Thursday, May 5, 2011

Oh My Friend [SE7EN] [Last Part]

Haik! Akhirnya~ ini jadi part terakhir, dan semoga saja nggak menyebalkan~ xO
Pengen bikin sesuatu yang berkesan sebenarnya.. tapi maaf klo dalam penyampaiannya agak kurang..namanya juga amateur~ masih belajar~ hhhe
oke, selamat membaca!^^

Oh My Friend (se7en)


"Cita-cita?" SeungRi bergumam sendiri setelah mendengar gurunya menanyakan sesuatu tentang hal itu padanya. Pak guru mengangguk, dan menatap anak didiknya itu dengan senyum tipis. Kali ini SeungRi sedang giliran konsultasi tentang masa depannya, setelah sebelumnya beberapa temannya sudah menghadap pak guru dan berkonsultasi. Bukan kegiatan resmi yang harus semua murid lakukan, tapi guru wali kelas SeungRi seperti mengharuskan siswanya melakukan konsultasi meski mereka baru kelas 1.

"Iya, seperti jadi peneliti mungkin, atau astronom.. kau ingin lakukan sesuatu dimasa depan?" tanya Pak guru lagi. SeungRi memutar matanya. Ia tidak bisa menangkap sesuatu dipikirannya. "Ah..araseo..bapak tahu, tidak mudah untuk benar-benar mengetahui apa yang kau inginkan!" Pak guru tersenyum, kemudian menghela nafas. "Tapi bapak tahu kau bisa melakukan sesuatu nantinya! Kau akan bersinar!"

SeungRi tersenyum malu. "K..keuraeyo?" katanya. Pak guru mengangguk mantab.

Cita-cita ya? Sejak dulu ia tidak pernah memikirkannya. Yang ia pikirkan hanya bersenang-senang setiap hari. Berangkat ke sekolah, bertemu teman-teman, kemudian bermain-main. Ia hampir tidak pernah memikirkan bagaimana dirinya kelak dimasa depan. Apa dia bisa terus hidup dengan bersenang-senang, ataukah ia harus mengubah cara hidupnya. Ia tidak terpikir sama sekali. Sedangkan teman-temannya yang sudah memupuk mimpi mereka sejak awal, ia baru tersadar sekarang.

SeungRi memandang jauh keluar dari jendela kelasnya. Berpikir sejenak, apakah kelak ia masih bisa merasakan hal seperti ini dengan tenang.

***

"TABI HYEONG BERHENTI SEKOLAH??" JiYong berteriak keras mendengar pernyataan ChaeYong barusan di ruang kecil markas mereka itu. ChaeYong memukul jidat JiYong dengan gulungan kertas pamflet yang dibawanya itu pelan.

"Biasa aja deh oppa, nggak usah sok drama!" ujar gadis itu sensi. JiYong nyengir, kemudian kembali duduk di bangkunya.

"Itu semua salahku hyeong! Mianhada..~ " ujar DaeSeong yang sejak tadi bersama mereka berdua. Ia tidak enak hati. Selama ini ia sok tidak tahu tentang ini, padahal ia penyebab semuanya.

"Sudahlah! Tabi oppa juga tidak menyalahkanmu! Ia keluar karena kemauannya sendiri!" ChaeYong menenangkan DaeSeong, meski anak lelaki itu masih terlihat merasa bersalah.

"Sekarang dia dimana?" tanya JiYong peduli.

"Ia dirumah, tapi jam pulang sekolah, biasanya ia part time di retail dekat rumah!" jawab ChaeYong jujur. "Ia masih bingung mau ngapain selain melakukan itu. Tapi ia pasti bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri!" ChaeYong tersenyum. "Kau juga, JiYong oppa, DaeSeong oppa!"

"Tentu saja! Aku sudah melakukannya malah!" JiYong tersenyum bangga.

ChaeYong menaikkan sebelah alisnya. "Melakukan apa?"

JiYong nyengir lebar. Ia kemudian mengambil sesuatu dari kantor seragamnya, kemudian membuka kertas itu lebar-lebar didepan ChaeYong dan DaeSeong yang penasaran. "Mwo???" keduanya berteriak bersamaan. Sedangkan JiYong masih mesem-mesem bangga melihat dua orang dihadapannya masih membaca tulisan di kertas itu tidak percaya. "Jinchayo, hyeong??" DaeSeong berteriak takjub. JiYong mengangguk. "Daebakiya!"

"Jadi mulai kapan oppa akan jadi mahasiswa?" tanya ChaeYong yang tampangnya sudah berubah cerah. Ia tersenyum lebar, kemudian meraih kertas itu dan membacanya berulang-ulang.

"Tahun ajaran baru nanti aku sudah jadi mahasiswa!" ujarnya dengan senyum puas.

"Assa! Keren sekali oppa! Chukkae!" ujar ChaeYong tulus. JiYong mengangguk tanda berterima kasih. Sedangkan DaeSeong hanya ikut tersenyum lebar. Ia tampak gembira. "Tapi..kalau satu lagi lulus dari sekolah, genk kalian tinggal bertiga donk di sekolah?"

"Aigoo~ benar juga!" JiYong terpancing pikiran ChaeYong.

"Yah! Yang seperti itu tidak penting hyeong!" DaeSeong memperingatkan, kemudian menepuk kepala ChaeYong pelan.

JiYong menghela nafas, mengulur badannya sedikit sambil memandang sekeliling ruangan. "Oh ya, ngomong-ngomong dimana SeungRi dan YongBae? Kok mereka nggak kelihatan?" tanya JiYong pada keduanya.

DaeSeong menggeleng, sedangkan ChaeYong yang baru ngeh setelah beberapa menit, baru menjawab. "SeungRi di kelas terus sejak pagi. Ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu!" jawab ChaeYong jujur.

"YongBae ga?"

***

YongBae.. dia sedang tidak mau menemui siapapun saat ini. Sepertinya begitu. Karena sejak datang ke sekolah, ia tidak mengikuti pelajaran. Ia duduk di atap sekolah, bersandar pada pagar tembok atap itu sambil merotasikan bola basketnya di ujurng jarinya, dan sesekali ia memainkannya, kemudian tersenyum kecil. Ia sangat ingin memainkan bola itu lagi sebenarnya, tapi sepertinya itu tidak akan mungkin lagi.

~FLASHBACK~

Tidak puas dengan analisis dokter kemarin malam, ia kembali pada dokter itu sehari kemudian, namun tanpa ditemani tetangga apartemennya. Ia membawa hasil rongentnya juga. Ia ingin protes pada dokter yang memvonisnya tidak bisa main basket lagi.

"Aku sudah mengusahakannya Dong YongBae-ssi! Tapi memang tidak bisa!" Dokter berkata tegas. Namun YongBae belum puas juga.

"Apa tidak bisa dilakukan operasi atau semacamnya? Akan aku bayar berapapun untuk itu, asalkan aku bisa main basket lagi!" protes YongBae.

Dokter menggeleng. Ia mengambil hasil rongent kaki YongBae, kemudian menempelkannya di papan yang diterangi lampu itu. "Tulang kakimu patah disini! Aku dan tim dokter sudah mengusahakan yang terbaik untuk membuat keadaan kakimu kembali seperti semula! Namun kakimu sudah rapuh! Seperti ini.." dokter mengambil sebuah cawan di atas mejanya, ia kemudian mnjatuhkannya, dan pecah menjadi beberapa bagian. "Kalau sudah seperti ini, biar di sambung dengan apapun, ia pasti akan jadi lebih rapuh, meski dari luarnya ia baik-baik saja! Hal ini sama dengan persoalan tulang kakimu, Dong YongBae-ssi! Cwesonghamnida!" dokter meminta maaf. Sedangkan YongBae yang tidak puas, hanya bisa terduduk didepan dokter dengan tampang tidak percaya.

~FLASHBACK END~

YongBae tersenyum simpul, sambil terus memperhatikan bola basket yang ia mainkan di tangannya. Sesaat ia menghela nafas, kemudian pergi dari sana sambil mendrible bolanya dan memainkannya lagi.

---

Lapangan basket sekolah masih sepi. Sekarang jam pelajaran, terang saja lapangan basket indoor itu tak berpenghuni. YongBae berdiri di tengah-tengah lapangan, ia melihat ke arah ring basket yang ada beberapa meter didepannya. "Basuketo.. GoodBye!" ujarnya, kemudian berlari sambil mendrible bolanya dan melakukan slam dunk. Untuk yang terakhir kalinya. Ia tidak akan bermain-main dengan bola itu lagi, dan lapangan ini yang semula adalah impiannya seumur hidup.

***

"Jinchayo?" Tabi menoleh dengan sendok berisi eskrim dimulutnya. Ia mengernyitkan keningnya, kemudian berjalan dan duduk di meja makan, berhadapan dengan adiknya yang juga membawa sendok untuk makan eskrim yang baru diambil Tabi dari kulkas.

"Iya! Sepeninggalanmu dari sekolah, mereka jadi sedikit meyedihkan! Kecuali JiYong oppa yang memang dari dulu paling beruntung!" jawab ChaeYong seraya menyendok eskrim dihadapannya kemudian melahapnya. "DaeSeong oppa mengalami penurunan prestasi, SeungRi jadi murung terus tiap hari, dan YongBae oppa, aku tidak pernah bertemu dengannya! Tapi aku dengar, ia baru keluar dari klub basket!" ujarnya lagi jujur.

Tabi mengunyah eskrimnya sambil melihat kearah lain. "Tabi-ya, kau tidak berpikir untuk kembali ke sekolah? Buat surat permohonan gitu~" tanya ChaeYong asal.

"Nggak mungkin segampang itu, paboya!" Tabi protes sambil kembali menyendok es krim dihadapannya.

"Tapi, kalau kau ingin kembali melihat sekolah, datang saja ke festival sekolah satu bulan lagi! Akan ada banyak pameran dan pentas seni di gymnasium! Datang ya, Tabi-ya!" ajak ChaeYong. Tabi seperti tidak mendengarkan ucapan adiknya itu, ia asik sendiri dengan eskrim dihadapannya. "Yah! Tabi-ya! Kau tidak mendengarkanku??"

"Tabi-ya! Tabi-ya! Kamu ini kurang ajar ya!!!" teriaknya dengan tampang seakan ingin menggigit wajah ChaeYong, dan membuat gadis itu mengkerut.

"Cwesonghamnida~" ujarnya sopan sambil menunduk dan sesaat menyendok eskrim dan memakannya pelan-pelan dengan tampang ketakutan.

***

1 Bulan kemudian.

FESTIVAL TAHUNAN SEKOLAH. Perayaan dalam rangka ulang tahun sekolah. Pada hari itu semua aktifitas belajar mengajar akan diliburkan dan seluruh warga sekolah akan mengikuti semua rangkaian acara yang dibuat. Mulai dari stan yang di siapkan di setiap kelas, bazar di halaman depan sekolah, hingga pentas seni di gymnasium sekolah yang telah ditata dengan panggung dan banyak lampu-lampu di atapnya. Tidak hanya warga sekolah, masyarakat umum dan siswa sekolah lain boleh ikut masuk kedalam sekolah dan menikmati pesta tahunan sekolah tersebut.

Masing-masing kelas membuat stan mereka sendiri, mulai dari cafe kecil hingga macam-macam pertunjukan kecil dalam kelas untuk menghibur mereka yang bersedia menontonnya. Kelas SeungRi, membuat sebuah cafe kecil menjual berbagai macam makanan. Tapi nampaknya kedai kecil mereka sepi pelanggan. Hanya ada satu-dua orang yang bersedia mampir di kedai dalam kelas itu, padahal mereka merasa makanan yang mereka jual dan ruang kelas itu sudah ditata dengan menarik.

"Hahh..kalau begini modal kita ludes!" salah seorang dari anak perempuan yang memakai celemek merah jambu menggerutu seraya duduk diatas bangku didepan penggorengan. "Yah! Berhenti memakan dagangan kita sendiri!" peringatnya lagi pada seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari gadis tadi. "ChaeYong-a!!"

"Ne, mianhamnida!!" ujarnya, kemudian berbalik dan duduk disebelah gadis itu.

"Kita harus lakukan sesuatu!" anak laki-laki yang sejak tadi memainkan gitarnya diantara mereka memberi usul.

"Kau punya ide?" tanya ChaeYong dengan makanan dimulutnya dan membuat pipinya sedikit menggembung. Anak laki-laki itu menggeleng. ChaeYong melengos, kemudian menyandarkan punggungnya pada punggung kursi itu. Sambil mengunyah makanannya, ia tampak berpikir, dan sesaat kemudian ia seperti mendapat wahyu. Ia tersenyum lebar sendirian hingga membuat teman-temannya hanya mengernyitkan dahinya. Apa yang sebenarnya dipikirkan anak ini?

---

Hari festival sekolah, sepertinya tidak selalu menyenangkan juga bagi setiap orang. Terutama untuk yang satu ini.

"BERHENTI MENGGANGGUKU ATAU KAU AKU HABISI LAGI!" terdengar suara teriakan dari salah satu sudut sekolah yang sepi dari manusia. Tempat itu sangat jauh dari bazar festival. Terlihat DaeSeong dengan baju seragam yang tidak rapi lagi dan rambut yang acak-acakan menatap semua yang ada dihadapannya dengan tampang kesal. "PERGI!" DaeSeong berteriak lagi. Orang-orang dengan banyak luka disekujur tubuhnya dan bat baseball di tangan, akhirnya berjalan pergi satu-persatu. Mereka sepertinya yakin untuk tidak main-main lagi dengan DaeSeong.

DaeSeong mendesah, ia tampak sangat lega. Ia mengelap keringat diwajahnya dengan lengan bajunya, kemudian mengambil tas sekolahnya dan pergi dari sana sambil merapihkan dasinya. Ia kembali ke tengah bazar seperti tidak pernah terjadi apapun. Ia berjalan menuju kelas, namun ditengah jalan ia menabrak seseorang. "Cwesonghamnida! Cwesonghamnida!" katanya, kemudian bergegas pergi, namun orang itu menghalanginya, dan membuat DaeSeong curiga. Apakah orang itu akan mengganggunya juga? "W..wae yo?" tanya DaeSeong sambil melihat wajah orang yang mencegatnya itu.

Bukan orang yang menyeramkan. Perawakannya setinggi DaeSeong..emm, mungkin sedikit lebih tinggi, namun badannya jauh lebih besar. Sebenarnya tidak gendut, tapi akibat memakai jersey besar itu, badannya jadi tampak gendut. Wajahnya tanpa ekspresi, dan ia sudah terlihat berumur. Ia memandang DaeSeong dengan kue mochi di mulut dan sebatang sumpit kayu ditangannya. Namun tanpa disangka, ia tersenyum lebar, dan membuat matanya menyipit. "Kau tidak seperti yang aku kira! Anak muda yang sopan!" ujarnya tiba-tiba.

"N..ne?"

Pria dengan jenggot tipis dan kacamata ber-frame hitam itu meletakkan sumpitnya di atas piring kertas berisi mochi di tangan kirinya, kemudian mengambil sesuatu dari saku jerseynya. "Baca ini! Aku malas memperkenalkan diri." ujarnya ramah seraya menyerahkan selembar kertas kecil berwarna cream. Sebuah kartu nama. "Aku tahu kau dari seseorang! Makanya aku mengikutimu selama sebulan ini, kau sungguh kuat ya? Aku tertarik padamu! Sudah berapa orang yang kau habisi?" ujarnya, kemudian melahap satu mochi lagi. "Kenapa tampangmu seperti itu?"

"Ah..ahniyo.." jawab DaeSeong.

"Tenang saja! Aku bukan sedang mencari anggota pembunuh baru! Aku pemilik sasana tinju Jang di ujung blok!" ujarnya dengan senyum. "Kalau kau tertarik, kau boleh datang!" ujarnya lagi. DaeSeong masih membaca kartu nama itu. Sasana tinju..?

---

Kelas 1-3. Masih sepi pengunjung rupanya. Namun tak lama seseorang datang menghampiri kedai kecil mereka dan tampak tertarik dengan makanan yang di pajang diatas meja. Beberapa anak perempuan yang berjaga disana langsung datang berama-ramai. "Eoso oseyo! Silakan duduk!" ujar mereka sambil mempersilakan orang itu untuk masuk.

Laki-laki dengan hoodie biru dongker itu menggeleng kecil. "Gomawo..tapi aku cuma mencari ChaeYong! Dia disini?" tanya orang itu.

"Aigoo! Aigoo! Kau SeungHyun oppa? Aku tidak menyadarinya!" teriak salah seorang dari mereka. Tabi mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.

"Jadi dagangan kita masih nggak laku?" ujar yang satu lagi, dan kembali ke bangkunya. Tabi kembali tampak melihat-lihat ke arah makanan-makanan itu, kemudian mengambil salah satu dan memakannya. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat kearah mereka dengan cepat, diikuti beberapa suara teriakan protes dari seseorang.

"Aku datang!!!" teriak ChaeYong setelah sampai didalam kelasnya.

"Yah!! Apa-apaan kau ini?? Main tarik aja!" teriak anak laki-laki yang baru saja dibawanya. SeungRi. ChaeYong nyengir kecil. Ia tidak melihat Tabi yang sedang dengan seenaknya melahap makanan dihadapannya tanpa menghitungnya. Tak lama seorang lagi datang dengan beberapa kostum opera.

"Ini kostum yang tidak dipakai di pertunjukan hari ini! Mau digunakan untuk apa?" tanya orang yang baru datang itu. ChaeYong segera merebut kostum itu. Sebuah rompi dengan motif garis, dasi kupu-kupu dan sebuah topi tinggi warna merah maroon.

ChaeYong memakaikan semua perlengkapan itu setelah melepas jas seragam dan dasinya. Dan setelah semuanya selesai, ia menyodorkan semua alat sulap SeungRi yang ia ambil dari dalam tas sekolah anak laki-laki itu. Semuanya alat sulap, tidak ada buku didalam sana. "Apa maksudnya?" tanya SeungRi bingung.

"Aku yakin keahlianmu akan berguna disini!" jawab ChaeYong seraya mendorong SeungRi kedepan pintu kelas. "Hibur mereka dan tarik pelanggan ke kedai kita!" lanjutnya. SeungRi menatap ChaeYong ragu, namun anak perempuan itu memberinya semangat sehingga membuatnya mau melakukannya.

"O..oke! A..annyeong haseyo! Chonun Lee SeungRi imnida! Kali ini saya akan mempraktekan sesuatu yang mungkin akan menarik! Gamsahamnida!" teriaknya mencari perhatian. Dan ia mulai mempraktekan satu sulap. Sebuah sulap sederhana. Ia melihat seseorang melintas, dan dengan sengaja ia mengeluarkan setangkai bunga dari balik telinga orang tersebut dan membuatnya takjub. Awalnya hanya sedikit yang memperhatikannya, namun sejurus kemudian, banyak sekali yang tertarik pada pertunjukannya dan membuatnya makin percaya diri, menambah semangatnya untuk menunjukan trik-trik sulap yang sudah ia pelajari selama ini. Disamping itu, kedai kecil mereka kini ramai pembeli.

***

"Lalu aku mengeluarkan seekor burung dari hidungnya! Percayakah hyeong! Aku bisa melakuakn itu pada orang lain! Omo~! Aku benar-benar senang!" SeungRi berseru gembira dihadapan keempat hyeongnya setelah festival berakhir. Kini mereka sedang berkumpul di sebuah kedai kopi kecil tak jauh dari sekolah.

"Berhentilah menceritakannya! Sudah lebih dari 20 kali aku mendengarnya! Kau menjijikkan sekali!" ujar Tabi kesal pada SeungRi. Sedangkan yang diperingatkan tidak peduli, malah melanjutkan ceritanya pada yang lain.

SeungRi tersenyum simpul. "Jadi pesulap! Seni pertunjukan.. mungkin itu yang akan aku lakukan nantinya!" SeungRi tersenyum lebar. "Aku sudah menemukannya~~!" SeungRi berteriak senang.

"Anak ini kenapa sih??" Tabi menggerutu heran, sedangkan tiga kepala yang lain hanya menggeleng dengan senyum geli.

"Lalu hyeong, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya JiYong pada Tabi setelah meneguk kopinya.

"Tidak tahu! Bekerja di retail 24jam itu satu-satunya yang aku lakukan sekarang! Selebihnya..aku belum tahu!" jawab Tabi sekenanya. "Kau, YongBae-a? Aku dengar kau keluar dari klub? Lalu apa yang akan kau lakukan nanti?" tanya Tabi pada YongBae yang sedari tadi paling diam.

"Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya belajar keras! Mungkin aku akan menjadi karyawan atau semacamnya, pekerjaan kantoran biasa!" jawabnya.

Tabi melirik ke arah DaeSeong. Ia tidak mengatakan sesuatu, hanya menghela nafas pelan, kemudian menyandarkan punggungnya pada punggung kursi dan menghisap kopinya. DaeSeong mengambil kartu nama bapak-bapak yang menemuinya di festival sekolah tadi. Ia membacanya. Jang MongYoon. Sasana Tinju Jang. "Kartu nama ini benar-benar tidak kreatif!" komentarnya berbisik.

***

Pagi.

GRASAK! GRUSUK!

"Aigoo!!" teriak seseorang dari balik semak. Baru saja ada orang yang jatuh dibalik semak setelah sepertinya skuternya ngadat ditengah jalan. Seseorang yang melihatnya segera berlari kearahnya, kemudian menolong orang itu.

"Gwaenchana??" tanya laki-laki botak 3centi dengan seragam sekolah itu setelah menolongnya. "Hati-hati sonsengnim!" ujarnya lagi.

"Gomawo!" jawab orang yang baru ditolong itu, kemudian membersihkan sweater maroonnya. Anak laki-laki tadi membangunkan skuternya dan menegakkannya. "Bukankah kau Dong YongBae?" tanya pria berkacamata dengan badan tegap yang jatuh tadi.

"Y..ye, sonsengnim!" jawab YongBae sopan. Ia lalu tampak mengutak-atik mesin skuter itu setelah membuak di bagian mesin dengan alat yang selalu ia bawa kemana-mana itu.

"Kau tahu soal mesin?" tanya pak Guru itu lagi sambil memperhatikan bagaimana YongBae mengangguk.

"Ya..sebatas untuk membenahi kerusakan kecil!" jawab YongBae jujur tanpa menghentikan kegiatannya.

"Kau baru keluar dari klub karena cideramu kan?" tanya Pak Guru asal. Dengan senyum ragu, YongBae mengangguk membernarkan. "Kenapa tidak mencoba menekuni tentang mesin! Meskipun kau tidak begitu mencintainya seperti dengan basket, tapi kalau kau menekuninya, pasti akan membuahkan sesuatu untukmu!" usul pak guru.

YongBae terdiam. "Menekuni mesin..Umh.." gumamnya ragu, namun tangannya yang sempat terhenti, kembali melanjutkan kegiatannya.

***

Didepan sasana tinju Jang. Seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah lengkap, ransel, dan rambut yang disisir cukup rapi berdiri tegak sambil menatap papan nama sasana tinju tersebut tanpa berkedip. "Masuk? Tidak? Masuk? Tidak?" gumamnya bingung.

Ia masih sangat ingin melanjutkan mimpinya sebagai seorang guru sebenarnya. Namun, ia seperti tidak pantas lagi dengan pekerjaan itu. Ia mengingat pengalamannya dimasa lalu. "Seorang guru, tidak boleh memiliki catatan kriminal!" Tabi pernah mengatakan itu, namun ia punya banyak catatan kriminal. Ia sudah menghabisi banyak orang yang mengganggunya. Meski hanya untuk membela diri, tapi hal itu tetap saja tidak dibenarkan.

DaeSeong lalu meneguhkan dirinya. Dan dengan cukup mantab, ia membuka pintu gerbang kayu sasana tinju itu dan masuk kedalamnya.

=== 7 Tahun Kemudian ===

Udara pagi yang lezat. Hari ini sangat cerah. Awal musim semi, hari dimana anak-anak sekolah mulai melangkahkan kaki kembali ke sekolah mereka setelah cukup lama dengan liburan musim dingin. Begitu juga dengan SeungRi, dengan langkah mantab, ia berjalan ke jalan myeongdong. Ia berdiri disalah satu sudut dengan segala peralatan sulapnya. Dengan kostum lengkap dan topeng warna putih ala pantomim, ia menghibur seluruh pejalan kaki di myeongdong. Bukan pekerjaan yang terlalu istimewa memang, tapi ia senang melakukannya.


Ia sebenarnya adalah pemain opera, setelah 2 tahun yang lalu ia ikut peruntungan dengan mendaftar ke universitas seni, di jurusan seni pertunjukan. Kini ia tidak hanya bisa menghibur beberapa orang dengan sulap klasiknya, namun juga menghibur banyak orang dengan bermain di panggung opera.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Setelah usai dengan satu pertunjukan lagi, ia melepas topengnya, merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Sebuah pesan pendek baru saja masuk. Dengan senyum kecil, ia membalasnya, kemudian kembali mengantongi ponselnya. Ia memandang ke awan sejenak dengan senyum cerah. Hari ini pasti akan jadi hari baik!

***

Terdengar suara berisik dari sebuah tempat di tengah kota Seoul. Sebuah bangunan yang dikenal sebagai bengkel. Terlihat seseorang dengan wearpack biru, topi hiphop dan earphone di salah satu telinga sedang mengejakan sesuatu dengan banyak kunci inggris. Membenahi mesin mobil mewah dihadapannya. "Bos! Ada yang nelpon tuh!" seseorang tampak memanggilnya dari ruang kantor kecil di salah satu sudut bengkel mobil itu.

"Oke! Tunggu sebentar!" serunya. Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia segera menghampiri telepon itu dan mengangkatnya. "Bengkel Dong, Dong YongBae disini! Ada yang bisa saya bantu??" ujarnya segera setelah menempelkan gagang telepon itu di telinga kanannya. "Aigoo! JiYong-a? Apa kabar?" YongBae berteriak. Ia tampak senang mendengar kawannya menelponnya. Sudah 5 tahun mereka tidak pernah bertemu. "Ne, arata! Aku pasti datang! oke! Sampai jumpa!" ujarnya, kemudian menutup telponnya dan kembali pada pekerjaannya.


YongBae lulus sekolah mesin kira-kira 2 tahun yang lalu. Akhirnya ia menekuninya, hal yang selama ini dia anggap tidak begitu penting terhadap masa depannya, tapi kini bisa menghidupinya selama di Seoul. Ia mulai buka bengkel kecil-kecilan sejak 2 tahun yang lalu juga, setelah cukup lama part time di sebuah bengkel automotif tak jauh dari institutnya. Ia punya 3 pegawai yang usianya hampir sama dengannya, juga dirinya sendiri masih bersedia turun tangan jika bengkelnya sedang ramai.

"Telepon dari temanmu bos?" tanya pegawainya yang kini sedang berkutat dengan mesin mobil yang tadi dikerjakan YongBae. YongBae mengangguk pelan. "Diajak pergi ya?" YongBae mengangguk lagi. Karyawannya itu menegakkan badannya, "Bos mandi saja! Lalu pergi ke tempat janjiannya! Soal bengkel, biar kami yang tangani!" usulnya.

"Keurae?" tanya YongBae.

"Percayakan saja pada kami!" jawabnya meyakinkan. YongBae tersenyum, ia kemudian bergegas, mengambil tas nya, kemudian meluncur keluar dengan skateboardnya ke rumah yang tak jauh dari bengkel.

***

"Maaf, bisa serahkan surat kendaraan dan SIM anda?" tanya seorang polisi dengan kacamata hitam yang baru saja menghentikan sebuah mobil yang melaju dengan serampangan dan membahayakan pengguna jalan lain. Tapi bukannya menyerahkan surat yang diminta, ia malah muncul keluar dari mobilnya.

"Opsir Choi SeungHyun.." dia seorang gadis, berkata dengan manja di hadapan polisi bernama Choi SeungHyun itu, atau lebih tepatnya Tabi.

"Maaf! Bisa serahkan surat kendaraan dan SIM nya nona?" pintanya lagi.

"Aigoo~! Apa opsir tidak bisa melihat gadis cantik sepertiku?" gadis itu merayu lagi, namun tetap menyerahkan surat-suratnya.

"Maaf nona, merayu tidak ada dalam daftar tugas seorang polisi lalu lintas!" ujarnya sambil menuliskan surat tilang, kemudian menyodorkannya pada gadis itu. "Datang ke pengadilan kamis siang untuk mengambil surat kendaraan dan membayar denda pelanggaran! Selamat siang!" ujarnya cepat, kemudian pergi.


Kira-kira 6 bulan yang lalu, Tabi lulus dari akademi polisi. Entah bagaimana caranya anak ini berjuang mati-matian untuk jadi seorang polisi. Tidak ada yang tahu jalan pikirannya. Pokoknya ia berhasil menyelesaikan sekolah polisinya dan sejak 6 bulan lalu di tugaskan sebagai polisi lalu lintas. Karena kerja keras dan dukungan orang-orang disekitarnya, ia berhasil bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri.

Tabi melihat arlojinya. "Sudah waktunya.." gumamnya. Ia kemudian mengantongi surat yang semula dibawanya, kemudian melajukan motor polisinya itu ke suatu tempat yang harus ia kunjungi hari ini.

***

"Aku pasti akan segera datang! Tenang saja! Mungkin 3 jam lagi!" JiYong berteriak di teleponnya. Namun sepertinya orang yang bicara dengannya melalui telepon itu tidak puas dengan jawaban JiYong. "Tenang saja, semuanya akan beres setelah 3 jam! Sudah ya! Aku ada urusan penting!" JiYong berteriak lagi, kemudian menutup teleponnya dan mengantongi ponselnya. "Inilah kenapa aku tidak suka bekerja dengan mereka! Menyebalkan sekali!" ujarnya menggerutu.


Si jenius ini menyelesaikan kuliah 3 tahun, karena benar-benar jenius dan karena ia bosan harus duduk terus di kelas sambil mendengarkan dosen mengajar, tidak bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti saat di sekolah. Ia juga tidak bisa sembarangan membolos. Kini ia bekerja disebuah lembaga penelitian di korea, tapi ya bukan JiYong namanya kalau ia tidak bermain-main disela-sela pekerjaannya. Kini ia malah lebih peduli dengan membuat reuni dengan teman-teman lamanya.

JiYong keluar dari rumah keluarganya itu, kemudian mengambil van besarnya dan segera melajukannya ke jalanan. Ia sudah tidak sabar ingin tahu seperti apa teman-temannya sekarang.

***

"Hyeongnim!!" SeungRi yang masih menggunakan kostum pertunjukannya (tapi tanpa topeng dan dasi kupu-kupu) menyapa YongBae yang baru datang ke tempat janjian mereka. YongBae dengan style yang masih sama dengan 7 tahun yang lalu, meluncur menggunakan skateboard. Bedanya, ia tidak membawa bola basket lagi.

"SeungRi-a! Apa kabar?" YongBae balik menyapanya setelah menghentikan sakte boardnya dan membawa papan luncur itu ditangannya.

"Lumayan! Hyeongnim sendiri?"

"Lebih baik dari kemarin!" jawabnya bijak.

Tiba-tiba saja sebuah mobil meluncur kearah mereka dengan binal. "Aigoo! Aigoo!" keduanya berteriak bersamaan. Dan tak lama, keluar seseorang dengan sweater putih penuh dengan coretan. "JiYong Hyeong???"

"Annyeong!! Apa kabar kalian??" JiYong menyapa keduanya dengan bangga.

"Aigoo~! Aigoo~! Hyeongnim tidak berubah!" SeungRi berteriak-teriak  takjub.

"Mana Tabi Hyeong?" tanya JiYong tidak menggubris apa yang SeungRi katakan.

"Nggak tahu! Mungkin akan datang sebentar lagi!" jawab YongBae sekenannya. JiYong tampak melihat sekeliling.

"Ya sudah, kita segera kedalam saja! Pasti didalam sudah ramai! Kalau nggak cepat, nanti bisa kehabisan tempat duduk!" usul JiYong pada keduanya, dan mereka segera masuk ke gedung olah raga di belakang mereka yang sudah ramai dengan pengunjung itu.

---

Benar. Sudah hampir tidak ada kursi kosong disana. Tapi untung mereka bertiga segera masuk kedalam. Tak lama, ponsel SeungRi berdering. Ia mengangkatnya, Tabi menghubunginya. Ia baru saja datang dan ia tahu teman-temannya sudah berada didalam. SeungRi menginstruksikannya untuk masuk dan ia akan memberikan tanda dimana ia berada. Akhirnya tak lama kemudian Tabi berhasil menemukan mereka bertiga, dan segera bergabung.

"Omona~! Aku tidak tahu Tabi hyeong sekarang jadi polisi?? Aku tidak mimpi kan??" SeungRi menampar-nampar pipinya sendiri.

PLAKK!

Tabi menampar pipi kanan SeungRi dan membuat anak itu terdiam. "Sakit?" tanya Tabi cepat. SeungRi mengangguk. "Berarti kamu nggak mimpi!" jawabnya enteng, kemudian melihat kearah lain.

"Kenapa telat Hyeong?" tanya YongBae basa-basi.

"Ada sedikit urusan! Biasa, pengguna jalan nakal! Kalau kalian sembarangan nyetir mobil dijalan, aku nggak akan segan-segan mengeluarkan surat tilang!" ujarnya sok serius. YongBae dan SeungRi langsung melirik ke arah JiYong yang barusan hampir menabrak mereka.

"Mwo?? Bukan aku yang seharusnya kalian lihat! Lihat kesana! Ke ring!" protes JiYong sambil menunjuk kearah ring di tengah-tengah ruangan besar itu. Yah, ring. Ring tinju, tempat mereka akan melihat seseorang bertanding.

Tak lama, tampak dua orang muncul dari masing-masing sudut disertai suara riuh penonton sekaligus pendukung masing-masing peserta. Dari sudut biru, seorang petinju kenamaan yang sudah banyak meraih sabuk emas. Dan dari sudut merah, seseorang yang baru saja masuk dalam jajaran atlit tinju profesional korea selatan, Kang DaeSeong.


Kang DaeSeong, yang dahulu merupakan siswa yang pintar dan memiliki cita-cita sebagai seorang guru, kini ia memilih menekuni seni bela diri tinju. Karena ia tidak ingin kemampuan ini digunakannya dijalan yang salah, sekaligus melatih emosi dan ambisi berkelahinya menjadi ambisi ingin memenangkan turnamen dan berusaha untuk tidak kalah pada lawan bertandingnya, dan dirinya sendiri. Makanya ia serius pada olah raganya hingga kini ia menjadi atlet profesional.

Seperti pada awalnya, ayahnya tidak akan mengijinkannya. Namun ia bisa membuktikannya dengan meraih banyak prestasi, dan membuat ayahnya meluluhkan hatinya dan mendukung DaeSeong untuk menekuni olah raga tinju sebagai pekerjaannya.

Tabi tampak bangga. Ia tersenyum melihat hal itu. Pilihan untuk mengenalkannya pada pemilik sasana tinju Jang MongYoon itu tidak salah. Ia pernah merasa bersalah karena sudah membuat DaeSeong yang pintar dan periang menjadi seseorang yang keras dan ringan tangan. Padahal ia hanya menginstruksikan untuk sekali-sekali berani melawan saat diganggu, tapi ia malah terlalu berani dan mudah sekali menghabisi orang-orang yang menganggunya. Namun kini semuanya berbuah manis. Ia sukses, meskipun jalan hidup ini tidak pernah terpikir di benaknya 7 tahun yang lalu.

"DaeSeong hyeong keren ya! Dia kuat sekali sepertinya!" komentar SeungRi ikut bahagia.

"Kalau dilihat seperti itu, seperti bukan DaeSeong yang kita kenal!" YongBae menambahkan. "Lihat ototnya! Keren sekali!" lanjutnya.

JiYong menghela nafas. "7 tahun yang lalu, kita berbondong-bondong datang untuk melihatmu bertanding! Kini, kita reuni dan datang sama-sama untuk melihat DaeSeong bertanding! Aigoo..benar-benar diluar dugaan!" kata JiYong sambil melipat tangan didepan dadanya. "DaeSeong benar-benar terlihat keren dan kuat!"

"Go! Go! DaeSeong hyeong!! HWAITING!!" SeungRi berteriak memberi semangat. Tabi hanya bisa tersenyum mendengar komentar ketiga juniornya itu. Ia juga tidak menyangka, semuanya menjadi manis seperti ini, meskipun jalan mereka tidak seperti yang mereka bayangkan 7 tahun yang lalu.

###

(menutup buku, memandang keluar jendela)

Jika melihat mereka dimasa sekolah, aku tidak akan tahu bahwa mereka semua akan menjadi seseorang sekarang. Aku tidak boleh memandang orang-orang seperti mereka sebelah mata. Mereka memang bukan anak-anak terpilih dan terpandang. Tapi mereka yang bisa mengalahkan diri sendiri, lebih hebat dimataku. Kakakku bertanggung jawab pada hidupnya, DaeSeong berhasil mengalahkan dirinya sendiri, YongBae meski bukan dengan hal yang dicintainya ia berjuang demi masa depan, SeungRi yang tidak punya mimpi berhasil menemukan mimpinya dengan hobi yang tidak ia perkirakan, dan JiYong yang paling beruntung tetap menjadi seorang jenius diantara mereka. Yepp..dan karena mereka, aku jadi sedikit tahu tentang hidup..^^


***The End***

YOKATTA!! xD
ok! thanks for reading and don't forget to leave a coment!
sankyuh! gamsahamnida! terimakasih!
dan sampai jumpa di karya gw yang selanjutnya!! bye~ bye~!!^^

-Keep Shine Like Hikari-

7 comments:

  1. d.d..d...

    DAEBAK SIDIII!! MANSE! MANSE! (?)
    XDD

    yaa udah selese deh -3-/ (?)


    Sidi bikin lagiiii XDDD

    ReplyDelete
  2. waaaaaaaaaaah sangat keren ! super keren *iki tenan*
    kok Jiyong e nggak jadi sakit jiwa ? hehehe ^^v
    kabar Chaeyong e ora di kandani piye kuwi ~___~ mesti saiki wis dadi peternak sapi hehehe

    ono penulisan sing salah, benar jadi ebanr hihihi ^^v

    ReplyDelete
  3. @hydeca : hehehe..makasih~makasih~
    kapan2 bikin lagi..klo ada ide~ *guling2*

    @karisa : haha..maksude??kan sing diceritake mung BIGBANG..saya cuma figuran =p

    ReplyDelete
  4. iy neh chae yong ny stelah 7 taun jd apa yah? Haha.. Penasaran jg sih.. Haha.. Endingny emang ga terduga, and yg paling bkin ngakak th pas liat foto daesung yg jd petinju.. Kyahahahaha~

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi penulis.. nulisin kisah hidup mreka noh~! hahaha
      emang baru liat mreka sekali ya? hhh.. keren kan~ bigbang jaman kapan ini ya?hh

      Delete
  5. lagi dan lagi ini udah saya baca habis dari 1-7 tapi gak pernah komen #mian =o= jadi saya komen di akhir FF aja ya :D. Btw seperti biasa ceritanya selalu meanarik. Dan yeah, cerita yang satu ini seakan2 ini kisah kehidupan asli mereka jadi terbawa suasana bacanya. Dan si jidi deskripsinya dapet banget, bukan si jidi aja sih semua member kecuali Daesung,kayanya sedih banget di jotos2 hhh well i love it! :D endingnya ngena banget sesuai MV mereka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku malah udah baca berulang2 *gaada yg nanya* kkk
      hahaha.. gomapda!
      doain moga karya2 selanjutnya bakalan lebih bagus yaa~ :D

      Delete