Tuesday, February 26, 2013

Sometime, We are Like This..


Written by
LIGHT

Main Cast
Lee Jinki (SHINee Onew), Choi Chaeyong (OC)

Genre
Romance, Sad

Rate
General

Length
oneshot

Author Note
cerita yang idenya dapet waktu bangun tidur.. gatau kenapa bisa dapet ide kayak ginian~ hahaha.. dan alangkah ga kreatifnya nyari tokoh, akhirnya pake pairingan ini lagi.. sekalian nambahin cerita soal mereka.. hha.. yasudahlah~ :p

^o^

==========

Keduanya sama-sama keras, mereka punya alasan masing-masing yang sama kuat, yang membuat mereka tetap mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah, meskipun dengan begitu mungkin masalah akan terselesaikan dengan lebih mudah. Namun harga diri yang masih membuat mereka bersi kukuh dengan pendapat masing-masing. Keduanya sama-sama tidak mau dianggap mudah.

“Memangnya kenapa? Kenapa aku tidak boleh keluar dengan temanku sendiri? Kenapa kamu jadi posesif seperti ini sih?”

“Posesif? Yah!! Aku hanya memperingatkanmu sekali dan kau bilang aku posesif??”

Teriakan demi teriakan bergema didalam ruangan itu. Semula hanya karena hal kecil yang mungkin bisa di maklumi, kini berkembang menjadi jauh lebih besar. Si perempuan berteriak, dan laki-laki di hadapannya akan mengamuk dengan nada bicara yang lebih tinggi. Tak ada niat untuk saling bersabar, seperti apa yang biasanya selalu mereka lakukan.

Jhoa!! Kalau itu maumu, aku akan diam! Dan lihat saja, aku tidak akan berniat untuk menemuimu lagi! Silakan lakukan sesukamu! Kalau kau tidak mau dengan seorang pria yang POSESIF!!”

“BAGUS! PERGILAH! Aku tidak perduli denganmu lagi! PERGI!!”

BLAM!!

Suasana menjadi senyap. Tak terdengar lagi teriakan-teriakan, ataupun umpatan-umpatan ungkapan kekesalan dari siapapun. Gadis yang semula berdiri tegap itu, mulai lemas. Menatap kosong ke arah pintu keluar yang baru saja dibanting keras-keras oleh pria yang semula berada satu ruangan dengannya. Hatinya begitu sakit, matanya terasa sangat berat. Ia merasa sesak, ingin menumpahkan segalanya begitu saja. Namun rasanya ia tidak mampu. Ia kesulitan, hanya untuk mengeluarkan setitik air dari kelopak matanya saja ia tidak mampu. Membuat dadanya semakin sesak setiap detik waktu berjalan.

Gadis itu merosot jatuh. Terduduk di atas lantai kayu ruang tengah rumahnya. Memandang kosong ke arah lantai yang ia duduki. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Semuanya terlalu menyakitkan.

-라이트-

Sudah berkali-kali ia seperti itu. Menendang bagian bawah meja kerjanya disaat ia tidak tahu harus menuliskan apa didalam laporan kerjanya. Sesekali ia memukul permukaan meja dengan kepalan tangannya. Kalau ia tidak mengingat komputernya adalah properti kantor, mungkin benda itu sudah melayang sejak awal.

Ya! Berhenti seperti itu! Kau bisa mati kalau bos melihatmu berkelakuan seperti itu disini!” ujar Junhyung yang duduk satu ruangan dengannya. “Ingat, kita cuma magang disini, Lee Jinki! Magang!” lanjutnya mengingatkan.

Jinki berdecak, menghembuskan nafasnya dengan berat, kemudian memandang tajam ke arah layar monitor komputernya. Perasaan kesalnya yang kemarin masih bergelayut di hatinya. Padahal ia sudah ingin melupakannya. Ia pikir dengan berteriak untuk meninggalkan gadis itu, perasaannya tidak akan seperti ini. Tapi entah kenapa setiap teringat, ia malah menjadi semakin kesal. Rasanya seperti ingin membalikan meja, kemudian menendang tembok ruangan itu hingga rubuh. Namun yang bisa ia lakukan sekarang hanya menghembuskan nafasnya yang berat dan mencoba bersabar.

Pria yang duduk satu ruangan dengannya, teman magangnya, mendengus pelan. Ia tahu mereka belum akrab, tapi entah kenapa ia merasa harus melakukan sesuatu tentang ini. Junhyung tidak bisa diam saja melihat teman magangnya itu sampai ia benar-benar menghancurkan peralatan kerja di ruangan ini. Menutup semua pekerjaannya, ia bangkit berdiri.

“Lee Jinki, ngopi yuk!”

.
.

Masih mendengus dengan gaya yang sama, hanya berbeda lokasi dan suasana. Jinki menghirup kopinya sedikit, kemudian meletakkan gelas kopinya di atas meja di hadapannya. Duduk bersandar pada punggung kursi, menyilangkan tangannya di depan dada, kemudian memandang ke arah permukaan kopi hitam yang dibelinya. Kopi hitam.. sejak kapan ia menyukai benda pahit seperti ini? Kenapa ia tidak menekan tombol kopi yang lebih manis saat ia membeli tadi?

“Tenangkan dulu pikiranmu!” Junhyung membuka suara. “Aku memang tak tahu apa masalahmu, tapi kurasa.. kau memang harus menenangkan pikiranmu!” katanya.

Jinki seperti tidak peduli. Ia mungkin malah tidak mendengar apa yang dikatakan Junhyung padanya. Bahkan ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi pada apapun hari ini. Ini semua karena pertengkaran kemarin. Bisa dibilang sebagai pertengkaran paling besar yang pernah ia alami dengan Chaeyong. Paling besar. Karena ia tak pernah berteriak pada gadis itu sebelumnya, dan ia tak pernah mendengar gadis itu meneriakkan sesuatu dengan penuh emosi hingga kemarin. Ia merasa semuanya sudah berada diluar batas. Dirinya, dan Chaeyong.

Semuanya bermula saat ia melihat Chaeyong berjalan berdua dengan seorang laki-laki. Oke, sebenarnya itu adalah hal biasa. Gadis itu memang sering berjalan dengan laki-laki selain dirinya. Namun entah kenapa kejadian kemarin yang paling membuatnya.. cemburu?

Beberapa menit sebelumnya, ia menelepon gadis itu untuk memintanya bertemu setelah ia pulang bekerja, tapi gadis itu bilang ia sedang mengerjakan sesuatu di kampus. Jadi ia mengurungkan diri untuk bertemu. Namun kemudian, ia melihat Chaeyong berjalan berdua saja dengan seorang pria tinggi saat ia pergi untuk membeli sesuatu di super market. Entah kenapa perasaannya begitu campur aduk, pikiran negatif masuk begitu saja ke dalam kepalanya. Mungkinkah gadis itu telah membohonginya? Apakah gadis itu sudah berpaling pada pria lain? Entah mengapa pikiran buruk begitu saja bisa menginvasi isi kepalanya.

Kemudian hal itu terjadi. Malam itu juga, disaat Chaeyong berada di rumah sendirian, dan ia datang dalam keadaan marah. Tanpa mempedulikan apapun, ia seakan menuduh gadis itu bermain api. Ia tidak tahu apa yang merasuki dirinya sehingga ia bisa berteriak-teriak pada gadis itu. Dan begitulah bagaimana gadis itu juga berbalik berteriak padanya. Dengan yakin berkata jika dirinya tidak bersalah. Kemudian, begitu saja satu kata yang sangat tak disukainya keluar dari bibir gadis itu.

Posesif.

Benarkah aku posesif? Apakah kebebasan yang kuberikan padanya selama ini kurang? Ataukah memang ia sama sekali tidak bisa diatur? Jadi ia sama saja dengan wanita lain yang tidak aku sukai..?

Kemudian sesuatu terbersit begitu saja di kepalanya. Jadi salahkah aku telah menyukainya selama ini? Apa sebaiknya kami putus saja?

Jinki mendecakkan lidahnya. Junhyung bisa melihat mata Jinki berair, meskipun ia tidak tahu apa sebabnya. Pria dihadapannya itu menggigit bibir bawahnya, seperti tengah menahan sesuatu. Sepertinya masalah yang dihadapinya memang cukup berat.

“Ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk meringankannya?” tanya Junhyung basa-basi. Ia tidak bisa diam saja disini melihat seseorang yang hampir menangis tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya. Namun Jinki tidak memberikan respon yang berarti padanya. Ia hanya menunduk, menatap pangkuannya sendiri. Masih menahan sesuatu. “Pacarmu ya?”

Jinki mendongak sedikit, namun tidak menjawab apapun yang dikatakan Junhyung. Apakah masalahnya terlalu jelas bagi teman kerja yang belum begitu dikenalnya? Apakah semua orang yang memiliki masalah dengan kekasihnya selalu memiliki ekspresi seperti dirinya?

“Seorang pria menangis hanya karena dua hal! Satu, karena ibu mereka, dan dua, karena kekasih mereka.. jadi kusimpulkan, ini karena pacarmu!” ujar Junhyung tanpa peduli apakah Jinki akan menjawabnya atau tidak. Hanya sekitar satu minggu saja ia mengenal Jinki, sepertinya ia langsung tahu, Jinki bukanlah tipe yang mudah akrab dengan orang lain. Apa lagi untuk membeberkan masalahnya.

Ia menarik nafas berat, kemudian menghembuskannya sejenak, sebelum kembali mendengarkan kalimat yang diucapkan Junhyung padanya. “Jadi kalian bertengkar?” Jinki tak merespon, tapi tentu saja Junhyung sudah tahu itu. “Berpikirlah dengan kepala dingin! Beristirahatlah sejenak, jangan bersikap dalam keadaan lelah! Itu terlalu riskan!”

Jangan bersikap dalam keadaan lelah..?

Ia memang terlalu lelah akhir-akhir ini. Pekerjaannya menumpuk, magang dari pagi hingga malam hari, pulang dengan segepok pekerjaan yang harus ia selesaikan. Pekerjaan laboratorium proyeknya dengan dosen yang belum ia selesaikan, dan hal lain yang tidak bisa disebutkan semuanya. Membuatnya begitu lelah.

Jadi itukah yang membuatnya seperti kerasukan setan? Apakah karena lelah fisik dan pikirannya yang membuatnya berteriak asal kepada Chaeyong tanpa mau mendengarkan penjelasannya? Lalu apakah ini semua  adalah kesalahannya sendiri?

Jinki berdecak. Tapi jika Chaeyong tidak membohonginya seperti itu, kejadian kemarin tidak akan pernah terjadi kan?

Ia mendengus. Kenapa semuanya menjadi begitu berat?

-라이트-

Kenapa kali ini bersabar menjadi begitu sulit? Mengapa menyadarkan diri sendiri untuk memaafkannya menjadi begitu berat? Apakah memang semuanya sudah tidak dapat diperbaiki? Tapi.. bukankah ini terlalu cepat untuk mengakhiri hubungan?

“Choi Chaeyong!! Aigoo~ apa yang kau lakukan, hahh?? Kau mau menghancurkan dapurku??” Kibeom berteriak menyadarkan gadis itu dari lamunanya. Dengan cepat ia mengguyurkan semangkuk air yang ia ambil dari kran air diatas bak cuci piring, keatas kompor yang apinya sudah menyala begitu besar di hadapan gadis yang kini menatap dengan kaget ke arah kompor itu. Ia hampir saja membuat dapur Kibeom terbakar karena meletakkan panci plastik diatas kompor yang menyala.

“Kamu kenapa sih? Sana kau duduk! Biar aku yang meneruskannya!” teriaknya, mendorong gadis itu untuk duduk di meja makan, kemudian melanjutkan untuk merebus kue berasnya dan kembali ke hadapan temannya. Duduk di sisi meja yang lain.

“Kalian marahan ya?”

Chaeyong mendongak. Sesaat ia tampilkan senyum tipis yang dipaksakan. “Hah? Anieyo~!” katanya. Namun nada bicaranya tidak bisa membohongi Kibeom sama sekali.

Kibeom mendengus kesal. Ia mengerti gadis itu tak pernah mau membocorkan masalah yang terjadi diantara dirinya dengan Jinki. Semua itu adalah masalah yang harus diselesaikan sendiri oleh mereka, tidak boleh ada yang tahu, bahkan orang tua mereka. Namun Kibeom tidak mau mengerti untuk yang kali ini. Karena ia rasa masalah yang mereka hadapi terlalu besar untuk ukuran mereka.

“Aku ngerti apa yang ada diperasaanmu, Yong-ah! Sudah seperti ada ikatan batin di antara kita, dan kamu tidak bisa membohongiku begitu saja!” ujarnya. Daripada seorang teman, ia lebih mirip seorang ibu. “Ceritakan padaku!” Matanya yang tegas memandang ke arah Chaeyong, namun nada bicaranya mengesankan bahwa ia mengerti gadis itu. Ia bisa merasakannya. Mendengarnya membuat Chaeyong luluh begitu saja, dan mau menceritakannya pada sahabatnya itu.

Semuanya. Bagaimana ia tidak berbohong pada Jinki sama sekali. Ia memang berjalan bersama seseorang kemarin, dia Jeongshin, teman kampusnya yang sedang menjalankan satu proyek dengannya di satu mata kuliah yang mereka ambil bersama. Tugas kelompok yang diberikan dosen kepada mereka, membuat Chaeyong dan Jeongshin menjadi satu kelompok. Itulah mengapa mereka berdua mengerjakannya sampai malam. Dan karena rumah Jeongshin searah dengan rumahnya, maka mereka memilih untuk pulang bersama. Ia benar-benar tidak pernah berbohong pada Jinki sedikitpun.

Ia kesal karena Jinki tidak percaya padanya. Ia kesal karena Jinki tidak mau mendengarkannya. Ia kesal karena Jinki marah padanya. Dan ia kesal, kenapa semua ini bisa terjadi.

Sesaat, ia merasakan dadanya begitu sesak. Seperti ada ribuan jarum menyerbu dan membuat perasaannya begitu sakit. Tubuhnya sedikit menegang, memandang nanar ke arah Kibeom tanpa tahu harus bersikap seperti apa. Ia ingin berteriak, membanting semua yang ada dihadapannya. Atau paling tidak, ia ingin menangis keras-keras. Namun ia tidak dapat melakukannya. Bukan karena ia menahannya.. tapi memang ia tidak dapat melakukannya. Ia tidak bisa menangis. Sama sekali.

“Pergilah padanya, bicarakan ini baik-baik. Aku yakin ia akan mengerti..” ujar Kibeom padanya. “Aku tidak bisa bilang apapun. Karena masalah ini hanya kalian yang bisa menyelesaikannya. Ini hanya kesalah pahaman kecil, disaat kalian berdua sedang berada dalam keadaan lelah!” katanya.

Chaeyong mendesah pelan. Ia memandangi ujung meja tanpa mengerti untuk apa ia memandangi bagian itu.
“Turunkan egomu, meski kau tahu kau benar! Tapi mengerti Jinki hyeong sedikit juga tidak salah kan? Ia sudah mengerti dan bersabar denganmu terlalu banyak, Yong-ah! Kini kau yang harus mengerti dia!” Kibeom mengusap lengan atas Chaeyong dengan lembut. Menenangkannya. “Kamu ngerti kan?”

Berat, namun gadis itu mengangguk. Mungkin Kibeom benar, selama ini ia memang terlalu egois. Jinki sudah mengerti terlalu banyak. Ia bahkan tidak pernah memperlihatkan kekesalannya saat dirinya lebih memilih kepentingannya sendiri daripada Jinki. Ia tidak pernah protes meski Chaeyong sangat jarang, bahkan tidak pernah bersikap manis padanya. Bahkan Chaeyong tidak mau memanggilnya ‘oppa’ seperti apa yang dilakukan gadis lain. Mungkinkah ini titik balik dari kesabaran Jinki selama ini? Jadi ini juga karena kesalahannya?

Mungkin ia memang harus meminta maaf pada Jinki..

“Masih belum bisa nangis ya?” tanya Kibeom. Chaeyong hanya diam, mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba meredam perasaannya dengan cara lain selain menangis. Kibeom mengusap kepalanya cepat. “Heuhh.. Jinjja!” katanya dengan senyum di wajahnya, kemudian beranjak untuk memeriksa kue beras yang direbusnya.

-라이트-

Jinki berjalan menuju rumahnya dengan langkah gontai. Badan dan pikirannya terlalu banyak diperas hari ini. Setelah pulang dari tempat magangnya, ia harus ke laboratorium untuk mengecek sejauh mana progres dari proyeknya bersama dosennya itu berlangsung. Dan pukul sembilan malam ia baru bisa sampai di rumah dengan keadaan yang sangat lelah. Dan pikirannya belum bisa kembali lebih tenang meskipun banyak sekali pekerjaan yang bisa mengalihkannya.

Ia sudah sampai didepan pagar rumahnya, baru akan membukanya saat orang lain dari dalam membukanya disaat yang sama. Keduanya tersentak dan terdiam beberapa saat begitu mereka berdua bertemu muka.

“J-Jinki-ya..”

Jinki masih terdiam sebelum ia mampu mengeluarkan suaranya. “Chaeyong-a?”

.
.

Keduanya duduk didalam mini market yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Jinki, menghadap ke dinding kaca luar mini market dimana mereka bisa melihat jalanan diluar sana. Mereka tidak mau ibu Jinki tahu bahwa keduanya sedang ada masalah saat ini. Jadi satu-satunya jalan adalah mengobrol di tempat lain yang jauh dari keluarga mereka.

“R-ramyeon..?” Jinki menyodorkan ramyeon cup yang sedang diseduhnya ke arah Chaeyong. Gadis itu menggeleng pelan.

“Aku udah kenyang..” jawabnya datar.

Jinki hanya mengangguk pelan, kemudian menggeser posisi duduknya yang semula agak jauh dari Chaeyong, menjadi lebih dekat dengan gadis itu. Mereka duduk berdua dalam diam. Tidak satupun dari mereka mengucapkan sepatah katapun. Bukan diam seperti biasanya saat mereka bertemu, diam yang hangat. Kali ini keduanya begitu canggung, bisa dilihat dari ekspresi keduanya, bagaimana mereka berpikir harus memulai dari mana untuk berkomunikasi satu sama lain.

Hingga Jinki memilih untuk mengawali pembicaraan. “Kamu.. udah lama? Di rumahku?” katanya gugup.

“Oh.. begitulah..” Chaeyong menjawab begitu pelan. Mungkin jika Jinki berada sedikit lebih jauh, ia tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan gadis itu.

Suasana kembali hening. Jinki terus memandang ke arah tutup kertas ramyeon cup nya, sementara Chaeyong tak henti-hentinya membaca kalimat yang sama pada botol susu pisang digenggamannya. Sampai ia menyadari, ia tidak bisa terus seperti ini.

“J-Jinki-ya..” ia memanggil pria itu, membuatnya menoleh padanya sedikit. “A-aku tahu.. mungkin.. bagaimana mengatakannya..” Chaeyong menggigit bibir bawahnya. Tidak tahu bagaimana ia harus menjelaskan semua yang ada didalam perasaannya saat ini. Sampai ia hanya bisa mengucapkan satu kalimat pendek padanya. “Maafkan aku..” gadis itu menunduk. Entah mengapa setelah mengucapkannya, ia merasa sangat bersalah pada pria yang duduk di sampingnya itu. Ia tahu, dirinya telah begitu banyak bersalah pada Jinki.

Jinki tidak menjawab. Ia membiarkan gadis itu mengungkapkan apa yang ingin diucapkannya. Ia harus menyelesaikan ini, ia tanamkan ini di kepalanya.

“Maaf jika selama ini aku terlalu banyak menyusahkanmu.. seharusnya aku menyadarinya saat kau marah kemarin.. seharusnya aku tidak berteriak padamu.. seharusnya aku mendengarkanmu! Maaf.. aku terlalu.. egois..”

Luluh? Mungkin itu kata yang tepat.. ataukah mengerti? Entah. Namun Jinki merasa lebih baik setelah mendengar apa yang diucapkan gadis itu. Bukan karena ia merasa menang, tapi ia merasa masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dirinya dengan gadis ini.

“Aku juga .. mungkin karena aku terlalu lelah, jadi aku tidak bisa berpikir dengan benar..” Jinki berujar. “Aku juga bersalah, maaf ya!” katanya.

Ini lebih mudah dari yang mereka duga. Berpikir dengan kepala dingin, mencoba bersabar mendengarkan semuanya, kemudian mengerti dan memaafkan. Kenapa mereka tidak bisa melakukannya sejak awal? Hanya karena ego yang merasuki diri mereka masing-masing. Padahal semuanya begitu mudah, tidak membuat keduanya lelah, dan semua akan berakhir baik-baik saja. Yang mereka butuhkan hanya bersikap tenang.

Jinki tersenyum. Ia merasa begitu bodoh karena membiarkan emosinya meluap tanpa kendali kemarin. Ia tahu gadis di sampingnya juga merasakan hal yang sama. Hingga tidak dapat mendongakkan wajahnya yang menunduk semakin dalam.

Yah! Sudah selesai! Aku sudah memaafkanmu! Yah, kau..” Jinki merasakan bahu gadis itu bergentar saat ia menyentuhnya. Sesaat kemudian ia mendengar isakan pelan yang tertahan dari arah yang sama. “Kamu.. menangis?”

Suatu hal yang sangat langka terjadi pada gadis itu. Menangis, adalah hal yang ia tahu sangat sulit untuk dilakukan gadis itu meskipun sesuatu yang menyakitkan terjadi padanya. Namun yang tidak diketahui Jinki adalah, ada dua hal dimana Chaeyong bisa meneteskan air matanya tanpa kesulitan. Disaat seseorang yang ia sayangi tersakiti, dan saat ia merasa sangat bersalah pada orang lain.

Yah! Wae? Kamu sakit?” katanya. Menggoyangkan tubuh gadis itu pelan untuk memintanya mendongak. Gadis itu membuang wajahnya ke arah lain, mengusap airmatanya dengan lengan kemejanya. Ia tidak ingin Jinki melihat wajahnya yang menyedihkan. Ia tidak mau Jinki merasa kasihan padanya.

Namun yang ia temukan saat memandang ke arah Jinki adalah senyum yang begitu menyejukkan, bukan wajah yang menampakan rasa kasihan atau ekspresi yang tidak diinginkannya. Jinki membuatnya begitu tenang saat ini. Sangat berbeda dengan kemarin, saat keduanya sama-sama terbalut ego masing-masing.

Yah! Kau..” Jinki terkekeh geli sejenak, menatap wajah Chaeyong yang begitu kusut. Dan entah bagaimana kejadiannya, Chaeyong tidak begitu mengingatnya. Yang ia tahu, ia sudah berada didalam rengkuhan pria itu. Pria yang sangat disukainya itu. Sesaat kehangatan menjalari seluruh tubuhnya.

Ia merasakan tangan besar Jinki menepuk punggungnya pelan, menenangkannya. Sedangkan tangan yang lain mengusap pelan bagian belakang kepalanya lembut. Kepalanya terbenam di dada Jinki yang hangat. Sesaat ia merasakan kenyamanan yang luar biasa, entah kenapa. “Menangis saja yang keras, buang kekesalanmu! Tetap seperti ini agar orang lain tidak bisa melihatmu menangis, arrachi?” katanya. Seperti sebuah instruksi, air mata mulai mengalir di wajah Chaeyong, dan suara isakan bisa terdengar cukup keras di telinga Jinki. Membuatnya menyunggingkan senyum tipis di wajahnya, dan tidak berhenti menepuk punggung gadis itu pelan.

Mungkin tidak banyak yang bisa dijelaskan gadis itu, tapi ia tahu gadis itu sedang menyesali sesuatu. Ia tidak perlu mendengar banyak alasan untuk saat ini hanya untuk memaafkan gadis itu, karena ia bisa mengerti, ia tahu gadis itu begitu tulus meminta maaf kepadanya. Dan dirinya sendiri juga memiliki sesuatu yang harus dimaafkan oleh gadis itu. Seperti hubungan simbiosis, keduanya harus saling menguntungkan. Semua seperti sebuah pelajaran baginya, tentang dirinya sendiri, perasaannya, dan gadis ini. Egoisme yang begitu mudah berkembang menjadi emosi, namun bisa dikalahkan dengan mudah juga jika mereka bisa memahami arti kata ‘mengerti’ dan ‘bersabar’. Kemudian semuanya akan menjadi baik-baik saja. Semua akan berakhir indah.

Dan keduanya bisa menyadari bagaimana perasaan masing-masing, terhadap satu sama lain. Semuanya semakin mendewasakan hubungan mereka.

-END-

u_u

sangkyuu for reading~!!
comment juseyo~ ^^

-LIGHT-

2 comments: