Saturday, October 1, 2011

I don't Understand [FANFIC] [3]

Mengawali oktober, akhirnya gw bisa apdet lagi~ >_<
nih cerita ga kelar-kelar gw tulis gegara gw suah kembali ke alam nyata dan menghadapi masalah yang nyata.. KULIAH!
yah~ pulang udah cape, jadi memilih tidur dari pada onlen..hehehe *curcol*

I don't Understand

Chukkahaeyo~!!!” JinKi berseru senang setelah mendengar cerita ChaeYong barusan, tentang dirinya yang baru terpilih sebagai kapten tim.

“Hehe.. gamsahamnida~!” ChaeYong tersenyum lebar.

“Kalau begitu, hari ini datang ke rumahku! Akan kumasakkan barbeque dengan kualitas daging paling enak di toko orang tuaku!” lanjutnya sambil mengacak rambut ChaeYong yang duduk berhadapan dengannya di meja kantin kampus.

Jinchayo? Gomawo hyung!” ChaeYong berterima kasih.

“Lalu, kapan pertandingannya?” tanya JinKi.

“Sekitar seminggu lagi. Nanti aku beri jadwal pertandingan untuk hyung! Nonton ya!” jawab ChaeYong dengan raut wajah ceria.

JinKi mengangguk dengan senyum lebar yang membuat matanya menyipit. “Aku pasti nonton!” katanya. “Tapi.. jadi kapten itu berat lho! Bagaimana kalau kau tidak bisa memimpin anggota tim yang lain? Beban kapten itu sungguh berat..” ujar JinKi dengan ekspresi wajah yang berubah drastic dari sebelumnya.

“YA!! CHICKEN! Jangan merusak kebahagiaan orang kenapa sih?” ChaeYong protes, meski ia tahu yang dikatakan JinKi itu benar.

JinKi tersenyum kecil dan membentuk dua jari di tangan kanannya menjadi huruf V. “Peace! Bercanda!” katanya. “Ngomong-ngomong yongie, kau mengirim pesan padaku semalam?” tanya JinKi mengalihkan topic.

“Ah.. jinchayo?”

“Kamu gimana sih?” JinKi mengambil smartphone dari sakunya, kemudian memperlihatkan pesan yang dikirimkan ChaeYong padanya semalam setelah membukanya terlebih dahulu. “Ige! Kau mengirip pesan aneh padaku! Dan kau memanggilku oppa!” katanya, bersamaan dengan ChaeYong yang membaca isi pesan yang dikirimnya sendiri sekarang.

Jaljinaessoyo, chicken oppa

“Mwo?? Ini pasti bukan aku~!” kata ChaeYong tidak percaya.

JinKi menarik kembali smartphone nya dengan tampang sinis. “Jelas-jelas nomornya milikmu! Dan hanya kau yang memanggilku chicken!” jawab JinKi dengan analisis sederhananya yang 100% benar. “Ada apa sih? Ada sesuatu yang menyenangkan?” tanya JinKi penasaran.

ChaeYong terdiam, namun ingatannya melayang pada kejadian semalam. JoongKi oppa-nya yang tiba-tiba menggodanya dengan “ppoppo” dan membuat wajahnya merah padam seperti gurita goreng. Seperti sekarang. “Yongi! Kau baik-baik saja?” tanya JinKi pada Yongi melihat wajah anak gadis dihadapannya yang tiba-tiba memerah itu.

“Ah.. gwaenchana..” jawab Yongi sambil memegangi kedua pipinya, mencoba menghilangkan warna merah di pipinya itu. Namun tidak akan pernah bisa hilang sepanjang ia masih memikirkan JoongKi dan kejadian semalam.

***

“Aku pulang~!” ChaeYong berseru bersamaan dengan terdengarnya suara debam pintu yang ditutup. Ia melepas sepatunya dan bergegas masuk kedapur. “Bibi! Aku bawa daging dari JinKi hyung~!” teriaknya lagi.

Namun bukan bibinya yang ia temukan di dapur, melainkan YoonHee yang kini tengah memasak sesuatu. “Yongi, annyeong~!” sapanya dengan senyum ramah seperti biasa.

Noona?”

“Yongi, sudah pulang?” tiba-tiba bibinya muncul dari pintu masuk setelah mendengar keponakannya baru saja pulang.

“Iya bi, aku bawa barbeque untuk makan malam! JinKi hyung memberikannya untukku setelah kami memasaknya berdua di rumahnya!” jawab Yongi sambil menyodorkan kotak makan yang dibungkus dengan kain warna biru langit.

“Aigoo~ kenapa dia repot-repot.” Ujar bibinya sambil membuka kotak makan itu. Bau daging panggang langsung menyeruak ke seluruh ruangan setelah kotak makan itu terbuka. Selain kualitas dagingnya yang bagus, JinKi juga lumayan lihai membakar barbeque dan membuat saus barbeque seperti yang di ajarkan oleh ibunya. “Ahh.. katakan terima kasih padanya ya!”

“Iya bi..” jawab ChaeYong dengan senyum di wajah.

Namun seketika senyumnya luntur saat tiba-tiba seseorang merangkul lehernya dari belakang. Ia kenal betul bau yang datang bersamaan dengan melingkarnya tangan putih mulus di lehernya. “Bau apa ini?” JoongKi yang baru muncul tiba-tiba itu bertanya. Hidungnya cukup peka soal yang seperti ini.

“Yongi bawa oleh-oleh dari rumah JinKi! Daging panggang!” jawab YoonHee seraya menaruh semangkuk tumis sayuran di atas meja makan untuk makan malam.

“Wah~ ini hadiah keberhasilanmu darinya?” tanya JoongKi. Ia melirik Yongi dengan senyum kharismatiknya, kemudian mengacak rambutnya semangat. Namun ChaeYong tidak bergeming. Ia tetap diam, sementara degup jantungnya tidak bisa ia kendalikan. Ia ingin menyingkirkan tangan JoongKi yang melingkar akrab di lehernya, namun ada suatu perasaan yang ingin ia lebih lama berada di posisi itu.

“Maaf, aku mau ke toilet!” kata ChaeYong kaku. Tangannya menyingkirkan lengan JoongKi pelan, kemudian ia bergegas ke toilet padahal ia tidak ingin melakukan apapun disana.

Aigoo~ eottokhajyo??” ia bergumam sendiri sambil memegang dada dan wajahnya secara bergantian. “Aku kenapa sih?? Yaampun..” katanya lagi setelah duduk di atas kloset.

“Yongi! Cepat ya bertapanya! Kita udah mau makan nih!” JoongKi berteriak dari luar, memanggil ChaeYong untuk segera ikut makan malam.

ChaeYong mengatur nafasnya sejenak. “K..kalian duluan saja! Aku sudah makan kok!” teriaknya dari dalam toilet, kemudian kembali mengatur perasaannya lagi. “Haish..” keluhnya pada diri sendiri.

***

ChaeYong’s scene

Hohhh~!!! Akhir-akhir ini rasanya benar-benar menyebalkan! Rasanya aku seperti ingin menjauhi JoongKi oppa untuk beberapa waktu. Tapi oppa malah jadi lebih sering muncul di hadapanku. Jika dulu frekuensi aku bertemu dengan oppa adalah 80%, mungkin sekarang sudah 98%.

Oppa sedang tidak ada kegiatan akhir-akhir ini, lebih sering memotret untuk kesenangannya sendiri dan menjadikanku objek fotonya. Ia ikut saat aku pergi ke kampus, berlatih di klub, main-main di lapangan di komplek sebelah, bahkan saat aku keluar dengan JinKi hyung. Dan saat kutanya, ada saja alibinya untuk membuatku akhirnya mengiyakan permintaannya.

Aku berusaha belagak biasa saja, tapi rasanya berada didekat oppa saja membuatku kesulitan bernafas. Apa lagi skinship yang sangat sering dilakukannya padaku. Aku tahu mungkin ia tidak memandangku sebagai orang lain atau sebagai wanita. Tentu saja, aku adiknya, dan tampangku 80% seperti lelaki! Tapi bagaimanapun aku tetap wanita, emosiku seperti gadis pada umumnya, juga perasaanku. Aku menyukai oppa sejak lama, namun aku selalu berusaha menafsirkannya ini adalah rasa suka karena oppa baik padaku. Dan karena aku sudah sangat lama hidup bersama oppa. Yah. Aku ingin perasaanku seperti itu.

Dan saat ini seperti apa yang aku katakan, aku sedang duduk di sebuah kedai kopi bersama dengan JinKi hyung yang duduk berseberangan denganku, juga JoongKi oppa yang duduk di sebelahku dan kini tengah menjadikan kopi pesanannya sebagai objek fotografi. JoongKi oppa terus sibuk dengan kegiatannya sendiri, aku sibuk mengendalikan perasaan aneh yang akhir-akhir ini terus berkecamuk, dan entah apa yang benar-benar JinKi hyung lakukan kini. Ia terus memperhatikan apa yang JoongKi oppa lakukan, dan sesekali memandang ke arahku seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkannya. Dan itu terjadi beberapa kali. Ia bahkan tidak meminum cappuchino nya sedikitpun hingga busanya menghilang sedikit demi sedikit dari atas kopi.

“JinKi hyung, kopimu!” kataku padanya mencoba tampak biasa. JinKi hyung yang sepertinya terbengong jadi tersadar. Ia menatapku sebentar, hingga aku melirikkan mataku ke arah kopinya.

“Ah ya..” katanya kemudian menenggak kopinya sampai habis. Dan setelah itu kami bertiga kembali diam.

“Kalian mau donat?” tanya JoongKi oppa tiba-tiba sambil mengecek hasil potretnya. “Hmm? Kau Yongi?” katanya lagi setelah memandang ke arah kami.

“Terserah hyung saja!” jawabku.

“Kau?” tanya JoongKi oppa pada JinKi.

“Ah.. uhh.. apa ada ayam?” katanya. Dan ucapan singkatnya itu sesaat mencairkan suasana. Membuatku melupakan apa yang aku pikirkan sebelumnya. Aku dan JoongKi oppa tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Di tempat seperti ini ia masih cari ayam?? “Kenapa kalian tertawa?” JinKi hyung protes.

“Tentu saja kami tertawa! Di tempat seperti ini mana ada ayam?? Kalau mau cari ayam dari tadi jangan ngajak kesini!” jawabku seraya melemparkan entah apa yang kuambil dari saku jaket ku padanya.

“Ayo ke fast food! Aku traktir kalian ayam!” JoongKi oppa yang mulai meredakan tawanya mengajak kami. Dan sesaat senyum lebar dan bahagia terkembang di wajah JinKi hyung. Baru sekali kulihat seseorang bisa sebahagia itu hanya karena ayam. Dan aku tak bisa berhenti terkekeh meski kami sudah meninggalkan kedai kopi itu. Hingga JinKi hyung memaksaku berhenti tertawa dengan menjepit leherku dengan lengan kanannya menjitakku pelan, tapi tawaku malah semakin keras.

***

Hari ini aku merasa sudah kembali seperti semula. Tidak ada lagi kecanggungan antara diriku dan oppa. Meski masih sedikit terasa berdebar, tapi aku sudah bisa mengendalikannya. Berkat kejadian semalam. Aku benar-benar harus berterima kasih pada JinKi hyung.

“Ya! Berhenti dengan kamera mu!” aku berteriak pada oppa karena risih. Ia terus mengarahkan lensa kamerannya padaku dan menjepretku apapun yang sedang aku lakukan. Saat sedang makan, belajar di perpustakaan, main basket, bahkan saat aku mau masuk ke toilet! Kalau tidak aku marahi, mungkin ia sudah mengikutiku masuk kedalam toilet! Menyebalkan sekali.

Namun meski berkali-kali aku memarahinya, responnya tetap saja hanya senyum lebar favoritku yang membuatku segera diam, takhluk hanya dengan melihatnya.

“Kau tahu..”

“Tidak!” aku memotong perkataannya.

“Ya~!” JoongKi oppa berteriak dan menarik hoodie ku saat aku hendak melarikan diri, kemudian mencubit pipiku dan entah kenapa aku malah tertawa meresponnya. “Dengarkan dulu apa yang aku katakan!” katanya setelah melepaskan pipiku, dan memukul kepalaku pelan.

“Oke.. oke..” jawabku sekenanya.

“Aku akan buat pameran lagi!” katanya tanpa basa-basi.

Tidak menjawab, aku hanya melihat ke arah wajahnya yang sedikit serius. Namun senyum kecil masih menghiasi wajahnya. Oppa benar-benar terlihat tampan saat seperti ini.

“Dan kau sebagai modelnya!” katanya padaku.

Diam. Sedetik. Dua detik. “Omo.. aku?? Jinchayo???” aku berteriak padanya. Ia tidak mejawab, tidak juga mengangguk. Tapi aku tahu ia tidak mungkin salah bicara dan aku tidak mungkin salah dengar. “W..wae? kenapa aku?” tanyaku bingung.

“Kau tidak suka?” katanya.

“B..bukan begitu, tapi apa tidak ada model lain? YoonHee noona mungkin? Dia cantik dan punya badan yang bagus.. sedangkan aku..” jawabku, namun oppa segera memotongnya.

“Makanya aku memilihmu! Sudah terlalu banyak model cantik terpampang di atas kertas foto! Terlalu biasa!” jawabnya yakin. Aku diam. “Dan jika kau lihat ini.. aku suka gayamu yang natural!” katanya dengan senyum kecil di wajahnya sambil memperlihatkan beberapa hasil jepretannya padaku.

Haruskah aku bingung, takjub, atau tersenyum bahagia? Yang jelas, kini perasaanku sangat meluap-luap! Aku tidak percaya oppa menggunakanku sebagai modelnya. Aku ingin memeluknya dengan erat sekarang, tapi tidak mungkin. Jadi aku menahannya dengan sok cool sambil melihat kea rah lain, namun sesekali aku tetap tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Meski kutahan, senyum di wajahku tetap meminta untuk menampakkan diri.

ChaeYong’s scene END

***

“Yongi~!!” seorang gadis dengan kaos basket warna merah bernomor 9 berteriak pada ChaeYong yang berlari di bagian paling depan, kemudian melemparkan bolanya sekuat tenaga pada gadis berambut pendek itu. ChaeYong menangkapnya, kemudian melakukan lay up shoot ke ring lawan dengan sukses.

JJANG~!!” gadis yang satu lagi berseru pada ChaeYong, kemudian melakukan high five dengan gadis yang boys looks itu.

Kini mereka sedang latihan. Latihan terakhir sebelum besok mereka melakukan pertandingan penyisihan. Dan sepanjang hari ini permainan ChaeYong benar-benar sangat baik. Yah, memang biasanya ia bermain dengan baik. Tapi hari ini ia jauh lebih baik dari biasanya. Selain itu senyum cerah selalu terpampang di wajahnya, hingga membuat teman-temannya heran.

“Kau lagi senang ya?” tanya MinHo, kapten tim putra, saat mereka istirahat setelah pelatih menginstruksikannya.

“Oh.. ah.. ahniyo~” jawab ChaeYong, namun tetap tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

***

“Besok nonton pertandinganku ya, hyung!” kata ChaeYong di tengah makan malam mereka dengan barbeque yang dimasak JinKi. ChaeYong datang ke rumah JinKi sepulang latihan untuk mengembalikan tempat makanan yang dipinjamnya saat membawa pulang barbeque dari rumah JinKi, tapi JinKi menahannya dengan barbeque juga saat ia akan pamit pulang.

“Besok? Jam?” katanya.

“5! Tapi sebaiknya datang sebelum itu! Ah ya..” ChaeYong meletakkan sumpitnya, kemudian mengaduk ranselnya dan mengeluarkan sesuatu setelah cukup lama tangannya mencari-cari. “Karena aku pemain, aku mendapatkan 2 tiket gratis! Sebenarnya sih karena aku minta, hehe.. untukmu, hyung!” katanya pada JinKi seraya menyodorkan tiket pertandingannya.

JinKi menerimanya. “Ah.. gomawo~” katanya. “Lalu yang satu lagi?”

“Untuk JoongKi hyung!” jawab ChaeYong singkat kemudian melahap daging panggangnya. “Umh.. mashita~!”

Sedangkan JinKi hanya mengangguk-angguk sedikit kemudian mengantongi tiketnya dan ikut melahap daging panggang yang baru di angkatnya dari panggangan itu.

***

“Aku pulang~!” JoongKi berteriak dari arah pintu, kemudian bergegas masuk setelah melepas sepatunya.

Hyung~!!!” tiba-tiba terdengar teriakan dari arah salah satu kamar, disertai suara langkah cepat ke arahnya. ChaeYong segera muncul di hadapannya. Ia berdiri tegak, kemudian menempelkan sesuatu ke jidatnya sendiri.

Mwo?” Tanya JoongKi bingung.

“Untukmu! Tiket gratis nonton pertandingan!” jawab ChaeYong dengan cengiran lebar di wajahnya. JoongKi terkekeh.

JEPRET!!

“Bagus~!” gumamnya kemudian.

“Heh~?” ChaeYong melepas tiket di jidatnya itu kemudian melihat kea rah JoongKi yang tengah memeriksa hasil jepretannya barusan.

JoongKi tersenyum lebar, kemudian merebut tiket di tangan ChaeYong. “Mungkin foto ini yang akan ku pampang paling besar saat pameran nanti!” katanya kemudian tertawa puas seraya berjalan menuju kamarnya.

“Ya~!!” ChaeYong berteriak seraya mengejar kakaknya yang sudah masuk kedalam kamar itu. Namun emosinya sudah reda saat memasuki kamar yang tertata rapi itu. Ia duduk di kursi belajar sementara kakaknya merapikan barang-barang yang baru dibawanya pulang ke tempatnya masing-masing. “Tapi besok bisa datang kan hyung?” Tanya ChaeYong sambil memutar-mutar kursi belajar yang di dudukinya. “Kalau datang, duduk paling depan, teriak paling keras! AKu pasti tidak akan membuat hyung kecewa!” lanjutnya.

“Kalau aku tidak datang?” Tanya JoongKi menggoda adiknya.

“Aku akan membunuhmu! Dengan menghapus semua file fotomu! Heheheheh..” jawabnya bercanda.

“Kalau begitu aku pasti datang!” jawabnya mengakhiri percakapan, sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

JoongKi’s scene

“Mohon maaf, kamera dan alat perekam lain tidak diperkenankan dibawa masuk ke dalam stadion! Anda bisa menitipkannya ketempat penitipan di depan!” seorang paniti mengatakannya padaku saat aku hendak masuk kedalam stadion untuk menonton pertandingan ChaeYong.

“Eh, tapi.. saya pers!” jawabku beralasan. Padahal aku tidak datang untuk tugas meliput.

“Bisa tunjukkan kartunya?” tanya panitia itu.

Aku membuka tas yang kubawa di pundak kiriku. Mencoba mencari-cari kalau ada kartu pers di dalamnya. Namun sepertinya aku memang tidak membawanya. “Aku lupa..” jawabku pelan. “Tapi saya benar-benar pers!” jawabku bersikeras untuk membawa kameraku masuk ke stadion.

“Maaf, mohon anda titipkan di tempat penitipan!” katanya dengan tangan mengarahkanku pada tempat penitipan yang hanya berjarak beberapa meter dari kami itu. Oke, aku kalah! Dari pada aku tidak bisa menonton pertandingan Yongi, lebih baik aku kehilangan satu momen bagus untuk memotretnya.

Setelah dengan berat hati kutitipkan benda paling berhargaku itu, aku bergegas masuk dengan tiket dan mendapatkan cap di tanganku sebagai tanda bahwa aku masuk dengan legal dan jika nanti keluar, aku tidak perlu membeli tiket lagi untuk masuk kedalam stadion.

Kulihat hampir seluruh tempat duduk sudah penuh, hampir tidak ada satupun kursi kosong sampai  kudengar seseorang memanggilku dengan suara yang cukup kukenal. “Hyung! JoongKi hyung!!” teriaknya. Aku menoleh, mendapati seorang anak laki-laki dengan kemeja kotak-kotak merah dan dalaman kaos berwarna hitam. Ia melambai padaku. “Duduklah disini!” serunya lagi.

Aku bergegas ke arahnya dan duduk di bangku yang sudah di siapkan untukku. “Gomawo!” ujarku padanya. JinKi mengangguk mengiyakan. “Kau sengaja mempersiapkan bangku untukku?” tanyaku sok.

“Iya!” jawabnya pendek.

“Kau tahu aku akan datang?”

JinKi mengangguk kecil. “Yongi bilang ia minta 2 tiket gratis untukku dan JoongKi hyung! Jadi mana mungkin hyung tidak datang!” jawabnya. AKu tersenyum kecil. Jadi dia dapat tiket dari Yongi juga?

Kini sudah quarter 4 pertandingan basket tim putra dari Seoul dan Gwangjoo. Aku jadi rindu masa-masa saat aku berlari-lari di lapangan ini. Sudah sangat lama. Rasanya menyesakkan. Aku ingin kembali berlari di tengah lapangan itu, melakukan shoot, dan berteriak-teriak menginstruksikan teman-temanku untuk bermain bagus. Tapi kini semua hanya tinggal kenangan. Aku terlalu rapuh untuk melakukannya sekarang.

Lamunanku mungkin terlalu lama, sampai tak sadar pertandingan yang ku tonton sudah usai. Seoul menang dengan 90-87. Mantan klub kebanggaanku!

“Itu dia!” JinKi berseru sambil menunjuk kea rah lapangan. Beberapa pemain muncul bersama beberapa official, duduk di tepi lapangan dan melakukan stretching sebentar, kemudian berlari ketengah lapangan dengan beberapa bola dan mulai melakukan shoot sebagai pemanasan.

Kulihat ChaeYong berada di antara mereka. Berlari-lari kecil kemudian menangkap bola dan melakukan shoot. Entah kenapa rasanya senang bisa melihatnya berada di tengah lapangan seperti itu. Ia berusaha membuatku bangga, dan aku memang benar-benar bangga padanya. Bahkan ia seorang kapten tim sekarang. Sepertinya senyumku jadi lebih lebar saat memikirkan ini.

Beberapa menit kemudian peluit dibunyikan. Wasit menginstruksikan pemain untuk ke pinggir lapangan dan mempersiapkan 5 pemain inti mereka untuk segera masuk ke lapangan. Seoul dengan seragam putih memasukan 5 pemain andalan mereka setelah kedua belas pemain dan official meneriakkan yel seperti yang selalu mereka lakukan. ChaeYong berada di antaranya. Setelah tim Seoul dan tim lawan berada di posisi, wasit membunyikan peluitnya dan melambungkan bolanya, melakukan jump ball. Tim lawan mendapatkannya, namun berhasil di halau tim Seoul dan gadis itu segera melemparkannya pada ChaeYong yang sudah jauh berada di depan. Setelah mendapatkannya ia segera melakukan lay up shoot. MASUK! Sebuah awal yang bagus, dengan jurus andalannya bocah itu mendapatkan 2 poin! DAEBAK! Tapi tetap saja aku menyesal tidak bisa mendapatkan momen bagus itu untuk di abadikan.

Hyung!” JinKi memanggilku. Aku menoleh ke arahnya dengan tampang bertanya. “Butuh kamera?” katanya padaku sambil mengkode untuk melihat sesuatu di balik kemejanya. Sebuah kamera digital yang entah ia sembunyikan dimana sebelumnya.

“Bagaimana..” JinKi tersenyum.

“Aku tahu hyung akan membutuhkannya!” jawabnya. “Gunakan dengan hati-hati, jangan sampai ketahuan!” katanya sambil menyerahkan kameranya padaku dengan hati-hati.

“Ah.. gomawo!” jawabku benar-benar senang. Bocah ini benar-benar jenius!

“Tapi ngomong-ngomong hyung, kenapa hyung suka sekali mengambil gambar yongi?” tanya JinKi polos.

Aku tersenyum. “Karena aku menggunakannya sebagai model di pameranku yang selanjutnya!” jawabku setelah mengambil satu gambar dari ChaeYong yang tengah melakukan shoot. “BAGUS!” teriakku setelah kulihat ChaeYong berhasil membuat 2 poin lagi dengan shootnya.

JoongKi’s scene END

---

JinKi’s scene

“Karena aku menggunakannya sebagai model di pameranku yang selanjutnya!” JoongKi hyung menjawab dengan senyum di wajahnya.

Entah kenapa rasanya seperti ada yang terbakar didalam diriku. Aku tidak bisa lagi berkonsentrasi menonton pertandingan. Memangnya kenapa kalau JoongKi hyung menggunakan ChaeYong sebagai model fotonya? Aku ingin mengabaikannya. Tapi rasanya aku tidak bisa. Dan aku tidak tahu sebenarnya kenapa aku ini. Aku harap aku segera tahu! Perasaan ini benar-benar menggangguku!

JinKi’s scene END

***To be Continue***

eotte?^^
thx for reading and don't forget to leave a comment~!^^
JEONGMAL GAMSAHAMNIDA~!!!

-Keep Shine Like HIKARI-

5 comments:

  1. hhhh ,, mau sampe kapan kelarnya ? ffku ? gimana ???

    ReplyDelete
  2. ngeri .. kereeen
    ini judulnya cidaha, mbak

    ReplyDelete
  3. @ravla : kapan yaa.. tergantung mood gue~ HAHAHA

    @karisha : ojo ngomong cinta dua hati.. emang lagune ungu? -__-

    ReplyDelete
  4. joongki kykny nyengir nyengir mulu yah kykny.. Haha..

    @ comment d atas.. Judul lagu ungu th CInta DAlam HAti .. Bkan cinta dua hati.. Xp

    nice story.. Xp

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia sih.. abis kumur, biar kering~ #plakk

      gomawo^^

      Delete