Monday, August 22, 2011

[SONGFIC] You Walking Towards Me

Based on Jeong JinWoon's song with the same title~
omo~ nih lagu nge-affect gw banget! -___-
pokoknya, baca ajalaah~ >_<
(TIPS : Bacanya sambil denger lagunya ya, biar penghayatannya nambah!) ^^

You Walking Towards Me


“Ya! Kau sudah selesai?” sebuah suara mengagetkanku dari lamunan. Sesaat aku memandang ke arah orang yang baru saja memanggilku itu. Ia memandang ke arahku dengan tatapan bingung. “Sebentar lagi sudah waktunya manggung lagi!” orang itu menjelaskan.

“Manggung?” aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ah ya, sudah waktunya untuk penampilan terakhirku setelah beberapa menit istirahat. Aku segera beranjak dari dudukku dan meraih gitar yang ada di sampingku. Setelah yang lain bergegas naik, aku juga segera menapakan kaki menaiki tangga besi itu dan bergegas menghadapi semua penonton yang sudah menungguku di depan panggung ini. Panggung tour concert ku.

Aku memasang gitar di badanku, memandanginya sebentar dan menarik nafas untuk melegakan diriku sendiri. Kupandangi semua penonton yang berdiri seolah aku sedang mencari seseorang. Yah.. seseorang yang sebenarnya sangat kuinginkan berada disini sekarang. Namun mustahil dia akan datang.

“JinWoon-a! Palli(cepat)!” lelaki di sebelahku yang bertugas mengiringi konserku dengan bass nya ini menepuk pundakku dan menginstruksikan untuk segera mulai. Yah, aku tidak bisa terus melamun seperti ini. Aku harus mulai.

Yorobun! Masih semangat??” aku berseru pada seluruh penonton yang kini sebagian berteriak memanggil namaku. Aku tersenyum mendengarnya. Yah, aku sangat suka ketika mereka bersemangat menonton konserku. “Terima kasih sudah menonton konser saya selama 2 jam ini! Saya sangat senang! Dan satu lagu terakhir yang akan saya nyanyikan ini, merupakan single andalan di mini album solo saya yang terbaru!” lanjutku, dan seluruh penonton berseru senang. Aku tersenyum, kemudian mendekatkan bibirku kembali pada mic yang terpasang di standing micnya. “You Walking Toward Me..”

Dan suara petikan gitar dimulai, mengawali lagu yang sangat mewakili keadaan hatiku kini, karena kejadian beberapa waktu yang lalu…

♫♫♫

FLASHBACK
Jeogi gilgeon neo neoye moseubi bo inda
Chaga un nun bicheuro nareul, bara boda
Georeonda, georeonda
Neon dori kilsu eobtneun mareul, neureo nohda
Jageun moksoriro chueok deureul
Jjijeo nonda, jjijeo nonda

(I see you from across the street
With cold eyes, you look at me
And you walk to me, you walk to me
You spit out words that cannot be taken back
With a small voice, you take all our memories
And rip them apart, rip them apart)
Dia datang.. aku berbisik pada diriku sendiri. Tidak biasanya ia datang lebih awal seperti ini. Saat janjian, aku memang sengaja datang lebih awal karena tidak mau terlambat saat menemuinya. Tapi dia tipe orang yang selalu terlambat, kenapa kali ini dia datang begitu awal?

Dia datang ke arahku dengan tatapan yang dingin, namun aku piker itu gayanya. Ia duduk di hadapanku setelah meletakkan tas tangannya di atas meja. Aku tersenyum padanya, seperti biasa. Dengan melihat wajahnya saja aku merasa sangat bahagia. Aku senang dia dalam keadaan baik-baik saja.

“Kau datang cepat?” aku basa-basi.

“Kita putus!” katanya tanpa ekspresi.

Aku mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakannya. “M..mwo(apa)?” tanyaku dengan masih menyisakan sedikit senyum di bibirku.

“Kita putus! Lo! Gue! END!” jawabnya.

“Heheh.. jangan bercanda..”

“Aku sedang tidak bercanda, Jeong JinWoon!” ia menjawab dengan tegas.

Apa-apaan ini?? Kenapa dia tiba-tiba sekali?? Bahkan akhir-akhir ini kami tidak pernah bertengkar. Apa dia ada masalah denganku?

“Tapi Miyuki..”

Sayonara~(selamat tinggal~)!” katanya kemudian pergi meninggalkanku terdiam seperti orang bodoh di bangku kantin kampus yang sepi ini. Kata putus. Itu yang baru saja dikatakannya. Kuharap aku salah dengar..

***
Neo e nuneun paran badat mullo nareul deopeot go
Hayan dambae yeongi cheoreom nareul baet neun da
Amugeot do anin geot cheoreom

(Your eyes covered me with the blue ocean
And you spit me back out like white cigarette smoke
As if I'm nothing)
Aku ingin menemuinya sekarang. Usai kelas, aku bergegas menahannya sebelum ia pergi dari hadapanku. Aku ingin mendapatkan kejelasan darinya. Aku ingin tahu alasan sebenarnya memutuskan untuk putus hubungan denganku.

“Miyuki~!” aku memanggilnya. Namun ia tidak menggubrisku. Ia mengacuhkanku dan meneruskan langkahnya tanpa memalingkan wajahnya sekalipun padaku. “Miyuki~!!” aku menarik lengannya, membuatnya berhenti namun tidak memalingkan wajahnya padaku. “Miyuki, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Setelah sepersekian detik, akhirnya wajah itu menghadapiku. Namun bukan raut wajah hangat yang biasa terpasang di wajahnya, melainkan tatapan dingin dan menusuk yang pernah ia perlihatkan padaku sebelumnya. “Tidak ada yang perlu di jelaskan!” katanya ketus padaku.

“Tapi..”

“Lepaskan tanganku!” ia berusaha melepaskan lengannya dari genggamanku, namun aku mencengkeramnya semakin kuat.

“Beritahu alasanmu kenapa memutuskanku?” aku berkata tegas padanya.

Ia memandangku dengan tatapan yang benar-benar tidak ingin kulihat dari matanya itu. “Keurae? Hmmh.. karena aku sudah tidak suka padamu! Jadi, lupakan aku!” jawabnya percaya diri. Membuatku pelan-pelan meloloskan cengkeramanku dan tangannya terlepas beberapa saat kemudian. Ia tampak kesakitan dan menggosok-gosok pergelangan tangannya. “Ka(pergi)!” katanya, kemudian pergi meninggalkanku.

Sebegitu mudahnya ia mengatakannya? Ia sudah tidak menyukaiku.. jadi apa artiku untuknya selama ini.. tidak ada?? (you spit me back out like white cigarette smoke, as if I'm nothing).

***
Machi pado e morae seongi sseullyeo ga deut
Gieok deureun ijji do anhat, deon geot cheoreom
Geureohke, kkeut naeryeo handa

(Just like a sandcastle crumbling with the waves
Just like our memories were never there
You end it like that)
Aku tidak bisa berpikir. Bahkan untuk menyelesaikan pekerjaanku membuat lagu, aku sama sekali tak bisa menghasilkan apapun. Pikiranku mengalami stagnasi, dan hatiku masih belum bisa menyelesaikan tugasnya untuk merapihkan puing-puing yang berserakan. Yang disebabkan oleh gadis itu, yang fotonya terpampang rapi di atas meja belajarku.

Aku memandanginya sejenak. Foto itu jelas dan cantik. Senyumnya padaku tidak pernah pudar meski subjek aslinya sudah tidak sudi lagi menyunggingkan lengkung cantik di bibirnya itu untukku. Namun sesaat kemudian gambar itu mendadak buram, tertutup oleh bola-bola air yang muncul dari kantung mataku, yang sesaat kemudian meleleh di pipiku. Ya.. aku menangis.

Sesaat memori-memori tentang kita itu muncul. Saat pertama aku mengenalmu di gerbang kampus, kau yang tidak bisa berbahasa korea itu bertanya padaku dengan gerakan tanganmu. Dan sejak saat itulah kita menjadi teman. Kita menjadi dekat. Jika seseorang bertemu denganku, dia selalu menemukanmu ada bersamaku, begitu juga sebaliknya.

Setelah kunyatakan perasaanku di musim dingin setahun yang lalu, kita melakukan kencan pertama dengan jalan-jalan menyusuri Jalan Myeongdong dan nekat makan es krim di hari sedingin itu. Meski setelah pulang aku langsung kena flu, tapi entah kenapa saat mendengar suaramu melalui ponsel aku merasa sehat kembali. Kau seperti obat untukku.

Musim semi, kau mengajakku datang ke rumahmu di Tokyo, mengunjungi keluargamu dan juga ingin menunjukan padaku hanami. Kita melihat bunga sakura yang bermekaran bersama anggota keluargamu yang lain. Aku masih ingat, kau benar-benar tidak bisa membuatku mengalihkan perhatianku darimu, meski bermaksud datang untuk melihat kecantikan bunga sakura, namun aku lebih sering memperhatikanmu dari pada pohon-pohon bunga itu.

Musim panas, aku mengajakmu pergi ke pantai dan kita berlomba membuat istana pasir. Aku kalah, tepatnya mengalah. Karena kau terus-terusan menghancurkan istana buatanku hingga kau memutuskan sendiri kau yang jadi pemenangnya. Meski begitu, aku bisa tertawa lepas melihat ekspresi kekanakanmu yang selalu menjadi favoritku.

Namun kini, musim gugur tahun ini, kau menghancurkan memori kita bagaikan menghancurkan istana pasir yang aku bangun saat itu. Begitu mantap dan tanpa ragu. Sesaat, memori yang sedang aku ingat seperti kau tidak pernah ada didalamnya. Kau membuatku sangat ingin melupakanmu. Namun hal itu terlalu mustahil untuk kulakukan. Haruskah aku melakukannya?

***
Naega meonjeo neoreul dwiro hanchae meoreo jinda
Ajik son kketeun neoreul hyang hago ijjiman
Meoreo jinda, meoreo jinda

(I turn around first and get further from you
Although the tips of my hands are still toward you
I'm getting further, I'm getting further)
Aku memutuskan untuk melakukannya. Aku akan melupakanmu.

Masih tidak bisa hilang dari pikiran dan hatiku, semua tentangmu. Saat tak sengaja bertemu, aku masih merasakan debar-debar di jantungku. Kau masih membuatku merasakan aku benar-benar mencintaimu. Meski kau terus berusaha membuatku benci, aku tidak bisa. Namun setidaknya aku berusaha menuruti apa katamu, untuk melupakanmu.

Masih belum jelas apa maksudmu dengan semua ini. Aku berharap aku sedang bermimpi. Namun sepertinya tidak, karena rasanya ini sangat nyata. Kau meninggalkanku tanpa alas an, hanya istilah kekanakan yang kau lontarkan itu yang masih aku ingat. Kau sudah tidak menyukaiku. Dan meski kini hatiku masih ingin berpegang pada hatimu, aku memutuskan untuk berbalik arah. Menunjukkan punggungku padamu, kemudian berlalu pergi meninggalkanmu.. (I'm getting further, I'm getting further).

***
Chameulsu eobtneun apeum deureul, ganjik hanchae
Majimak neoye moseubeul du nune dam neun da, hajiman

(As I hold in this pain that I cannot endure
I try to close my eyes with the last image of you but...)
Neomu apha yo~(benar-benar menyakitkan~)! Jeongmalyo(sungguh)! Rasanya seperti tidak bisa menahannya lagi. Kau mencabikku sampai ke hati yang paling dalam. Dan sekali lagi aku mencoba.. menahannya.. demi kau.

Kupejamkan mataku, mencoba menahan sakit dan berdoa agar setelah kubuka mataku, aku akan segera melupakanmu. Namun..

FLASHBACK END

♫♫♫

Kubuka mataku. Aku tersadar, aku baru melamun ditengah nyanyianku. Namun aku juga merasa benar-benar lelah, karena meski aku berada dalam lamunan, bibirku masih melanjutkan lirik lagu ini. Aku melihat kedepan, dimana seluruh penonton memperhatikanku dan mulut mereka ikut melantunkan lagu yang sama denganku.

Neo e nuneun paran badat mullo nareul deopeot go
Hayan dambae yeongi cheoreom nareul baet neun da
Amugeot do anin geot cheoreom
Machi pado e morae seongi sseullyeo ga deut
Gieok deureun ijji do anhat, deon geot cheoreom
Geureohke, kkeut naeryeo handa
(Your eyes covered me with the blue ocean
And you spit me back out like white cigarette smoke
As if I'm nothing
Just like a sandcastle crumbling with the waves
Just like our memories were never there
You end it like that)”

Aku seperti berteriak melawan sakit hatiku. Kuteriakkan lirik lagu ini dalam nada tinggi, dengan harapan aku merasa lega setelah ini. Aku harap kau mendengarnya! Ini bukan hanya sekedar nyanyian, ini ungkapan perasaanku! Kau mendengarnya?

Suara iringan alat music berangsur pelan, tinggal suara petikan gitarku yang masih konsisten, mengiringi phrase akhir lagu yang aku nyanyikan. Dengan mata tertutup, kunyanyikan sepenuh hati..

Jeogi gilgeon neo neoye moseubi bo inda
Chaga un nun bicheuro nareul, bara boda
Georeonda... Georeonda...
(I see you from across the street
With cold eyes, you look at me
And you walk to me, you walk to me)”

Bersamaan dengan berakhirnya lagu ini, berakhirlah konserku, juga hatiku..


***END***

thanks for reading and don't forget to leave a coment!^^
dan jangan bosen-bosen baca-baca disini yaa~ *Pe.De* hahaha

-Keep Shine Like HIKARI-

1 comment:

  1. Geureohke, kkeut naeryeo handa ♫
    YES, Authornim! you end this fic just like that </3

    ReplyDelete