Saturday, June 9, 2012

MONSTER

umh.. enjoy^^

MONSTER


Story by : LIGHT a.k.a C Dragon

Cast : Kwon Jiyong/ Drax (G-Dragon BIGBANG), Trac (TOP BIGBANG), Solar (Taeyang BIGBANG), Krimth (Daesung BIGBANG), Jey (Seungri BIGBANG)

Guest Cast : Song Naeun (A-PINK)

Rate : kira-kira sendiri

Genre : Fantasy

Length : ONESHOT

A/N : judulnya sama ama lagunya BIGBANG karena inspirasinya dari situ, cuma pengembangannya mungkin sangat keluar dari maksud lagu itu sendiri^^

============================== 

Sejak kapan aku menjadi seperti ini, aku pun tak mengingatnya..

Kulitku sepucat orang mati.. namun aku masih hidup. Aku tetap merasakan jantungku berdetak, darah mengalir didalam tubuhku, dan oksigen tak berhenti memenuhi paru-paruku. Tapi mereka memandangku seperti orang mati.

Hari ini malam bulan purnama. Rambutku yang biasanya merah kini memutih. Warna mata yang juga senada dengan rambutku, kini menjadi abu-abu. Kata mereka, itu karena aku adalah yang terpilih. Orang-orang itu membawaku pergi dari dunia yang seharusnya ku huni, ke tempat dimana orang-orang yang tampak sama anehnya denganku sekarang tinggal. Aku tidak terlalu mengerti untuk apa aku dibawa, tapi demi suatu hal, aku harus bersedia ikut dengan mereka.

Kini aku berdiri di ujung atap jam besar di dunia baruku, begitu seimbang hingga tak memerlukan pegangan apapun. Mataku mengitari ke seluruh tempat gelap dibawahku. Sangat berbeda dengan duniaku satu tahun yang lalu, disini sangat gelap, usang, dan menyeramkan. Sesaat aku rindu saat dimana aku bisa merasakan kehangatan seperti manusia lainnya. Lagi-lagi aku menyesal aku ikut dengan mereka kemari.

“Kau melamun lagi?” sebuah suara mengagetkanku. Aku tak menoleh, kubiarkan mataku menatap kedepan, kearah bulan besar yang memantulkan cahaya bintang di sekelilingnya. Aku tak menjawabnya juga. Kupikir dia pasti sudah tahu jawabannya. “Jiyong-a..”

“Kau memanggilku dengan nama itu?” celetukku. Sudah sangat lama setelah aku mendengar nama itu. Biasanya mereka akan memanggilku Drax, nama yang mereka berikan untuk orang terpilih ini.

Tanpa melihatnya aku tahu dia tersenyum. Ia terbang di sampingku, mantelnya berkelebat terkena angin, seperti rambutku yang berwarna pucat ini. “Bersyukurlah aku mengingatkan nama aslimu. Aku dan yang lain sudah lupa dengan nama kami sebelum datang kemari..” jawabnya. Aku tahu bukan aku saja orang baru yang datang kemari. Mereka juga, namun lebih dulu dariku. Aku tersenyum simpul. Tak menanggapi apa yang dia katakan. “Mau mengunjunginya?”

Untuk kali pertamanya aku menoleh. Pria berambut hitam ini memandang lurus kedepan. Aku tahu apa yang dimaksudkannya, namun tak tahu apakah aku bisa kesana. “Sudah satu tahun, tapi aku yakin ia belum melupakanmu!” katanya lagi, kini kedua matanya yang berbeda warna itu memandang ke arahku. Tidak bermaksud tampak galak, tapi tatapannya benar-benar tajam.

Aku mengembalikan pandanganku ketempat semula. Lama-lama rambut ini rasanya mengganggu pandanganku! Aku lebih suka saat aku jadi merah, itu kenapa aku benci bulan purnama. Mungkin, hanya salah satu alasan aku membencinya.

“Aku akan mengantarmu kalau kau ingin..” katanya lagi. Aku tak menjawab. Kudengar ia menghela nafas pendek sebelum mengucapkan sesuatu. “Tapi kurasa lebih baik kalau kau pergi sendiri!”

“Apa.. ini tak apa?”

“Asal tidak ada manusia yang melihatmu dan membuat kegaduhan karenanya, tidak masalah!” jawabnya. “Akan kujaga gerbangnya untukmu! Kau harus kembali dalam 3 jam! Bagaimana?”

Kupertimbangkan usulannya. Mungkin aku harus mengambil kesempatan ini. Kuanggukan kepalaku cepat. Ia anggukkan pelan kepalanya ke samping. “Ayo!” katanya, kemudian terbang mendahuluiku. Aku melompat dari atap jam besar itu ke atap lain di bawahnya, kemudian melompat lagi ke atas atap-atap dan bangunan lain disana seolah mengejar pria yang terbang mendahuluiku itu. Hingga kami sampai di sebuah gerbang yang memisahkan antara duniaku yang sebelumnya, dengan duniaku yang sekarang, yang dianggap manusia biasa hanya sebuah fantasy. Namun ternyata benar-benar ada.

Pria itu turun dan berdiri di sebelahku, kami berada tepat di depan gerbang yang nampak seperti portal itu. Aku memandang ke arahnya. “Trac..” ujarku memanggilnya.

“Pergilah, dan kembali setelah 3 jam! Aku akan menunggu disini!” katanya. Entah mengapa dari awal aku merasa dia terus berada di pihakku.

Aku tersenyum kecil. “Gomawo..”

“Oh! Kau mulai bicara seperti setahun yang lalu!” ia terkekeh, entah apa yang lucu. Tapi yang aku lakukan juga terkekeh sepertinya. “Sampaikan salamku padanya!”

Arraseo!” kataku lagi, meski aku tak yakin aku akan benar-benar menyampaikan salamnya. Aku keluar melalui portal kemudian, menuju ke dunia yang kurindukan itu. Kehidupanku yang sebelumnya. Untuk menemui seseorang yang kutinggalkan karena alasan bodoh yang hingga sekarang pun tak bisa masuk didalam akalku.

#FLASHBACK


Emosi memuncak melebihi batas normal, laki-laki 23 tahun itupun berubah menjadi merah. Rambut dan matanya berwarna merah seperti api. Tanduk muncul di salah satu bagian kepalanya. Muncul sedikit guratan hitam dibeberapa bagian wajahnya. Matanya menyala merah tajam. Rasa panas segera dirasakan oleh orang disekelilingnya begitu ia berubah tanpa dirinya sendiri menyadarinya.

“D-d-d-dia mo-nster!” pria seumurannya yang semula bertengkar dengannya melangkah mundur ketakutan. Jiyong sendiri tak mengerti kenapa pria yang tadinya meninjunnya kini berjalan mundur menjauhinya. Jiyong bangun, membersihkan dirinya dan tak sengaja menemukan bayangannya di sebuah genangan air yang berada tepat dibawahnya. Ia mulai berubah lagi. Saat emosinya memuncak, ia akan berubah wujud. Satu hal yang ia takutkan untuk terlihat didepan orang lain. Melihat dirinya berubah, emosinya sesaat mulai mereda, namun wujud itu masih belum hilang dari dirinya.

Suara langkah kaki cepat terdengar menjauh. Orang itu berlari pergi ketakutan. Namun Jiyong tak tertarik untuk melihatnya, ia lebih tertarik melihat dirinya sendiri dari pantulan bayangannya. Meski sebenarnya sudah sejak 10 tahun yang lalu ia mengalaminya. Tapi makin lama ia merasa keadaan ini semakin parah. Ia semakin sering merasakan perubahan pada dirinya.

Namun lamunan dan pikirannya tak berlangsung lama, saat ia mendengar seseorang menginjak genangan air dibelakangnya. Jiyong menoleh cepat. Didapatinya seorang gadis memandanginya dengan tatapan takut, setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia sudah cukup lama berada disana, cukup lama untuk melihat Jiyong yang ia kenal berubah menjadi makhluk dengan mata merah menyala.

“Naeun-a..” panggilnya. Gadis bernama Naeun itu tak bergeming. “Song Naeun..” Jiyong memanggilnya lagi. Suaranya begitu depresi, pikirannya penuh dengan bagaimana Naeun tak bisa menerima keadaannya nanti. Gadis itu masih tak bicara apapun. Seperti membatu di satu tempat dan memandangnya ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca. Dan sesaat kemudian, ia mulai mundur, kemudian berlari pergi meninggalkan Jiyong disana.

Seiring dengan perginya Naeun, Jiyong mulai kembali seperti semula. Kembali menjadi manusia biasa tanpa hawa membunuh yang mengelilinginya. Jiyong terjatuh di atas lututnya, badannya limbung kedepan, dan kedua tangannya menopangnya. Membuatnya sekali lagi bisa melihat bayangannya dari genangan air itu. Kini ia mengenali dirinya lagi, namun batinnya masih berkecamuk. Tak terima dengan apa yang dialaminya.

*

“Song Naeun..”

Mendengar namanya dipanggil Naeun menoleh segera. Ia membatu sesaat, mendapati siapa yang memanggilnya dari belakang. Kwon Jiyong. Kekasihnya. Tapi bukannya terlihat senang, Naeun lebih tampak ketakutan. Matanya terbelalak cukup lebar, dan pelan ia berjalan mundur selangkah demi selangkah, menjauhi Jiyong yang tak bergerak dari tempatnya semula.

Wae? Kau takut padaku?” Tanya Jiyong.

Naeun tak menjawab. Berhenti melangkah pergi adalah satu-satunya reaksi yang diberikannya setelah Jiyong membuka suara lagi.

“Naeun-a.. kau membenciku karena ini?” Tanya Jiyong. Naeun masih tak merespon. “Naeun-a.. aku bukan monster seperti apa yang kau pikirkan!” sedikit demi sedikit emosi Jiyong naik. Kini kilatan merah mulai nampak di salah satu bola matanya. Naeun mundur selangkah lagi menjauhinya.

“Kau mau kemana, Song Naeun??” Jiyong sedikit berteriak. Ia tak peduli sekarang ia berada didalam perpustakaan. Ia hanya ingin Naeun berkata sesuatu padanya. Gadis itu berjalan mundur selangkah lagi, kemudian berbalik dan hendak berlari. Jiyong mulai bergerak. Hanya beberapa detik saja ia dapat meraih lengan gadis itu dan menariknya berhenti. Gadis itu berbalik dan mendapati emosi Jiyong sudah memuncak. Ia lihat bagaimana Jiyong berubah menjadi merah seperti yang dilihatnya sehari yang lalu.

Jiyong melihat bayangannya di bola mata Naeun. Ia menyadari dirinya baru berubah lagi. Sudah semakin sering ia mengalaminya akhir-akhir ini. Hanya sedikit saja emosinya disulut, dan dia akan berubah. Menyadari itu ia mulai meredakan amarahnya. Dan semuanya kembali seperti semula.

Jiyong melepaskan genggaman tangannya, memandang ke lantai, mencari cara yang tepat untuk menceritakan ini pada gadis itu.

“Kau ini sebenarnya siapa?” Naeun akhirnya bicara. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya. Saling mendorong untuk keluar. Namun Naeun menahannya. Tak tahu alasannya, namun ia tidak ingin menangis saat ini.

Jiyong kembali mengarahkan pandangannya pada Naeun. “Maafkan aku tak pernah memberitahumu tentang ini..” Jiyong menarik nafas sejenak. “Aku takut kau akan meninggalkanku karena ini..”

Naeun tidak menjawab. Ia membiarkan Jiyong menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya. “Sejak entah kapan aku tak bisa mengingatnya, aku selalu mengalaminya.. saat emosiku mulai naik, dan marah, aku akan menjadi makhluk merah itu.” Jiyong tak melihat wajah Naeun. Ia takut ia tak bisa menceritakannya. “Aku juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi semakin lama aku jadi semakin sering berubah, bahkan hanya karena emosiku sedikit terusik.. aku..”

Jiyong memandang ke arah Naeun. Matanya berkaca-kaca. Sama seperti Naeun, ia mati-matian menahan air matanya untuk jatuh. Ia menundukkan kepalanya, menatap ke lantai. “Aku tak tahu lagi siapa aku..” Jiyong terisak. “Kenapa aku, Naeun-a!”

“O-oppa..”

Wae?” Jiyong terisak makin keras. Ia terjatuh berlutut, satu tangannya memegang tangan Naeun, seolah menopang tubuhnya yang melemah. Air mata Naeun terjatuh pada akhirnya, membasahi pipinya. “Kau membenciku.. aku menakutkan.. aku m-mons-ter..”

Tangan Naeun yang tak dipegang oleh Jiyong melingkar di lehernya. Sedikit menunduk, Naeun memeluk Jiyong erat, menenangkannya, juga menenangkan dirinya sendiri. Berharap dirinya bisa menerima Jiyong meski kondisinya yang aneh.

Gajima..” Jiyong berbisik. “Mianhae..” Naeun tak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya, membiarkan Jiyong menghabiskan airmatanya di bahunya. Setelah ini ia harus bisa menerimanya, seperti tak pernah tahu apa yang terjadi dengan bocah laki-laki itu.

*

Pintu sebuah apartemen terdengar terbuka, kemudian tertutup. Seorang laki-laki muncul kemudian. Setelah melepas sepatunya, ia masuk kedalam rumah dan bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia membuka kenop pintunya, tanpa menyalakan lampu kamarnya terlebih dahulu, ia masuk dan meletakkan tasnya di atas meja belajarnya.

“Kenapa tak dinyalakan dulu lampunya?” sebuah suara muncul dari arah belakang. Laki-laki itu tersentak. Dari suaranya, ia merasa itu bukan suara temannya, ia tak mengenalinya. Juga bukan Naeun karena itu suara seorang pria. Ia terdiam sebentar, mencoba berpikir bahwa ia hanya berhalusinasi. Tak mungkin ada orang bisa masuk kedalam kamarnya sembarangan.

“Solar hyeong! Hidupkan lampunya! Aku tak bisa melihat apapun!”

TAK!

Lampu pun menyala. Jiyong tahu dirinya tak berhalusinasi saat ini. Ia juga tahu dirinya sedang tidak bermimpi. Namun ia merasa takut untuk mengetahui siapa yang ada di belakangnya sekarang.

“Kau cerewet!” salah satu yang lain bicara, kemudian terdengar suara rintihan dari orang yang rebut sejak tadi. Mungkin seseorang baru memukulnya dengan sesuatu.

“Kau Kwon Jiyong?” salah seorang yang bersuara berat bicara padanya. Jiyong berbalik cepat, mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya. Dilihatnya 4 pria dengan kostum aneh-aneh dan tatanan rambut yang sama anehnya dengan kostum mereka.

“K-kalian.. s-sia-pa?” Tanya Jiyong terbata.

“Hei, aku Jey..” pria bermata ungu yang duduk bersila di atas ranjang Jiyong menyapa sok akrab, namun pria berambut Mohawk acak-acakan yang berdiri di belakangnya memukulnya dengan buku yang sejak tadi di bacanya.

“Kami kemari untuk menjemputmu ikut dengan kami!” pria berambut putih menjawab Jiyong walaupun sedikit nggak nyambung dengan pertanyaannya. Jiyong tak menjawab, masih terpana dengan makhluk-makhluk di hadapannya itu. Mereka sama seperti dirinya saat mengalami perubahan. Namun ia tak ingin mengakui ia sama seperti mereka.

“Dunia kami membutuhkanmu, Drax! Kami sudah menunggu selama 23 tahun untuk menjemputmu kembali..” pria dengan mantel yang berdiri paling dekat dengan Jiyong bicara kembali. Ia pria yang bersuara berat itu.

“Drax? Kembali? Apa..?”

“Kau itu Drax, bagian dari kami! Kau bukan milik dunia ini! Kau bukan Kwon Jiyong seperti yang kau tahu!” Pria dengan mantel itu menjawab. “Dan kau adalah yang terpilih..”

“Terpilih?”

“Susah menjelaskannya padamu! Pokoknya kau harus ikut dengan kami!” si Jey itu bicara lagi seraya turun dari kasur Jiyong, dan kini berhasil menghindar dari pukulan pria Mohawk itu, namun tidak dengan lemparan pria dengan mantel hitam di depannya, membuatnya meringkuk di lantai kemudian karena kesakitan.

Jiyong sebenarnya tahu apa yang mereka maksudkan. Ini tentang ‘makhluk lain’ yang ada pada dirinya itu. Tapi ia ingin berpura-pura tidak tahu. Ia tidak mau pergi dari dunia ini. Ia merasa ia adalah manusia biasa yang memiliki keistimewaan saja. Tapi bagaimanapun juga dari dalam hatinya ia tahu ia sama dengan keempat orang ini.

“K-k-kalian pasti salah orang! Pergi-lah! Bukan aku yang kalian cari!” Jiyong mencoba tidak peduli. Ia mendekat ke arah pintu, meraih knop pintunya kemudian membukanya. Namun sebelum ia sempat keluar dari sana, pintu itu terbanting menutup sendiri. Entah siapa yang melakukannya, yang pasti ada di antara keempat orang itu.

Jiyong menoleh menatap mereka semua. “Sorry!” si rambut Mohawk itu yang melakukannya, dan dia meminta maaf.

“Apa yang kalian inginkan?” Jiyong berteriak. Keempatnya tak menjawab. Hanya diam disana sambil tersenyum dan melakukan kegiatan masing-masing dengan barang-barang milik Jiyong. Ia melihat si rambut Mohawk itu membaca-baca buku catatannya, dimana ia sering menuliskan ide-ide dan perasaannya disana. “Turunkan buku itu!! Tak ada seorangpun yang boleh membacanya!!” Emosinya lepas, dan Jiyong berubah merah seketika. Mereka tersenyum. Ini yang mereka tunggu sejak tadi.

Jiyong menyadari ia tengah memperlihatkan bukti yang seharusnya tak boleh ditampakkannya pada mereka. Emosinya menurun, dan ia kembali lagi. Tapi ia sudah terlanjur memberikan bukti bahwa ia sama dengan mereka. Jiyong tak bisa mengatakan apapun. Kakinya lemas tiba-tiba, membayangkan bagaimana ia akan dibawa oleh orang-orang itu nanti.

“Aku hanya ingin menjalankan tugasku, untuk menyelamatkan duniaku, juga dunia yang kau tinggali ini dengan membawamu pergi!” pria dengan mantel itu mulai menjelaskan sesuatu lagi tanpa ditanya. Ia meletakkan kotak musik yang semula di pegangnya kembali ke atas lemari pendek di sebelahnya. “Kau akan sepenuhnya menjadi seperti kami, Drax! Kau tak akan melihat Kwon Jiyong didalam dirimu nanti! Dan kau akan membahayakan duniamu jika kau tetap berada disini!”

“AKU TIDAK AKAN! AKU KWON JIYONG! BUKAN DRAX! DAN AKU TIDAK SEPERTI KALIAN!!” Jiyong mulai berubah merah kembali. Emosinya meluap. Kini mereka merasakan hawa sangat panas melingkupi mereka. Si rambut putih mendekat ke arah Jiyong, kemudian meninjunya hingga Jiyong tersungkur di lantai.

“Krimth!!” tiga orang yang lain berteriak.

“Maaf, kalau aku tak melakukannya, dia akan membakar kita nanti!” jawabnya.

Pria dengan mantel itu menghela nafas pendek, memandang Jiyong dengan tatapan tajam. Tak bermaksud menakutinya, tapi kilatan matanya yang berbeda warna itu membuat siapa saja yang melihatnya merasa terintimidasi meski pria itu tak bermaksud melakukannya. “Kami tak akan membawamu hari ini! Aku tahu sekali kenapa kau tidak mau ikut dengan kami! Kami akan kembali lagi saat malam bulan purnama! Kau harus mau ikut dengan kami!” katanya pada Jiyong.

Mereka terdiam menatap Jiyong yang masih emosi. Pria dengan mata ungu bernama Jey meletakkan headphone Jiyong yang dimainkannya kembali ke meja, dan mendekati pria Mohawk itu. Setelah tersenyum kecil, satu persatu dari mereka menghilang disertai kilatan cahaya putih yang membuat Jiyong tersentak. Orang-orang itu baru menghilang dari kamarnya. Emosi Jiyong kembali turun. Ia kembali menjadi Jiyong. Namun ia tak merasa dirinya benar-benar seorang Kwon Jiyong sekarang. Meski ia menolak habis-habisan bahwa ia tidak seperti orang-orang itu.

*

Song Naeun tak tampak di area pandang Jiyong akhir-akhir ini, bahkan di hubungipun ia tak membalas. Saat Jiyong datang kerumahnya pun Naeun selalu tak ada disana. Tanpa memberi kabar pada laki-laki itu Naeun seperti menghindarinya. Jiyong khawatir ini karena Naeun telah berubah pikiran. Ia takut Naeun menjauhinya karena ia berubah menjadi monster sekarang. Ia mulai khawatir, pikirannya penuh ketakutan.

Jiyong mengacak rambutnya asal, namun tak membiarkan emosi melingkupinya. Ia takut akan berubah lagi. Dan sesaat ia dengan ringtone ponselnya berbunyi. Dengan cepat Jiyong meraihnya. “Naeun?” ekspresi gembira terpancar dari raut wajah Jiyong. “Yo! Naeun-a! Kau kemana saja? Bogosipuda..”

“Malam ini termui aku di tempat biasa! Aku ingin bicara dengan oppa!” Naeun menjawab tanpa menunggu Jiyong menyelesaikan kalimatnya.

Ne?”

“Datang saja, aku menunggumu!” katanya kemudian telepon diputus oleh Naeun. Jiyong memandangi layar ponselnya. Ia tahu sesuatu yang menyakitkan akan terjadi nanti. Jiyong memandang ke langit. Hari ini adalah hari dimana orang-orang itu akan menjemputnya lagi. Malam bulan purnama. Hari yang ia takutkan akan terjadi hari ini.

*

“Naeun-a! Kita nonton yuk!” Jiyong berusaha tidak peduli dengan pikiran buruknya, dan menyerukan itu begitu Naeun dating dan duduk di hadapannya, terhalang meja. Mereka duduk di sebuah café, dimana mereka biasa membuat janji. “Aku pengen nonton MIB 3! Yuk!”

Oppa!” ekspresi Naeun tampak dingin, cukup dingin untuk mampu membekukan Jiyong dan sedikit melunturkan senyumnya. Dan kekhawatirannya memuncak karena itu. “Aku ingin.. kita selesai disini saja..”

“H-he? Maksudmu?” bukannya Jiyong tak mengerti, ia hanya terlalu takut untuk menyadarinya sendiri.

“Kita selesai oppa! Putus!” katanya.

“M-mwo..” bibir Jiyong bergetar, rasanya tak sanggup mengatakan apapun saat mendengar kalimat itu mengalir dengan gampang dari bibir Naeun. “K-kau bercanda kan?”

Ahniyo!” jawab Naeun cepat. Tak ada ekspresi di wajahnya. Benar-benar dingin, tak seperti Naeun yang biasa dilihat oleh Jiyong. “Oppa terlalu menakutkan bagiku! Aku tak bisa menerima oppa seperti ini.. Mi..” namun sebelum Naeun menyelesaikan kalimatnya, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kini ia tampak ragu, namun sesaat kemudian ia mendapatkan kembali ketegasannya dan kembali menatap dingin ke arah Jiyong.

“W-wae..” Jiyong tak benar-benar membutuhkan jawabannya karena ia rasa ia sudah tahu kenapa. Ini lebih kepada kenapa Naeun tiba-tiba melakukannya tanpa tanda apapun sebelumnya.

Naeun berdiri, merapikan baju dan tas selempangnya. “Aku pergi.. Annyeong!” katanya dingin dan bergegas pergi.

Jiyong mematung, kemudian memandang ke arah dimana menghilangnya Naeun. Ia masih tak bisa menerimanya. Ia tak mau Naeun pergi darinya. Ia masih mencintai Naeun, dan tak terbersit sedikitpun pikiran bahwa ia ingin meninggalkannya. Jiyong melompat berdiri kemudian mengejar Naeun. Ia mendapati gadis itu tengah berjalan pelan meninggalkan café. Belum begitu jauh. Jiyong mempercepat langkahnya, “Naeun-a!” panggilnya. Namun gadis itu tak meresponnya sedikitpun. Hingga Jiyong meraih pundak gadis itu dan membuatnya berbalik, kemudian memeluknya erat hingga ia tak bisa melihat bahwa Naeun sedang menangis. “Naeun-a.. gajima..” katanya pada Naeun. Namun gadis itu tak bisa menjawab. Ia meredakan tangisnya sendiri, sibuk berpikir bagaimana agar ia tidak tertangkap Jiyong bahwa ia baru saja menangis.

“Lepaskan aku!” Naeun berontak setelah berhasil meredakan tangisnya. Setelah dengan susah payah, akhirnya Jiyong melepaskannya.

“Naeun-a..”

“Berhenti mengejarku! Aku sudah tidak mencintai oppa lagi!!” Naeun membentak. Jiyong membeku. Ia tak pernah melihat Naeun seperti ini. Apa yang membuatnya menjadi seperti Naeun yang tak pernah dikenalnya. “Aku pergi!” katanya, dan ia benar-benar pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Jiyong melemah. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Pikirannya buntu. Mungkin jika ia harus mati hari ini ia sudah tak peduli lagi. Naeun sudah meninggalkannya. Satu-satunya yang dimilikinya setelah tak ada satupun keluarga di dekatnya.

Tiba-tiba saja emosi Jiyong memuncak. Ia hendak meluapkannya, namun ia terus menahannya. Tidak ingin berubah menjadi monster di hadapan umum. Namun sepertinya usahanya itu sia-sia saja. Bulan purnama itu memperkuat 'makhluk lain' di dalam dirinya itu untuk muncul. Namun, bukan warna merah yang muncul, melainkan putih. Rambut Jiyong berubah putih keabuan, kulitnya memucat seperti mayat, tak terlihat sedikitpun tanda-tanda adanya darah didalam tubuhnya. Saat Jiyong membuka matanya, terlihat kilatan abu-abu disana. Dan di sekelilingnya tak lagi panas, melainkan menjadi sedingin es. Genangan air bekas hujan di samping kakinya membeku sedikit demi sedikit. Emosinya terlalu besar. Dan jika ia meluapkan amarahnya, ia akan membekukan seluruh kota, dan bisa merembet ke seluruh dunia. Ia tak tahu bahwa kekuatannya begitu besar. Alasan orang-orang aneh itu mengatakan bahwa ia adalah orang yang terpilih.

Dan di saat itulah orang itu kembali. Sebelum Jiyong bisa membekukan area yang lebih besar. Pria dengan mantel itu berdiri tepat dihadapannya. Jiyong mendongak, namun ia tak terkejut melihat pria itu tiba-tiba ada disana. Pikirannya terlalu terarah pada Naeun dan emosinya, terlalu penuh untuk terkejut.

“Kita pergi Drax?” pria dengan mantel itu bicara. Suara beratnya menggema di telinga Jiyong. “Sebelum kau sempat membekukan semuanya..” ia menjejak bongkahan es yang sudah terbentuk di samping kaki Jiyong hingga pecah. “Kau lihat? Jika kau tidak pergi, kau bias membakar semuanya, juga membekukannya! Tapi itu tidak akan terjadi di dunia kami!” jelas pria itu tanpa diminta. Ia menepuk bahu Jiyong. “Dan kami membutuhkan kekuatanmu, Drax!”

Jiyong menatap pria dihadapannya sejenak, dan entah bagaimana airmatanya jatuh begitu saja. Menetes sebagai air saat keluar dari matanya, namun menjadi bongkahan es kecil saat terjatuh ke tanah. “Ayo!”

Tanpa memberontak Jiyong mengikutinya. Seperti sudah tak ada gunanya lagi ia berada disini. Pria itu memegang salah satu bahu Jiyong, pelan ia membawa Jiyong naik ke udara dengan wujudnya yang masih putih. Perlahan semua benda di tanah yang dibekukan Jiyong kembali seperti semula. Bongkahan es itu kembali menjadi genangan, dan butiran es bekas air hujan yang membeku itu kembali mencair.

“Ngomong-ngomong, aku Tracio! Panggil aku Trac saja!” ujar pria itu. Namun Jiyong tampak tak tertarik dengan itu. Pikirannya masih melayang pada Naeun. Dan sesaat kemudian, mereka menghilang dari pandangan, disertai kilatan cahaya tak terlalu terang di udara.

“Mereka sudah pergi!” Jey si pria bermata ungu itu bergumam, sementara Krimth yang berambut putih dan Solar si Mohawk ikut mengawasi bagaimana kedua orang tadi menghilang.

Solar mengalihkan pandangannya dari atas ke arah gadis yang berdiri bersandaran pada tembok bangunan di belakangnya. “Terima kasih sudah merelakannya untuk kami, Song Naeun!” katanya sambil menepuk gadis itu untuk menenangkannya. Mengetahui bahwa Jiyong sudah menghilang, Naeun terisak semakin keras. Ia tahu bahwa ia akan begini sakit saat Jiyong meninggalkannya, tapi ia tetap melakukannya juga demi melindungi dunia ini dan karena permintaan mereka. Orang-orang aneh itu, yang memintanya melepaskan Jiyong tiga hari yang lalu.

“Ayo pergi hyeong!” Jey angkat bicara.

“Bisakah kau tak bicara seperti manusia?” Tanya Krimth padanya.

“Aku suka, hyeong! Memang kenapa?”

Solar menempeleng kepala Jey. “Sudah! Ayo pergi!” katanya, kemudian menghilang lebih dulu, diikuti Krimth. Namun Jey tetap disana.

“Tenang saja, kami akan menjaga D.. maksudku, Kwon Jiyong itu. Jangan khawatir!” katanya. Menepuk Naeun sejenak, kemudian ikut menghilang diikuti cahaya ungu tipis setelahnya. Naeun hanya bisa terisak lebih keras lagi menyadari semua yang dialaminya ini benar-benar nyata. Ia terperosot duduk, membenamkan kepalanya dalam lipatan tangannya, dan menangis sejadi-jadinya. Ia tidak benar-benar merelakan Jiyong pergi.

#FLASHBACK END

Baru beberapa menit sejak aku pergi, aku tak tahu mengapa Trac mau menjaga portal itu untukku. Tapi aku senang kenal dengannya. Dia orang yang baik. Tak lama setelah melompati portal itu, aku segera sampai di sebuah tempat yang sangat aku kenal. Aku senang belum melupakan tempat ini. Disini sudah malam, seperti di duniaku. Bulan purnama besar juga menghiasi langit kota ini. Namun bukan itu yang ingin aku lihat. Aku ingin mencari seseorang.

Dengan melompati atap-atap rumah ini aku berlari ke suatu tempat, kemudian turun setelah kurasa aku sampai disana. Di tempat ini. Dimana terakhir kali aku melihatnya. Dan kini aku melihatnya lagi. Song Naeun.

Aku memandanginya, ia tengah mengobrol dengan seseorang, entah siapa. Ia masih tampak seperti dulu. Ia tidak berubah sedikitpun, selain rambutnya yang sepertinya lebih panjang dari satu tahun yang lalu. Apa ia tak pernah memotongnya?

Yang kulakukan sejak datang adalah memandanginya dari depan bangunan café itu. Dari dinding kacanya aku bisa memandanginya dengan leluasa. Hari ini café itu tak begitu ramai, seperti biasanya. Itulah mengapa aku suka menghabiskan waktu disini dengan Naeun. Karena tak terlalu bising. Kecuali suara mesin kopi dan lagu yang mereka lantunkan didalam café itu.

Kulihat ia tersenyum kecil, begitu manis, kemudian menyesap minumannya yang berada di cangkir putih di atas meja di hadapannya, dan sesaat pandangannya mengitari sekelilingnya, dan berhenti padaku. Aku tak yakin ia mengenaliku dengan wujud anehku ini. Tapi dari caranya memandangku dan bagaimana ia sekarang, aku sedikit yakin ia tahu siapa aku. Dan matanya mulai berkaca-kaca. Kini aku yakin seratus persen ia tahu siapa sosok aneh ini.

Namun orang didepannya itu mengajaknya bicara, dan membuatnya mengalihkan perhatiannya. Aku memang tak berharap bisa bertemu dan bicara dengannya. Sekedar melihatnya seperti ini saja sudah cukup bagiku. Mungkin jika aku nekat menemuinya, aku tidak akan sanggup kembali ke duniaku lagi.

Saranghae..” tanpa sadar aku berbisik, dan bulir-bulir es mulai jatuh setelah keluar dari mataku sebagai cairan. Aku sadar emosi ini bisa membekukan yang lain jika aku berada disini terlalu lama. Ini belum tiga jam, tapi sebaiknya aku kembali, sebelum aku membuat hidup Naeun berantakan karena musibah yang disebabkan oleh kekuatanku.

Entah Naeun masih melihatku atau tidak setelah aku pergi. Mengetahuinya baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Dan ternyata, aku masih mencintainya. Perasaan ini benar-benar belum berubah sampai saat ini.

*

“Ini belum 3 jam, Drax!” ujar Trac begitu melihatku sampai disana.

“Aku tak mau membekukan mereka..” aku terkekeh sendiri, Trac juga. Padahal kurasa tak ada yang lucu dari jawabanku. Malah sebenarnya menakutkan.

Trac memandangku, tak menanyakan apapun. Tapi aku tahu maksudnya. “Sudahlah, kita kembali saja! Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan!” Alibiku.

“Aku yakin kau masih punya perasaan padanya!” katanya.

Yah, tak usah perlu di perjelas lagi kan?

“Sudah diam! Yang lain sudah menunggu kita!” aku mengalihkan perhatiannya, dan dengan cepat melompati gedung-gedung itu. Aku tak melihatnya, tapi aku tahu ia pasti menyunggingkan senyum mengejekku, dan dengan cepat ia segera terbang menyusulku. Menuju sebuah tempat dimana kami harus bertugas malam ini.

***END***

gatau lah~ hahaha

-Keep Shine Like HIKARI-

4 comments:

  1. Replies
    1. iklan acara TV lo? hahaha
      thx btw.. beneran gaada yang kurang-kurang?

      Delete
  2. hmm~ gini yah~ ini cerita kbnykan "pedih"ny.. Pas flashbackny guw sih ngarepny lw msh menceritakan tentang masa2 pacaranny si naeun sama drax hahai.. Trus guw jg ngarepny mreka unjuk jurus2 monsterny .. Emang aneh sih.. Kan cm tau si jidi bsa panas dingin.. Nah yg lain gmana? Ente butuh imajinasi extra untuk ini.. Blajar sama spongebob *ga penting* haha..

    naeun udh pas bgt jd karakter ceweny.. Pas mutusinny ith lho yg jleb bgt.. Untung guw ga ikutan nangis.. *ngumpetin tisu*

    en 1 lg.. Pemilihan nama monsterny ith lho.. Dae sama riri yg brmasalah nih.. Namany seungri jd rada ngondek.. Haha~

    btw ini nice story dah~ recomended

    ReplyDelete
    Replies
    1. tp ak gamau nulis yg km pengenin.. :p
      kkk~ engga, masalahnya ak gamau kepanjangan klo mesti dari jaman mreka pacaran..
      ceritanya disini jiyong cuma nginget masa2 dimana dia ninggalin naeun gtu..

      nangis aja gapapa.. kkk

      ak bingung nyari nama yang agak aneh sebenernya, dan yang terlintas di kepala ya cuma itu, ya udah pake aja :p

      thx btw^^

      Delete