Monday, January 30, 2012

I don't Understand [FANFIC] [5]

FF kambek kedua gw.. setelah cukup lama berpikir bagaimana meneruskannya~ *saking kelamaan sampe lupa sama ceritanya, jadi mesti baca ulang~* -__-
dan akhirnya gw bikin baru poster FFnya.. langsung gw ganti smua dah tuh poster lama gw yang ecek2.. *yang ini mending, 'agak' ecek2* T_Ta
okedeh.. masih melanjutkan sibling-love dan satu orang lagi yang notabene sangat susah untuk suka sama seseorang.. enjoy reading~!^^

I don't Understand..


Bola langsung dilempar pada Yoon Bora begitu bola berhasil di rebound oleh center klub Seoul, Kim Hyojung. Yoon Bora membawa bolanya sampai masuk ke daerah shoot. Melakukan fake dengan hendak melakukan shooting, namun ternyata di pass pada Jang Chaeyong yang berdiri bebas tanpa penjagaan lawan. Chaeyong melakukan drive dan menggunakan layup shoot andalannya 2 poin kembali didapatkan klub Seoul dari tim lawan!

Gedung olah raga begitu riuh dengan suara dukungan supporter klub Seoul dengan bertambahnya 2 poin untuk tim putri mereka. Dengan tambahan poin ini, tim putri klub Seoul kembali memenangkan laga di babak penyisihan kedua.

“Bora eonni brilian! Aku tidak menyangka eonni akan melakukan fake!” ujar ChaeYong seraya keluar dari ruang pemain bersama semua pemain dan coach mereka. “Fake yang mulus!”

“Kau juga! Terima kasih sudah sangat tanggap dengan yang aku lakukan!” Bora membalas sambil menepuk bahu ChaeYong. “Aa.. sepertinya ada seseorang menunggumu!” katanya begitu ia melihat keluar gedung. Tampak seseorang dengan jaket merah maroon berdiri disana, seperti sedang menunggu seseorang.

“Oh.. Chicken~”

“Chicken?” Bora bertanya. “Tapi ngomong-ngomong aku merasa sering melihatnya! Tapi dimana ya?”

“Pasti saat pertandingan! Dia kan pasti datang saat kita bertanding!” jawab ChaeYong memastikan. Bora sebenarnya tidak yakin dengan jawaban itu, namun ia mengiyakan saja. Tidak mau pembahasan menjadi lebih panjang.

Namun seketika Bora tersenyum lebar sambil merangkul juniornya di klub basket itu. “Jangan-jangan.. dia pacarmu ya?”

Aigoo~ eonni ini.. apanya yang pacar?” Chaeyong mendorong Bora hingga akan terjatuh, namun Bora berhasil mengontrol keseimbangannya sambil terkekeh menertawakan Chaeyong. “Dia temanku tau! Nae cingu!” jawab Chaeyong lagi dan kali ini seraya mempercepat langkahnya keluar gedung, menghampiri orang yang dipanggilnya Chicken itu yang sudah menunggunya cukup lama disana. “Hyeong~!” panggilnya seraya berlari dengan riang, ingin segera membagi kegembiraan kemenangannya.

Bora menegakkan badannya dan berjalan ke arah yang sama dengan Chaeyong, dengan senyum lebar dan yakin ia bergumam, “Bukan pacar? Tapi segembira itu bertemu dengannya.. hahaha.. dasar~!”

***

“Jadi besok kau main lagi?” tanya Jinki saat mereka berjalan pulang, sambil mendorong sepeda Chaeyong. Sedangkan Chaeyong berjalan di sebelahnya dengan sport bag besar berisi perlengkapan pertandingannya.

“3 hari lagi!”

“Ya, itu maksudku..” katanya. Kemudian keduanya diam. Mereka jadi lebih sering diam seperti ini daripada meributkan tentang sesuatu seperti dulu.

Benar-benar sunyi. Bahkan kendaraan bermotor pun hanya melintas sesekali. Dan hal itu benar-benar mengusik Chaeyong untuk mengatakan sesuatu. “Hyeong! Kau benar-benar tidak apa-apa?” katanya tampak khawatir.

“Oh.. emh.. te.. tentu saja!” jawab JinKi, terdengar berbohong.

“Tidak. Hyeong sedang memikirkan sesuatu kan? Aku tahu!” Chaeyong membantah.

“Me..memikirkan apa? Sok tahu! Memang kau bisa membaca pikiranku?” Jinki menjawab dengan gugup.

“Aku tidak tahu! Tapi aku tahu hyeong sedang menyembunyikan sesuatu!” kata Chaeyong sekenanya. Dan entah mengapa, kata-kata itu membuat JinKi berhenti. Sedangkan Chaeyong masih terus melangkah pulang, hingga ia sadar tak terdengar lagi derit sepeda berjalan mengikutinya. “Hyeong?” ia menoleh. Jinki berdiri berjarak beberapa meter darinya dengan tatapan mata serius ke arahnya. “Hyeong? Waeyo?”

Tidak menjawab. Jinki masih menatap ke arah Chaeyong, seakan hendak mengatakan sesuatu. “Yong-i.. nan..”

JPREEETT!!

Sesaat terdengar suara yang membuat kedua anak itu menoleh kearah sumber suara tersebut. Sesosok laki-laki dengan kamera didepan wajahnya, menegakkan badannya dan memeriksa sesuatu pada layar digital kameranya. “Seperti dalam drama..” gumamnya, namun masih bisa terdengar biarpun lirih.

“Joongki hyeong?” panggil Chaeyong lirih dengan wajah heran. Joongki yang merasa dipanggil mendongak ke arahnya dengan senyum khasnya, seraya berjalan mendekat kearah adik sepupunya itu. “Bagaimana kau bisa ada disini?”

“Aku baru pulang dari pemotretan, dan tak sengaja melihat kalian!” jawab Joongki jujur. “Kita makan yuk, hari ini ibu tidak masak makan malam. Jadi dia menyuruhku untuk mengajakmu makan di luar!” ajak Joongki, tanpa pikir panjang Chaeyong mengiyakan. Joongki mengalihkan perhatiannya pada Jinki yang masih berdiri beberapa meter dihadapannya. Dengan wajah sedikit kecewa, namun berusaha untuk ia sembunyikan. “Kau.. Jinki, ikut juga yuk!” ajak Joongki.

“Ah.. emh..” Jinki mendekat. Ia menyandarkan sepeda Chaeyong dengan standarnya, kemudian menunduk hormat pada Joongki. “Aku harus pulang, besok pagi ada kuis. Terima kasih tawarannya hyeong!” katanya kemudian berjalan menjauh pelan-pelan. “Yong-i.. annyeong~!”

Ne.. annyeong~!” jawab Chaeyong pelan.

“Dia kenapa sih?” tanya Joongki heran. Namun Chaeyong hanya menggeleng. Ia benar-benar tidak tau apa isi kepala Jinki sebenarnya.

***

Joongki’s Scene

Hari ini aku harus meyakinkan, perasaan ini pasti bukan.

Sejak saat itu, YoonHee terus saja bilang bahwa aku sedang jatuh cinta, dan entah kenapa Yongi yang selalu muncul dikepalaku saat YoonHee berkata begitu. Sudah kupikirkan dengan rasional, hal ini pasti tidak mungkin. Dia adikku. Anak dari bibiku, yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Yang dikatakan YoonHee pasti salah, aku yakin.

Setelah makan di sebuah kedai, kami pulang dengan berjalan kaki. Aku menuntunkan sepeda yang tadi dibawanya ke pertandingan. Aku tidak sempat menonton pertandingannya tadi, karena pekerjaanku yang mengharuskanku berada di kantor sampai malam. Makanya sekarang Chaeyong bercerita panjang lebar soal apa yang terjadi di gedung olah raga yang kini membuatnya tampak riang.

“Lalu Bora eonni melakukan fake dan mengoper bolanya padaku! Lalu aku lay-up~..” ditengah ceritanya ia memperagakannya. “Shoot~! Dan suara kemenangan pun terdengar di telinga kami! Aku senang sekali!” tambahnya diiringi tawa bahagia. Dan yang bisa aku lakukan hanya tersenyum sambil terus berjalan mengikutinya.

Jhoa.. sayang aku tidak bisa menontonnya!” ujarku menyesal. “Mianhaeyo..”

Aigoo~ tidak perlu begitu hyeong! Kau kan harus bekerja!” jawabnya. Sekali lagi, hanya kubalas dengan senyum. “Ngomong-ngomong hyeong, boleh pinjam kameranya?” katanya.

“Hmm?” Chaeyong menunjuk kea rah tas kamera yang ku gantungkan di bahu kiri. “Oh, tentu!” jawabku kemudian menyerahkannya.

Ia buka tas kamera itu, kemudian ia ambil kamera didalamnya. JPREETT! Sejenak terdengar suara jepretan foto. Bocah itu baru saja mengambil fotoku. Kurasa akhir-akhir ini ia juga tertarik dengan fotografi. “Ya~!” aku berteriak padanya. Namun ia hanya terkekeh sambil memeriksa hasil jepretannya. Sekali lagi ia mengambil fotoku, dan memeriksanya pada layar digital.

“Whoaa.. Joongki hyeong fotogenik sekali!” komentarnya. “Kenapa hyeong tidak jadi model saja? Daripada jadi fotografer..”

“Diamlah!” jawabku.

Chaeyong seperti tidak menggubrisku. Ia tetap tertawa sambil melihat hasil jepretannya yang baru diambilnya, hingga beberapa saat kemudian senyumnya luntur sedikit demi sedikit. “Yoo.. YoonHee noona~” gumamnya, namun aku masih bisa mendengarnya.

Wae?”

“Ah.. ahniyo~ YoonHee noona selalu terlihat cantik. Mungkin akan cocok jika kalian pacaran!” katanya, dan begitu membuatku kaget. Kata-katanya itu, seakan aku ingin menyangkalnya. YoonHee hanya juniorku di sekolah dan di kantor. Tapi.. Chaeyong juga cuma adikku, tapi kenapa..

Kepalaku mendadak kosong. Kutinggalkan sepeda yang semula kubawa, dan tanpa sadar kapan memulainya, aku sudah mendekap Chaeyong begitu erat. Serasa tidak mau melepaskannya lagi. Ingin berada seperti ini seterusnya.

Joongki’s scene END

***

Chaeyong’s scene

“Yongi~ pegang tanganku..” Joongki oppa berkata padaku.

Oppa~”

“Aku tidak mau kita terpisah. Ayo!” katanya sambil memegang tanganku dengan erat dan kami berjalan menyusuri taman kota, hingga tiba-tiba aku terjatuh kedalam sebuah lubang yang entah bagaimana caranya bisa berada disana, padahal semula aku tidak melihatnya.

“Jang Chaeyong!” terdengar seseorang memanggilku. Apakah itu Joongki oppa yang menyelamatkanku?

Oppa?”

SLAPP!

Aigoo~ Ya! .. eh..” Sonsaengnim?

Ia memukulku dengan gulungan kertas. “Sudah puas kau tidur di kelasku?” Sonsaengnim bertanya padaku dengan tatapan marah. Ia menunduk, menatapku yang kini tengah terduduk di.. lantai?

Aku segera berdiri, merapikan baju dan rambutku dan bersikap sopan pada sonsaengnim. “Cwesonghamnida, Baek-saem!” ujarku sambil menunduk hormat padanya.

Aish.. dari sekian banyak mahasiswa hanya kau yang selalu membuat urat kepalaku keluar semuanya!” katanya sambil sekali lagi memukulku dengan gulungan kertas. “Kalau bukan atlit provinsi sudah tak ada ampun lagi bagimu!” katanya lagi. Ah~ untunglah, aku masih bisa sedikit lega. “Jangan tersenyum! Kembali ke meja dan jangan membuat kelasku gaduh! Arraseo?”

“N..ne~ Saem!” jawabku sambil sekali lagi menunduk dan kembali duduk di mejaku.

---

Aish~ jincha! Kalau begini aku bisa gila! Haish~!!” dengan penuh kebingungan aku berteriak-teriak sendiri di perpustakaan kampus sambil mengacak-acak rambutku yang sudah tak karuan ini. Joongki oppa membuatku gila! Apa ia tidak tahu apa yang dilakukannya semalam membuat perasaan yang sudah lama ingin kuhilangkan ini jadi kambuh lagi??

Ehm.. tentu saja ia tidak tahu, aku tidak pernah mengatakannya. Tapi.. ahh~! Jincha!! Aku seperti orang stress di perpustakaan. Sebentar-sebentar diam. Kemudian mengacak-acak rambutku sendiri. Sebentar kemudian mengacak-acak wajahku(?). Aku heboh dengan pikiranku sendiri, hingga terdengar suara gaduh dari arah lain di ruangan besar itu, dan pikiranku goyah. Aku periksa ada apa disana. Beberapa orang juga mendatangi tempat itu, dan beberapa diantaranya kini tengah mengembalikan buku-buku yang berserakan di lantai ke tempatnya semula.

Gamsahamnida~ maaf merepotkan~!” Salah satu dari mereka meminta maaf.

“Chicken?” aku masih melihatnya tanpa membantu. Masih seperti biasa, kecerobohan yang tak tertandingi. Tapi sejenak terlintas dipikiranku. “Mungkin ia bisa membantuku!”

Aku bergegas membantu mereka mengembalikan buku-buku yang berserakan itu, kemudian menarik Jinki oppa yang sedang sibuk berterima kasih itu, keluar dari kerumunan. Mungkin dia tahu solusi dari masalahku yang aneh ini. Setidaknya ia bisa sedikit membantuku.

Waeyo??” tanya Jinki oppa setelah kami berdua duduk di meja yang kutempati sebelumnya. Wajahnya tampak begitu kaget melihatku, tapi aku tak mengindahkannya. Karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya.

Tapi bagaimana menyusun kata-katanya. Emh.. aku bingung, dan malah mengacak-ngacak rambutku sendiri. “Bagaimana aku mengatakannya..” bisikku pada diri sendiri. Tapi sepertinya Jinki oppa bisa mendengarku.

Mwo?”

“Kau tahu bagaimana caranya membenci seseorang??”

Kami terdiam beberapa detik. “Hehh??” dan hanya itu yang kudengar dari Jinki oppa atas jawaban dari pertanyaanku.

---

“Ah.. keuraeyo~” gumamnya setelah ia mendengar ceritaku secara lengkap. Cerita bodoh yang ku simpan sendiri sejak lama. Namun sesaat terlihat wajahnya tampak sedikit kecewa. Sesekali ia menyeruput cola di hadapannya, namun tak menyentuh ayam goreng pesanannya sedikitpun.

Aku mengangguk kecil. “Ah~ aku jadi cerita hal yang memalukan..” aku menggaruk kepalaku, membuat rambut bagian belakangku teracak sedikit. “Tapi aku tidak tahu bagaimana solusinya. Makanya aku tanya padamu, hyeong!” aku memandanginya. “Tapi sepertinya kau juga..”

“Hehe.. mianhae~” katanya dengan senyum kecil di wajahnya.

Aku menyandarkan kepalaku di atas kedua tanganku yang kulipat di atas meja restoran cepat saji itu. “Ahhh.. stresss~!!” keluhku pada diriku sendiri. Tapi setidaknya bebanku berkurang sedikit setelah aku bisa menceritakan semuanya pada Jinki oppa. Tapi sepertinya hari ini ia tidak seperti biasanya. Dia sakit ya?

Chaeyong’s scene END

***

“Aku menyukai Joongki hyeong..” kata-kata itu terus berputar di kepala Jinki dalam perjalanannya pulang ke rumah. Sesaat ia tersenyum miris. Ternyata benar apa yang selama ini ditakutkannya, kedekatan mereka memang tidak seperti saudara biasa. Pantas ia merasa kesal saat keduanya terlihat akrab, meski ia terus menahannya. Tapi akhirnya kekhawatirannya terjawab sudah.

Jinki duduk di salah satu bangku bus yang akan mengantarnya pulang itu. Ia memandangi bungkusan di tangannya. Bungkusan berisi ayam goreng yang tidak ia makan di restoran tadi. Bahkan ayam goreng pun kalah dengan perasaannya. “Inilah kenapa aku tidak suka dekat dengan wanita..” gumamnya, menahan isakannya.

***

Joongki’s scene

Aku tidak boleh melanjutkannya. Perasaan ini, aku tidak bisa membiarkannya berkembang begitu saja! Bodoh! Padahal aku hanya ingin mengeceknya kemarin, tapi kenapa malah jadi seperti ini??

Jantungku tak bisa berhenti berdegub dengan kencang sejak semalam, dan aku tak bisa menghilangkan bayangan tentang kejadian waktu itu. Dan kini pekerjaanku jadi semrawut karena aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Akhirnya, aku memutuskan menunda pekerjaan dan beristirahat di kantin kantor untuk menetralisisr perasaanku, dengan secangkir coklat hangat yang kupesan. Kata orang coklat itu bisa menenangkan pikiran.

“Oi, oppa! Sedang break?” seseorang menyapaku dan langsung duduk berhadapan denganku. YoonHee. Aku mengangguk kecil. Namun tidak menjawab dengan sepatah kata pun. YoonHee membuka bekalnya. Sejak SMA ia tidak menghentikan kebiasaan membawa bekal makan siang dari rumah. “Kau mau?” katanya padaku.

“Hmhh.. gomawoyo!” jawabku, dan kembali menghirup coklat hangatku, kemudian meletakkan cangkirnya dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan.

Ya, oppa! Kudengar hari ini ada festival fotografi! Kau mau datang?” YoonHee memulai obrolan lagi. Sepertinya ia tahu perasaanku sedang tidak enak. “Kulihat kau gelisah sejak pagi! Mungkin datang ke festival bisa mengembalikan perasaanmu jadi baik!” benar, dia tahu.

Aku memandangi coklat hangat didalam cup yang sudah tinggal separuh itu. “Boleh juga!” jawabku dengan senyum kecil.

“Oke, jam 5 ya!” katanya menentukan. Aku mengangguk mengiyakan. Apapun, asal bisa membuatku melupakan pikiranku yang absurd ini.

Joongki’s scene END

***

Pameran fotografi yang diadakan di salah satu universitas di Seoul oleh klub fotografi kampus itu sangat menarik, dan banyak dari masyarakat umum bahkan yang awam tentang fotografi, datang kesana. Mulai dari pameran, kursus singkat fotografi, hingga seminar yang membahas soal dunia potret memotret dan memperkenalkan alat yang memiliki banyak macam itu ada disana. Juga stan-stan yang menjual makanan, aksesoris, hingga menjual kamera dari seri yang paling antik, tustel, hingga lomo, dan kamera paling canggih yang ada sekarang dijual disana. Tempat yang bagus bagi kolektor kamera.

Joongki benar-benar tampak telah melupakan apa yang menjadi pikirannya sejak pagi. Ditemani YoonHee, Joongki berkeliling di seluruh tempat festival itu dengan tampang berseri-seri, terutama saat mereka ada di stand yang menjual lengkap kamera itu. Obat usulan dari YoonHee memang cukup mujarab untuk penyakit Joongki hari itu. Ia senang bisa melihat seonbaenya itu tersenyum cerah kembali.

***

“Jadi lusa kita sudah pertandingan perempat final untuk tim putri! Aku harap kalian tetap jaga kondisi! Jangan begadang dan istirahat yang cukup! Yuri, tolong jangan diet lagi! Stamina mu jadi jelek akhir-akhir ini!” coach langsung bicara dihadapan semua pemainnya begitu mereka berkumpul setelah selesai game.

Ye, coach!” seru mereka. Walaupun beberapa ada yang masih menertawakan teman satu klub mereka.

“Oke, latihan selesai sampai disini untuk hari ini! Besok kita latihan lagi jam 4! Arra??” serunya sekali lagi pada seluruh pemainnya.

Ye, coach!” dan semua langsung menghambur ke loker pemain untuk mandi dan segera berganti pakaian sebelum pulang ke rumah masing-masing.

“Kita buat poin lebih banyak lagi besok lusa!” kata Hyojung, center tim inti mereka pada Chaeyong begitu mereka masuk kedalam ruang loker. Chaeyong mengangguk kecil dengan senyum lebar di wajahnya.

“Aku mohon bantuan semuanya!” Chaeyong berkata sopan.

“Habis ini kita makan sama-sama yuk!” salah satu anggota yang sama tingginya dengan Hyojung mengajak anggota yang lain, dan semuanya mengiyakan.

Tapi Chaeyong yang baru mengambil handuknya dari dalam sport bag langsung mengangkat tangan. “Maaf, tapi hari ini aku ada banyak tugas! Aku tidak bisa ikut!” katanya menyesal.

Arraseo!” salah satu anggota yang berdiri di sebelah Chaeyong mengacak rambut anak itu semangat, kemudian mendahului yang lain masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Chaeyong tersenyum kecil, kemudian menyusulnya diikuti yang lain, masuk kedalam masing-masing stal yang berjejer banyak di dalam kamar mandi yang besar itu.

***

Setelah berpisah dengan anggota klub nya yang lain, Chaeyong berjalan sendirian menuju ke rumahnya yang sudah tidak jauh lagi. Lusa adalah pertandingan untuk menentukan tim mereka akan masuk ke final atau tidak. Ia sudah tidak sabar untuk membawa anggota tim nya menjadi juara se provinsi. Ia ingin gelar kaptennya bisa menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi klub nya.

Di tengah fantasi yang dibuatnya sendiri, ia tak sengaja melihat dua orang yang sangat di kenalnya sedang berjalan sama-sama dengan arah yang sama dengannya. Ke rumah bibi Song. Chaeyong hendak menyapa mereka, hingga keduanya berhenti, dan laki-laki yang diketahuinya sebagai Joongki itu menatap gadis di depannya dengan tatapan serius. Dan sesaat Chaeyong mendengar Joongki baru mengatakan sesuatu pada gadis itu. Dan membuatnya terdiam membatu untuk beberapa saat, kemudian berlar pergi sebelum ia mendengar semua yang Joongki katakan. Ia terlalu takut untuk mengetahuinya.

““Bagaimana kalau mulai hari ini.. kita jalan..YoonHee-a~”

***

Joongki’s scene

“Bagaimana kalau mulai hari ini.. kita jalan..YoonHee-a~” akhirnya aku mengatakannya. Entah apa yang aku pikirkan, menurutku hanya ini cara untuk menetralisir semuanya. Perasaanku.

“Ya, oppa! Kau main-main!” YoonHee terkekeh. Ia pikir aku sedang bercanda sekarang.

“Aku serius.” Jawabku yakin.

Ekspresi YoonHee langsung berubah begitu ia tahu aku benar-benar serius. “Oppa.. tapi orang itu bukan aku kan..” YoonHee tahu aku tidak menyukainya.

Aku buang pandanganku darinya. Berpikir sebentar. Kembali memandang ke arahnya lagi, kemudian menunduk 90 derajat di hadapannya. “Aku mohon, YoonHee-a! Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan! Tolong aku, kumohon~” kataku padanya.

Oppa..”

Setelah cukup lama aku menunduk, kutegakkan badanku dan memandangnya dengan tatapan memohon. Kuharap ia mau menolongku. Dan tepat, YoonHee menganggukkan kepalanya pelan, meskipun ekspresinya masih tidak yakin.

Aku tersenyum lebar padanya, kemudian memeluknya. “Terima kasih~!” kataku padanya. Ini pelukan yang sama, namun terasa begitu berbeda dengan semalam yang lalu. Benar, ternyata aku telah melakukan kesalahan besar, dengan mencintai adikku sendiri.

Joongki’s scene END

***To be Continue***

otteokhe? otteokhe??
hohoho.. don't forget to leave a coment, dan makasih udah baca~!^^v

-Keep Shine Like HIKARI-

8 comments:

  1. just one word ... COMPLICATED !!!!

    apakah hidup si author sebegini rumitnya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekali sekali bikin yang agak ruwet kan ga dosa~ kkk
      hidup gw mah datar2 aja disini, sekedar meneguk segelas air putih, trus ngakak-ngakak di depan PC~hhh :p
      makasih dah baca^^

      Delete
    2. btw itu poster barunya jinki ama joongki terlihat seperti kembar ,, pinter deh ya lu milih abang joong ki pose yg gitu ... kalo ga inget ah in gw embat itu awwwrrrr >_<\\\

      Delete
    3. kan emang mereka mirip.. makanya entah kebetulan entah takdir gw demen orang yang tampangnya hampir sama~ -__-a
      yah, gw lebih suka liat posenya yang natural daripada posenya ala model sih.. lebih asik diliatnya~hhh..

      Delete
    4. sampe sekarang gw masih mikir ada gitu ya orang seganteng joongki ~~~ hhh tapi kenapa kenapa gw pilih ah in coba ....... *tanya kenapa, ngiklan kan* *random*

      Delete
    5. ada itu buktinya.. produk Allah yang indah ya~? hhh
      ya mungkin hati lo suka ama yang tampangnya garang tapi imut gitu?kkk.. *inget ah in di atique bakery ama sunkyunkwan.. satu imut, satu serem~*hh

      Delete
  2. aku ngerasa kasian sama jinki disini...

    mau comment tp kayaknya ga ada yg perlu di comment,, bagus, dari dulu aku suka cara penulisannya, ga bosenin

    hehe keep writing aja ya, ditunggu part selanjutnya. FIGHTING ^^b

    ReplyDelete
    Replies
    1. YOSH! gomawoyo arigato matur tengkyu xiexie~hahaha
      ditunggu juga FFmu yang selanjutnya..hehehe
      keep writing mo~!^^

      Delete