Joon beranjak dari meja makan, masih dengan mulut penuh makanan, juga sendok dan sumpit yang masih berada di tangan kanannya. Ia berjalan mendekati pintu dan membuka kuncinya, memutar handel dan membuka pintunya untuk melihat siapa yang baru datang.

“Eo?” dengan mulut penuh, Kang Joon berusaha mengucapkan sesuatu.

“Ah! Akhirnya kau ada di rumah!” ujar pria di hadapannya itu tanpa sapaan.

Kang Joon mengunyah makanannya, kemudian menelannya sampai habis. Ia tidak mau apa yang akan diucapkannya harus terhambat oleh makanan yang ada di mulutnya.

“Kau sedang makan?” pria itu bertanya lagi pada Kang Joon. “Pas sekali!”

“Apa yang kau lakukan disini?” bukannya menjawab, Kang Joon malah balik bertanya.

“Mencarimu!” jawabnya, kemudian tersenyum lebar.

“Hah?”

“Boleh aku masuk? Diluar dingin sekali!” katanya lagi, meminta ijin pada Kang Joon untuk masuk kedalam rumahnya. Kang Joon tidak menjawab, ia hanya berdiri didepan pintu, menghalangi pria itu untuk masuk kedalam rumahnya. “Ya! Kau mengenalku, dan kau pasti tahu aku bukan orang jahat!”

Gadis itu masih terlihat berpikir, meskipun kini urat wajahnya yang semula tegang, sudah sedikit melemas. “Aku hanya-”

Pria itu berdecak, kemudian berjalan masuk melewati Kang Joon. “Ada apa dengan rambutmu?” gumamnya. “Bawa-bawa sendok dan sumpit, kau pikir bisa membunuhku dengan itu?” gumaman itu hampir saja membuat Kang Joon benar-benar membunuhnya dengan sendok.

Tanpa banyak bicara, setelah keduanya berada didalam dan duduk di meja makan, pria itu merebut sendok yang berada di tangan Kang Joon, kemudian menyuapkan makan malam Kang Joon ke mulutnya sendiri, banyak-banyak. Ia terlihat sangat kelaparan, seperti bertahun-tahun tidak pernah makan. Dalam hati Kang Joon merasa kesal dengan tingkah pria ini, namun melihat cara makannya seperti itu, membuatnya tidak bisa menghentikannya. Ia biarkan saja pria itu menghabiskan makan malamnya.

“Apa disini penampungan?” Tanya pria itu tiba-tiba setelah menelan makanan yang sebelumnya memenuhi mulutnya. Kang Joon menaikkan kedua alisnya tak mengerti. “Ada seseorang yang tidur di sana!” lanjut pria itu sambil menunjuk ke arah sofa ruang tengah, dimana Jeongshin sedang tidur sekarang.

“Itu Jeongshin!” jawab Kang Joon singkat. Pria di hadapannya yang masih sibuk meneguk sup dari mangkuknya itu hanya mengangguk pelan. Sepertinya jawaban singkat itu cukup menjelaskan pertanyaannya.

.

Entah mengapa Kang Joon tidak bisa mengelak saat pria yang tiba-tiba datang tengah malam itu berkata padanya bahwa ia ingin menginap disana. Padahal sebelumnya pria itu sudah menghabiskan lebih dari separuh makan malamnya, membuatnya harus mengisi perutnya yang masih lapar dengan dua gelas air putih saja. Kang Joon hanya bisa mendengus untuk menahan rasa kesalnya, kemudian menurutinya dengan mengambil futon yang disimpan di lemari, dan meletakkannya di ruang tengah rumahnya. Bersebelahan denga sofa yang di tempati Jungshin.

“Tidur disana! Besok pagi langsung pulang saja setelah bangun! Aku tidak ingin ibuku melihat rumahnya menjadi penampungan gelandangan seperti ini!” ujarnya asal, kemudian pergi masuk kedalam kamarnya sendiri. “Kalau kau bangun duluan, jangan lupa bangunkan pria di sampingmu! Arraseo??” teriaknya lagi setelah berada didalam kamar.

Pria itu menempatkan diri di atas futon, kemudian menarik selimutnya hingga sebatas leher. Tidak mempedulikan teriakan Kang Joon, pria itu terlelap tidur setelahnya.

~O~

Kang Joon menatap hasil kuis nya di kelas astronomi dasar. Angka 68 tertulis di pojok kertas, terlihat seperti guratan pensil warna merah yang tebal. Ia sedikit meremas bagian kertas yang ia genggam di tangannya hingga sedikit koyak. Ia sebal. Ia belajar semalaman hanya untuk mendapatkan angka 68 sebagai nilai kuisnya hari ini?

“Aishh!! Molla!” Kang Joon meremas kertasnya, kemudian membuangnya dengan asal ke atas meja. Ini semua karena Jungshin, pikirnya. Bocah itu datang dan mengganggu saat ia belajar. Pria yang datang tengah malam itu juga, membuatnya harus menghentikan belajarnya dan memilih untuk tidur. Karena kedua orang itu, ia jadi mendapatkan nilai buruk. Kang Joon menendang kaki meja di hadapannya keras-keras. Kemudian mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.

Sebenarnya, dirinya sendiri juga tidak mengerti, mengapa begitu mudah ia mempersilakan pria itu masuk kedalam rumahnya. Kang Joon memang mengenal pria itu, meskipun ia tidak begitu mengingat namanya. Namun mereka cukup sering bertemu. Jika tidak salah ingat, pria itu juga menuntut ilmu di tempat yang sama dengannya. Di tingkat yang sama juga, Universitas, tahun pertama. Namun sejak pertemuan mereka pada saat hari pertama perkuliahan dimulai, ia sudah sangat jarang bertemu dengan pria itu lagi di tempat ini.

Pria itu akan muncul di tempat lain secara random. Entah di minimarket, di kedai mie langganannya, atau seperti semalam, datang ke rumahnya dan meminta makan malam seperti itu. Padahal Kang Joon pikir pria itu adalah orang kaya, buktinya ia bisa masuk ke akademi ini tanpa harus mati-matian belajar sepertinya. Ia juga tak pernah melihat pria itu bekerja di kerajaan sepertinya. Tapi kenapa hidupnya seperti gelandangan begitu? Kang Joon tidak mengerti.

Di tengah lamunannya itu, Kang Joon melirik sejenak ke arah jam tangannya. Pukul 11.45. “Sial!” umpatnya. Kang Joon segera mengemasi barang-barangnya yang ada di meja dan memasukkannya kedalam ranselnya dengan asal, kemudian berlari pergi meninggalkan kantin akademi, menuju tempatnya bekerja. Ia lupa pukul 12 pergantian shift di dapur. Itu artinya ia harus cepat-cepat datang kalau tidak ingin diteriaki oleh kepala dapur dan kepala pelayan Kwon. Ia tidak mau bekerja dengan telinga berdengung seharian.

~O~

Lee Jinki berdiri di depan sebuah kamar sejak satu jam yang lalu. Kamar yang tak pernah terlihat ada tanda-tanda kehidupan dari dalamnya. Kamar yang tak pernah di masuki oleh pelayan karena si pemilik tidak memperbolehkan satupun orang untuk masuk kedalamnya. Si pemilik pun tidak terlihat berada di dalam ruangan itu. Jinki tak pernah melihat seseorang keluar atau masuk melewati pintu yang ada di hadapannya ini. Masih seperti saat sebelum ia pergi ke Kanada. Semuanya masih sama.

Disaat Jinki masih berada disana, sedikit melamun didepan ruangan itu, tiba-tiba saja seseorang menabraknya sedikit keras, hingga dirinya terdorong cukup jauh dari tempatnya berdiri. Orang itu terjatuh setelah menabraknya, membuat buku-bukunya yang semula berada didalam ranselnya yang terbuka itu, jatuh berantakan di lantai. Menyadari barang-barangnya berserakan seperti itu, ia segera merapikannya, mengumpulkannya dan memasukkan buku-buku itu kedalam ranselnya kembali.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Jinki berbaik hati, sementara orang yang baru saja menabraknya itu masih menunduk membereskan barang-barangnya, tidak berani menampakkan wajahnya kepada Jinki. Meskipun orang tidak mengetahui siapa yang baru ditabraknya, ia tahu orang itu pasti keluarga kerajaan.

Jwesonghamnida!” katanya hormat. Ia berdiri, kemudian menunduk hormat beberapa kali dan bergegas pergi dari hadapan Jinki tanpa mempedulikan pria itu lagi.

Jinki menaikkan kedua alisnya dengan heran. Ia tidak tahu siapa orang itu, mungkin salah satu pelayan yang bekerja disini? Tapi kenapa ia tidak lewat pintu belakang? Atau mungkin karena ia tidak mau terlambat karena harus mengambil jalan memutar? Jinki sibuk dengan pikirannya sendiri hingga orang yang menabraknya itu sudah menghilang di ujung lorong, menuju ruangan lain.

Pria itu hanya menaikkan bahunya, kemudian memutar arah dan ingin berjalan pergi, saat tak sengaja kakinya menginjak sesuatu. Jinki mengarahkan pandangannya pada benda yang baru saja diinjaknya itu. Sebuah buku. Jinki menunduk untuk mengambilnya, ia membersihkan jejak sepatunya dari sampul buku itu. Ia tahu buku ini pasti milik pelayan istana yang baru saja menabraknya. Ia buka cover buku itu, membaca lembar pertama di balik cover buku astronomi itu. Tertulis nama di sudut atas halaman pertama buku tersebut.

“Kang Joon?”

~O~

“KANG JOON!”

“Ya chef??” tubuh Kang Joon menegang begitu mendengar suara teriakan lantang dari arah belakangnya. Apron yang semula sedang berusaha untuk ia pakai, segera terjatuh begitu ia melepaskannya. Ia tidak berani menggerakkan tubuhnya lagi setelah berada pada sikap siap, untuk menerima teriakan dari kepala chef yang sudah ia tebak, akan memarahinya karena ia terlambat datang.

“Aku tahu kau sudah naik satu tingkat di dapurku! Tapi bukan berarti kau boleh datang terlambat! Walaupun hanya beberapa menit, tetap tidak diijinkan!” kepala chef berteriak setelah ia berada tepat di hadapan Kang Joon. Sedangkan gadis di hadapannya itu hanya bisa menunduk tanpa berani melawan. "Dan apa yang kau lakukan pada kepalamu? Ya Tuhan!" ia berdecak pendek.

Kepala dapur Yoon menghela nafasnya berat, berusaha menghilangkan perasaan marahnya sesaat. Ia tahu ini pertama kalinya Kang Joon datang terlambat, mungkin tidak masalah untuk memaafkannya. Sekali ini saja.

“Ya sudah! Karena kepala pelayan Kwon belum mendengar soal keterlambatanmu, kau ku maafkan untuk sekali ini!” ujarnya dengan nada lebih rendah, membuat Kang Joon berani mengangkat wajahnya dan memandang kea rah kepala dapur Yoon dengan berbinar-binar.

Jeongmalyo?”

Kepala dapur Yoon mengangguk pelan. “Tapi aku tidak akan memaafkanmu jika lain kali kau membuat kesalahan yang sama! Arraseo?” katanya. “Cepat pakai apronmu! Cuci semua yang ada di bak cuci! Itu sebagai hukumanmu hari ini!” katanya lagi, kemudian pergi meninggalkan Kang Joon untuk memeriksa pekerjaan bawahannya yang lain.

“Ya chef! Gomapseumnida!!” serunya sambil menunduk hormat beberapa kali kearah kepala dapur, saking senangnya.

“Beruntungnya kau jadi anak emas Chef Yoon!” ujar seseorang dari sampingnya. Kang Joon menoleh, mendapati seorang juru masak lain menyodorkan apronnya yang semula terjatuh itu kearahnya.

Kang Joon menerima apron itu, kemudian memakainya. “Anak emas apanya? Aku tidak bisa memasak lebih baik darimu, Minhye-ah!” ujarnya dengan senyum lebar, kemudian bergegas pergi ke arah bak cuci untuk menyelesaikan hukumannya.

“Kang Joon fighting! Akan kutambahkan hukumanmu setelah ini!” ujar Minhye sambil memperlihatkan panci yang akan digunakannya untuk memasak.

Oh! Lakukan sesukamu!” jawab Kang Joon, dan segera memulai pekerjaannya sebelum kepala dapur akan memarahinya lagi.

~O~

Alunan musik terdengar begitu merdu didalam ruangan besar itu. Sebuah piringan hitam berputar di sudut ruangan, menyanyikan sebuah lagu kuno yang masih saja terdengar akrab di telinga. Seorang wanita tengah duduk di bagian lain ruangan itu, disebuah meja bundar dengan secangkir teh dan kudapan di atasnya. Wanita itu sedang membaca buku novel klasik. Wanita yang terlihat cantik seperti yang ada dalam dongeng putri. Rambut hitamnya tergerai sebahu dengan poni menyamping tersapu rapi di keningnya. Ia mengenakan dress kuning susu berlengan pendek, yang potongannya jatuh sampai di bawah lututnya. Ia menenakan flatshoes berwarna coklat muda. Gaya sederhana yang selalu dikenakannya, menampilkan kecantikan yang apa adanya.

Wanita muda itu membalik halaman demi halaman novel yang sedang ia baca, hingga ia sampai ke bagian tengah buku itu. Ia melipat sudut halaman buku, kemudian menutupnya dan meletakkannya di atas meja. Bersebelahan dengan cangkir tehnya. Wanita itu menatap kea rah lain, untuk menemukan seorang pelayan pria mengangguk hormat ke arahnya.

“Ada apa?” ujarnya lembut.

“Ada surat undangan untuk anda dari kerajaan!” jawab pelayan tersebut, seraya menyerahkan sebuah kertas undangan dengan aksen pita berwarna emas di sudutnya.

Wanita muda itu menerimanya, kemudian membacanya segera setelah ia membukanya. Seulas senyum bahagia terlihat muncul di wajahnya begitu saja. Sepertinya sesuatu yang baik baru saja terjadi padanya, melewati surat undangan tersebut.

-To be Continue-

Author Note:
thanks to my beloved sisters, ainee sama arin yang udah membuatku bikin cerita yang.. sebenernya aku sendiri pun ga mikir bisa berhasil dengan cerita ini nantinya.. setting yang belom pernah terpikirkan sama diriku sendiri.. tapi kalian berdua memberiku ide ini.. hahaha.. wish me luck!
Sangkyuu~!!

Comments are loved!! :D

-LIGHT-

2 comments:

  1. Ditunggu kelanjutanya ^^
    best comedy of this part: Choi Minho jadi pelayan. Show 'em who's the boss!! yeah!
    Sensei hwaiting!

    Warm regards,
    Kazunari's

    ReplyDelete
  2. numpang baca yak hikachan, udah lama g main dimari.. hihihi..

    ReplyDelete