Thursday, August 5, 2010

UNDER THE TREE

Sudah dua jam Fukai duduk di bawah pohon besar di tengah padang rumput itu. Ia sedang berbosan-bosan menunggu sambil mencabuti rumput yang ada di dekat tangannya, kemudian melemparkannya ke depan. Dan rumput-rumput itu pun terbang tertiup angin menjauhi Fukai.

Sepertinya ia sudah benar-benar bosan! Sebentar-sebentar ia memandangi arlojinya, kemudian pandangannya beralih ke depan, memandangi hamparan padang rumput yang luas itu. Ia sudah hampir kehabisan kesabaran, harus menunggu lama begini! Kapan orang tu bisa menepati janjinya seperti dulu? Pikir Fukai seraya memejamkan mat dan meratapi nasibnya.
***

Sebuah mobil jeep merah berhenti di depan sebuah rumah yang sudah lama kosong. Rumah bergaya barat yang masih sedikit memiliki sentuhan gaya jepang. Bisa di bilang, rumah gaya jepang modern. Kemudian, mobil box besar berhenti tepat di belakang jeep tadi.

Beberapa orang muncul dari dalam mobil. Ya, mereka pemilik baru rumah itu, setelah membelinya setengah tahun yang lalu. Mereka adalah pasangan muda dengan seorang anak lelaki seumuran SD kelas 1 yang kini sedang di gandeng ibunya. Anak lelaki dengan kaus biru dan memegang teddy bear itu, ia tidak mau masuk ke dalam rumah barunya karena ia menganggap bahwa itu bukanlah rumahnya. Walaupun ibunya sudah memintanya dan berniat menggendongnya masuk, ia tetap tidak mau!

Seorang anak perempuan dengan dress bunga-bunga yang berdiri di depan rumah seberang, sedari tadi memandangi orang-orang itu sejak mereka datang. Ia tampak senang setelah melihat seorang anak laki-laki muncul dari dalam mobil. Ia merasa akan memiliki teman, dan dia memberanikan diri untuk mendekati anak itu.

Anak perempuan tadi berlari menyeberangi jalan dan mendekati anak itu. Ia tersenyum manis pada ibu muda yang tengah berjongkok di hadapan anak laki-lakinya tadi.

“Oba-chan, bolehkah aku berkenalan dengannya?” tanya anak perempuan tadi dengan manis.

“Soo desu!” kata ibu muda tadi sambil tersenyum ramah.

“Hajimemashite! Watashi wa Himejima Nagisa desu! Nagisa!” kata Nagisa, anak perempuan tadi sambil mengajak anak lelaki itu bersalaman. Anak laki-laki yang umurnya memang lebih muda darinya itu malah bingung. Sesekali ia memandangi ibunya, tapi ibunya hanya tersenyum. “Anata wa?”

“Wa..watashi?” tanya anak lelaki tadi. Nagisa mengangguk sambil tersenyum. Lalu menyalami Nagisa, “Yamada Fukai desu!”

“So ka! Yoroshiku ne!” kata Nagisa.

“Hai!” jawab Fukai sambil tersenyum lebar.

***

Fukai kini sedang menengadahkan wajahnya ke atas sambil tidur terlentang di atas rumput-rumput itu. Sudah hampir empat jam, tapi ia masih setia menunggu seseorang di sana. Padahal sudah hampir tengah hari, dan udara musim panas itu juga sudah menjadi semakin panas.

Tak beberapa lama, ponsel di saku celananya berdering. Ada e-mail masuk. Ia segera membacanya. Pembatalan pertemuan yang ke lima kalinya. Karena kepentingan orang yang ingin di temui Fukai itu. Fukai jadi benar-benar kesal dan rasanya ingin membanting ponselnya itu. Tapi mengingat jerih payah untuk mendapatkannya itu, ia mengurungkan niat buruknya tadi.

***

Dua anak kecil yang berbeda usia itu sekarang sedang bermain di bak pasir di taman bermain di dekat rumah mereka. Membuat istana pasir impian yang kelak akan mereka huni jika sudah besar. Itu adalah pikiran kekanak-kanakkan dua orang siswa SD di daerah Tokyo itu.

Nagisa sedang sibuk mengisi ember dengan pasir, sedangkan Fukai malah menabur-naburkan pasir ke atas pasir yang baru di jumputnya tadi. Anak lelaki itu tidak menghasilkan apapun untuk karya mereka, sampai-sampai Nagisa kesal dengan kelakuan anak itu.

Ia lalu melempar Fukai dengan sekop plastiknya dan mengenai kepala Fukai. Sesaat Fukai diam, kemudian memandang ke arah Nagisa, dan menangis. Nagisa jadi bingung. ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi temannya itu. Ia lalu berdiri dan melompati istana pasirnya sampai hancur. Ia berusaha menenangkan Fukai agar ia tidak menangis lagi.

“Fukai, diamlah! Jangan menangis! Aku kan jadi repot!” katanya sambil menepuk-nepuk pundak Fukai. Tapi Fukai tetap tidak berhenti menangis. Nagisa jadi bertambah bingung.

Sesaat ia ingat dengan sesuatu. Ia punya dua batang cokelat pemberian kakeknya yang baru datang berkunjung. Ia berniat memberi satu pada Fukai agar ia tidak menangis.

“Kore!” kata Nagisa sambil menyodorkan sebatang cokelat ke depan Fukai. Trik ini berhasil. Sesaat kemudian Fukai berhenti menangis. “Jangan mengangis lagi ya!”

Fukai mengangguk sambil menerima coklatnya. Nagisa pun tersenyum, dan mereka kembali bermain.

***

Musim panas yang menyebalkan! Tidak ada libur untuk pegawai yang kerja paruh waktu! Dan tidak di bayar lembur! Menyebalkan sekali! Fukai ingin sekali protes! tapi dia takut di pecat! Makanya ia ikuti saja apa kata bosnya.

Beberapa temannya juga bernasib sama dengannya, tidak bisa menikmati liburan musim panas! Padahal beberapa orang sudah membuat agenda liburan mereka musim panas ini, tetapi semuanya gagal gara-gara pak bos tidak memberikan cuti pada karyawan paruh waktunya.

Sedang serius bekerja, tiba-tiba ponselnya berdering lagi. E-mail. ia membacanya. Ada gambar coklat, dan di bawahnya ada beberapa tulisan, ‘Maaf ya, kau pasti marah padaku karena ini sudah yang ke lima kalinya! Lain kali aku akan menyempatkan diri dan membawakan coklat asli untukmu!^^.’

Fukai tersenyum masam. Ia memandangi ponselnya sambil berkata, “Trik lama! Sudah tidak bisa mempengaruhiku lagi!” katanya, kemudian menutup ponsel dan mengantonginya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, agar bisa pulang dan istirahat!

***

Jam makan siang di sebuah SMA di daerah kanto. Fukai hanya duduk dan terdiam di depan bekalnya. Ia terus memainkan makanannya dengan sumpit, tapi tidak memakannya sedikitpun. padahal sepertinya egg roll itu enak sekali!

Itsuki, pacarnya yang duduk di depannya itu memandangi Fukai heran. Ia takut Fukai tidak mau makan karena bekal buatannya itu tidak enak.

“Fukai! Nan de?” tanya Itsuki, memecah lamunan Fukai. Fukai memandang bengong anak gadis di depannya itu. “Makanannya, kau tidak suka?”

“Ah..tidak! Tidak! Aku menyukainya!” jawab Fukai sambil tersenyum.

“So da! Tabete!” kata Itsuki sambil tersenyum.

“Ah..hai!” jawab Fukai. Ia lalu memakan bekal buatan Itsuki tadi dan berekspresi seperti biasanya. memperlihatkan bahwa ia senang dengan bekal makanan buatan pacarnya itu.

***

Fukai dan Nagisa adalah teman sejak kecil, sejak pertemuan pertama mereka di depan rumah baru Fukai. Mereka selalu bersama di manapun mereka berada. Sudah seperti permen karet! Mereka sangat lengket! Sampai kadang-kadang ada yang kurang jika mereka tidak bersama-sama.

Tapi semenjak Fukai duduk di SMA kelas satu, dan Nagisa kelas tiga (mereka bersekolah di sekolah yang sama), Nagisa jadi agak lain. Tidak, ia tidak jahat pada Fukai. Mereka tetap berteman seperti dulu. Tetapi kapasitas pertemuan mereka menjadi sangat jarang, karena Nagisa sudah memiliki pacar. Seorang siswa SMA mereka juga. Namanya Genzo, jagoan kendo sekolah yang sudah memenangkan banyak kejuaraan. Dan sepertinya, Fukai agak cemburu dengan itu.

Tak lama kemudian, Fukai kenal dengan Itsuki, teman satu angkatan dengannya tapi dari kelas yang berbeda. Mereka berkenalan di klub boga. Fukai ikut klub memasak itu karena ingin memperdalam kemampuannya dalam membuat makanan, dan ia malah bertemu Itsuki. Dan tak lama kemudian mereka berpacaran.



Fukai duduk di hadapan Nagisa yang sedang menyetrika bajunya, sambil melipat tangan di dadanya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada teman kecilnya itu, tetapi seperti berat.

“Emh..Nagisa!” katanya.

“Ya?” tanya Nagisa tanpa berhenti menggosok bajunya.

“Emh..begini!” kata Fukai ragu. Tapi sesaat ia menetapkan hatinya untuk mengatakan hal ini pada Nagisa. Hal yang sudah ingin di katakannya beberapa pekan yang lalu. “Ore ga..kanojo wa imasu!”

Nagisa berhenti sebentar. Ia meletakkan setrikanya ke tempatnya dan memandang ke arah Fukai. Sesaat senyum terkembang di bibirnya. Ia sepertinya senang sekali. “Uso?? Kau jalan dengan siapa?” tanya Nagisa antusias.

Fukai malah kaget dengan keantusiasan Nagisa. Ia seperti berharap Nagisa akan tidak senang dengan pernyataannya barusan.

“Eh..Itsuki!” jawab Fukai. Nagisa jadi tambah senang. Ia kenal dengan Itsuki. Gadis baik yang pintar memasak! Semua anak laki-laki pasti suka jalan dengannya, karena setiap jam makan siang di sekolah ia akan makan enak!

“Hontou ka? Bagus Fukai-kun! Aku mendukungmu! Itsuki itu gadis yang baik! Jadi jangan sakiti hatinya!” kata Nagisa, dan dia melanjutkan pekerjaannya.

Fukai benar-benar tidak puas dengan respon Nagisa. Ia seperti ingin Nagisa marah setelah mendengarnya sudah memiliki pacar, seperti kekesalannya saat tahu bahwa Nagisa juga sudah punya pacar! Dan itu membuatnya benar-benar kesal!!

***

Mendapatkan pekerjaan walaupun dengan gaji yang baru sedikit sudah menjadi hal yang membahagiakan buat Fukai. Sekarang ia tidak harus minta uang saku pada orang tuanya lagi. Ia bisa mendapatkan dengan jerih payahnya sendiri, dan itu lebih menyenangkan.

Ia semangat sekali pada hari pertama bekerja. Ia sampai lupa memberi tahu Nagisa bahwa ia sudah mendapat pekerjaan. Dan saat teringat, ia memutuskan untuk menelpon kawan kecilnya itu. Ingin membagi kabar gembiranya.

“Moshi-moshi! Nagisa!” sapa Fukai dengan nada bahagia.

“Hai! Nan ni?” tanya Nagisa yang saat itu tampaknya juga sedang senang.

“Ah..ano sa..aku mendapatkan pekerjaan pertamaku! Aku jadi asisten chef di restoran kopi dan roti! Datanglah kapan-kapan jika kau sempat!” kata Fukai senang.

“Ah..so da na! Omedetoo!” kata Nagisa. Ia ikut senang.

“Arigato!” jawab Fukai. “Em..Nagisa! Kau sepertinya sedang senang? Ada apa?”

“Ah, iya! Tadi aku baru saja mau menelponmu untuk mengabarkan hal ini!” kata Nagisa. Nada bicaranya jadi lebih bahagia dari sebelumnya. Tapi perasaan Fukai malah jadi khawatir.

“Nan de?” tanya Fukai.

“Genzo mengajakku tunangan bulan depan!” kata Nagisa. Ia lalu berteriak-teriak mengekspresikan perasaan senangnya. Tapi Fukai malah terdiam. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. “Aku senang sekali! Kau harus datang ya!”

“Ah..Hai!” jawab Fukai datar. Ia lalu melepaskan ponsel dari telinganya dan mengantonginya setelah menutup teleponnya. Semangat kerjanya jadi sedikit luntur.

***

‘Sebenarnya ini perasaan apa ya?’ pikir Fukai sambil memegangi dadanya. Ia sejenak memejamkan matanya, kemudian membukanya lagi. Ia merasakan sebuah perasaan aneh pada teman kecilnya. Ia selalu punya kecemburuan besar saat Nagisa tidak ada bersamanya.

Fukai lalu membalik posisi badannya jadi telungkup sambil memeluk selimut tebalnya. Ia jadi heboh sendiri, kebingungan dengan perasaannya.

***

Sudah lumayan lama Fukai jalan dengan Itsuki. Berapa tahun ya? Sekitar..delapan tahun? Sepertinya segitu! Tapi sejak delapan tahun yang lalu itu juga Fukai terus mempertanyakan perasaan sebenarnya. Apakah ia benar-benar menyukai Itsuki, atau gadis itu hanya menjadi pelarian atas perasaannya pada Nagisa? Ia juga tidak tahu, yang jelas, hari ini adalah hari penentuan hidup mereka selanjutnya.

Fukai bolos kerja hari ini. Ia mengajak Itsuki jalan-jalan ke kebun binatang. Acara kencan seperti biasanya. Itsuki senang sekali saat pergi dengan Fukai. Yah, dia memang selalu senang jika bersama dengan Fukai, dimanapun dia berada.



“Kita sampai di sini saja!” kata Fukai sambil menunduk. Ia tidak mampu memandang mata Itsuki. terlalu sakit baginya, menyakiti seorang gadis baik seperti Itsuki.

“Eh, nan de?” tanya Itsuki. Ia masih bingung dengan maksud Fukai.

“Kita..kita sudahi sampai di sini saja! Karena jika terlalu lama, aku takut ini akan menyakiti mu!” kata Fukai. Itsuki memandang Fukai tidak percaya. Ia tidak percaya bahwa hari ini adalah kencan terakhir mereka.

“Nande sonna koto iu noyo!” kata Itsuki. Hatinya sakit sekali. Ia ingin marah pada Fukai. tapi saat melihat tampang Fukai, ia tidak jadi marah. Ia tahu permasalahannya. “Himejima-san? Ini masalah Himejima-san?”

Fukai langsung memandang Itsuki. Ia kaget, tiba-tiba Itsuki berkata begitu. Tapi apa yang dikatakan Itsuki itu benar. Ia sedang shock dengan kabar terbaru Nagisa yang sudah akan menikah sebentar lagi. Ia mendapat kabarnya dua hari yang lalu. Itu sangat mendadak, dan sebelumnya, Nagisa tidak pernah memberi kabar apa-apa!

“Kalau begitu, baiklah! Kita cukup sampai di sini saja! Terima kasih atas semuanya! Janne!” Itsuki lalu pergi sambil tersenyum pada Fukai. Tapi setelah berjalan beberapa meter, air mata mulai meleleh di pipinya.



“Nagisa!” sapa Fukai di telepon.

“Hai!” jawab Nagisa. Sekarang tampaknya ia sedang repot.

“Bisakah kita bertemu di bawah pohon kita? Hari ini!” kata Fukai. Tapi Nagisa memberikan responnya agak lama. Ia malah seperti bercakap-cakap dengan orang lain. “Nagisa?”

“Ah..gomen! Gomen!” kata Nagisa. “Kalau besok mungkin aku bisa! Hari ini aku repot sekali, Fukai-chan! Besok saja ya!”

“Oh..so ka!” kata Fukai, kemudian menutup teleponnya. Ia sepertinya sudah tahu bagaimana perasaannya pada Nagisa.

***

Sejak pembatalan janji yang ke lima kalinya, Fukai sudah tidak berniat bertemu dengan Nagisa lagi. Ia lebih memilih mengerjakan pekerjaannya dari pada hanya terus menunggu orang itu dan hanya menghabiskan waktu dengan percuma.

Salah satu teman kerjanya yang heran langsung mendekatinya dan bertanya, “Kenapa jam segini masih di sini? Biasanya sudah buru-buru mau ketemu orang!”

Fukai hanya tersenyum tipis. “Aku tidak mau lagi! Ia tidak menepati janjinya sampai lima kali! Aku tidak mau lagi!” jawab Fukai.

“Dia..Nagisa itu ya? Yang mau menikah itu?” Fukai mengangguk.Kyozu, temannya itu sepertinya bisa membaca keadaan. “Omae sa..” katanya sambil menepuk bahu Fukai. “Pikirkan benar perasaanmu! Kalau sampai salah, nanti kau bisa sakit hati! Dan kau juga bisa menyakitinya!”

Kyozu lalu pergi.

Awalnya, FUkai tidak begitu paham dengan perkataan Kyozu. Tapi setelah di pikir lagi, dan memori-memorinya bersama Nagisa muncul, ia jadi tahu bagaimana perasaannya sebenarnya. Ia sudah tahu, dan dia tersenyum.

Tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering. Ia lalu mengangkatnya segera. “Moshi-moshi!”
Ia diam sebentar. “Ah, soo desu! Aku akan segera ke sana!”

***

Fukai menghentikan sepedanya di depan bukit, dan meninggalkannya di sana begitu saja. ia lalu menaiki bukit itu dan menemukan sebuah pohon besar. Di bawah pohon itu tampak seseorang sedang menunggunya. Nagisa.



“Kau..ingin mengatakan sesuatu?” tanya Nagisa. “Maaf dengan pembatalan-pembatalan itu!”

Fukai hanya tersenyum sambil menikmati semilir angin musim panas di bukit itu. Nagisa tampak merogoh tas kecil yang dibawanya, kemudian mengeluarkan sebatang coklat.

“Ini janjiku!” kata Nagisa.

“Hei! Aku sudah dewasa ya! Aku 23 tahun tahu! Trik ini sudah tidak mempan!” kata Fukai. Tapi walaupun ia berkata seperti itu, ia tetap menerima coklatnya.

Mereka terdiam sebentar.

“Aku pernah punya pikiran bodoh padamu!” kata Fukai mengawali pembicaraan. “Dulu, aku pikir, aku menyukaimu! Seperti aku menyukai Itsuki! Dan aku sampai memutuskan untuk berpisah dengan Itsuki setelah benar-benar memikirkannya! Tapi sepertinya aku benar-benar salah!”

“Maksud mu?” tanya Nagisa.

“Aku cemburu! Pada Genzo, dan semua hal yang ada di sekitar mu sekarang! Aku tidak munafik!” kata Fukai jujur. “Aku pikir, aku cemburu karena aku menyukaimu! Seperti perasaan suka antara aku dan Itsuki. Dan ajakan pertemuanku yang dulu itu, aku ingin menyatakan perasaanku!”

Mereka diam. Nagisa juga tidak memberikan respon apapun.

“Tapi aku salah! Bukan itu yang aku rasakan!” kata Fukai. Ia tersenyum dan menengadahkan kepalanya ke atas, melihat daun-daun pohon besar yang melambai-lambai di tiup angin itu. “Aku kehilangan seorang kakak!”

Nagisa tersenyum. Fukai juga. Ia lalu melihat ke arah Nagisa. “Aku sudah tidak pernah merasakan punya kakak lagi setelah kelulusanmu! Tidak, sejak kau sibuk di SMA! Kita tidak pernah hangout bersama lagi, dan frekuensi pertemuan kita sedikit sekali! Makanya aku cemburu!”

Nagisa dan Fukai sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Dan itu membuat mereka tidak bertanya-tanya lagi.

***

Resepsi pernikahan Nagisa, hari ini. Fukai di minta menjadi asisten kepala chef pada resepsi pernikahannya dan urusan pengecekan penyajian makanan adalah bagiannya. Ia sudah sibuk lalu lalang di dapur mengecek kekurangan pada masaka masing-masing anak buahnya. Tapi sepertinya semuanya sudah bagus! Fukai merasa puas dengan kerja keras mereka.

“Baik! Silakan di hidangkan!” kata Fukai, dan serentak mereka mengeluarkan makanannya dan menyajikannya pada para tamu.

Fukai duduk di salah satu kursi yang ada di dapur sambil tersenyum bahagia. Ia memang berniat untuk tidak keluar dari dapur dulu sementara waktu. Ia takut akan melakukan hal bodoh.

Tapi tiba-tiba seseorang masuk ke dalam dapur dengan tergesa-gesa. Seorang wanita mengenakan dress warna biru tua. Tapi bagian bawah roknya sobek, sepertinya terkait sesuatu sampai koyak.

“Aduh! Bagaimana ini?” katanya. Ia teus memperhatikan bagian bawah dressnya yang koyak itu.

“Nan ni?” tanya Fukai, merasa harus membantu.

“Ano..” katanya, tapi terhenti begitu melihat orang yang bertanya itu adalah Fukai, ia langsung terdiam.

“Itsuki?”



“Lihat pohon besar di atas sana! itu adalah pohonku dan Nagisa! Di sana aku menyimpan kenanganku dengan kakakku!” cerita Fukai pada Itsuki. Ketika itu mereka sedang bersepeda, dan berhenti sebentar di depan bukit tempat biasa Fukai menghabiskan waktu masa kecilnya dengan Nagisa.

Itsuki tersenyum kecil. Ia suka sekali mendengar cerita masa kecil Fukai. Terdengar sangat menyenangkan.

“Maaf ya, aku dulu bertindak bodoh padamu! Aku sangat bodoh sudah memutuskan hubungan dengan gadis baik seperti kau! Hanya karena ragu-ragu dengan perasaanku!” kata Fukai sambil tersenyum malu.

“Betsu ni!” kata Itsuki. Dia mengerti. Dia memang orang yang selalu mengerti. Fukai sungguh orang yang beruntung!

***

Nagisa kecil berlari sampai ke bukit yang penuh oleh rumput itu, diikuti Fukai kecil yang memang selalu mengikuti Nagisa kemanapun gais kecil itu pergi. Dan mereka sampai di bawah pohon besar. Satu-satunya pohon yang da di bukit itu. Mereka duduk di bawahnya.

“Fukai-chan! Ini pohon kita ya! Jika kita berjanji di bawah pohon ini, kita tidak boleh melupakannya!” kata Nagisa. Fukai mengangguk-ngangguk.




_END_

-Keep Shine like HIKARI-^-^v

No comments:

Post a Comment