Saturday, April 23, 2011

Oh My Friend [FOUR]

tisu paseo~*plesetan* *dibacok*
kkk~part 4 datang!!! selamat membaca!!^^

Oh My Friend (four)

 

"Sebenarnya ada apa sih?" ChaeYong bertanya-tanya kebingungan pada empat orang lain yang ada dihadapannya sambil menatap mereka satu persatu. "Kenapa akhir-akhir ini kalian jadi bermasalah?" ujarnya lagi sambil berkacak pinggang. Sedangkan yang lain masih menunggu didepan ruang sidang dengan perasaan galau *ceileh*.

Sejak dinyatakan akan disidang siang ini, keempat anak itu terus menunggui DaeSeong dan tidak masuk kedalam kelas mereka untuk mengikuti pelajaran. Sedangkan ChaeYong baru saja datang setelah kelas usai. Ia tahu pasti segerombolan anak laki-laki itu sedang berada disana. SeungRi, JiYong, dan YongBae hanya menunggu dalam diam, sedangkan Tabi berusaha menguping kedalam dengan menempelkan telinganya pada lubang kunci pintu tersebut.

"YAH! Kalian bisu ya??" teriak ChaeYong sebal.

"Diamlah sebentar!" Tabi memperingatkan adiknya itu, kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.

"Yongie, sebaiknya kau pulang saja atau cepat datang ke klubmu!" ujar SeungRi berpendapat. ChaeYong memanyunkan bibirnya. Ia sebal dianggap penganggu oleh mereka. Tapi memang ia yang paling tidak tahu apapun, pantas saja dianggap sebagai pengganggu~.

Tak lama kemudian, Tabi seperti mendengar sesuatu yang tidak enak dari dalam, kemudian menginstruksikan teman-temannya untuk ikut mendengarkan sidang yang sedang berlangsung didalam. 3 telinga yang lain ikut mendengarkan walau hanya terdengar sayup-sayup tak jelas.

"...skorsing!" hanya kata itu yang terdengar jelas oleh telinga Tabi dan 3 orang yang lain. Mereka terdiam, namun wajahnya tampak kaget. DaeSeong akan di skors? Mereka tidak menyangka anak baik sepertinya mendapat skorsing. Tapi mereka merasa lebih baik dibandingkan dikeluarkan dari sekolah.

***

"Gwaenchana?" tanya YongBae pada anak laki-laki yang kini sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya yang kecil di samping rumah itu. DaeSeong, anak itu tersenyum kecil tanpa menghentikan kegiatan berkebunnya.

"Orang tuamu tahu Hyeong?" SeungRi bertanya setelah menutup majalah yang ia baca. Ia membelinya sebelum datang ke rumah DaeSeong bersama 3 orang temannya yang lain.

DaeSeong mengangguk, kemudian menutup keran air tak jauh darinya, dan menggulung selang air yang semula digunakannya untuk menyiram tanaman itu. "Aboji marah besar padaku..hha. Padahal aku sudah susah payah menutup luka lebam ini!" jawabnya sambil menunjukan lebam di dekat bibirnya, kemudian tertawa kecil. Ia sangat sedih dan menyesal, namun ia tetap berusaha terlihat bahwa ia baik-baik saja. "Sekarang aboji tidak menganggapku. Tapi untung saja omonim masih bisa bersabar.." lanjutnya.

"Mau aku yang bicara pada ayahmu?" tanya Tabi menawarkan diri.

"Andwe, hyeong! Gwaenchana!" katanya mencegah. "Lagi pula aku masih diperbolehkan tinggal di rumah! Aku senang aboji tidak mengusirku!"

Keempat anak laki-laki dengan seragam sekolah itu terdiam, namun DaeSeong masih tetap menyibukkan diri dengan kegiatan berkebunnya. Skors 3 hari itu cukup membuatnya bosan jika harus terus-terusan berada dirumah. Maka ia memutuskan untuk mengurusi tanaman setiap pagi dan sore hari.

***

JiYong menyerahkan formulir pendaftaran pada kedua orang tuanya yang kini sudah bersila dihadapannya setelah semula JiYong meminta mereka berkumpul dengan serius. Melihat kelakuan anaknya yang sedikit agak normal, membuat keduanya menyanggupi permintaan anaknya itu.

"Apa ini?" tanya ayahnya seraya mengambil formulir yang di sodorkan JiYong padanya diatas meja didepannya. Ia kemudian membacanya dengan seksama. "Kau mau mendaftar ke perguruan tinggi??" ayahnya sedikit berteriak, membuat ibunya ingin membaca formulir itu juga.

"Ahniyo~" JiYong berkata jujur. "Yoon Sengnim yang merekomendasikannya padaku! Makanya kemarin ia memberikan ini.."

"Cepat isi formulirnya dan kumpulkan!" potong ayah JiYong sambil menyodorkan kembali formulir tersebut pada anaknya. "Pepatah mengatakan, kesempatan tak akan datang dua kali! Makanya selain ada kesempatan, lakukan saja!"

"Tapi aboji.."

"Sudah! Aku tahu kau anak yang jenius! Makanya jangan buang waktumu di SMA! Isi formulir ini dan berangkatlah ke universitas tahun depan! Araseo??" kata ayahnya dengan senyum amat lebar di wajahnya.

"Nee, aboji.." jawab JiYong lemas seraya menarik kembali formulirnya dengan tampang lemas. Ia perhatikan lagi formulir tersebut. Haruskah aku benar-benar menyanggupinya? pikirnya sesaat.

***

"TARAA!!!" SeungRi berseru saat berhasil melakukan trik baru di kelas biologi. Sementara teman-teman yang lain sibuk dengan praktek mereka, ia malah sibuk menggunakan alat-alat prakteknya sebagai alat sulap. Dan anak laki-laki itu baru mengeluarkan seekor burung dari saku sneijas temannya.

PLAKK!!

"Aigoo~!" teriaknya kemudian sambil terdorong sedikit ke depan. Ia menoleh marah, "apa-apaan sih?? Kubalas kau.. aigoo~ sonsengnim.."

"Cepat balas kalau berani!" tantang sonsengnim yang sudah berdiri dihadapan SeungRi dengan melipat tangan didadanya. Ia membawa gulungan buku ditangannya, yang baru saja digunakannya untuk memukul SeungRi yang main-main di kelasnya. "Kau hobi bolos! Sekalinya nggak bolos, malah menganggu temannya!"

"Cwesonghamnida..sonsengnim!"

Sonsengnim melepas nafas pendek. "Berhenti main-main dan selesaikan tugasmu!" ujarnya seraya berjalan pergi untuk mengawasi muridnya yang lain.

"Ne, sonsengnim!" namun tak lama ponsel yang ia simpan di saku celananya bergetar. Setelah memeriksa sekeliling dan tampaknya tidak ada yang memperhatikannya, ia mengambil ponselnya dari saku dan memeriksanya. "Telepon? Dari JiYong hyeong? apa-apaan dia menelpon saat jam pelajaran begini?" protesnya pada ponselnya sendiri. Namun akhirnya, telpon itu dijawabnya juga setelah berjongkok dan menutupi ponselnya dengan tangan kirinya. "Yeoboseo, hyeong? Kenapa menelpon di jam seperti ini??" bisiknya kesal.

"A..kau sedang dikelas sekarang?" teriak JiYong dari telepon, kemudian tertawa. SeungRi memang sering bolos kelas pada hari itu, makanya ia merasa aneh kalau anak itu tiba-tiba ikut kelas.

"Aish! Jangan keras-keras!!" protes SeungRi berbisik, kemudian melihat sekeliling. "Waeyo?"

"Ara! Ara! Hemh..hari ini YongBae akan bertanding! Kita mau nonton sama-sama! Kau mau ikut?" tanya JiYong bersemangat.

"Jinja? Emh! Aku pasti nonton!" jawabnya antusias. "Ne..araseo! Aku akan datang tepat waktu! Sisakan satu tiket untukku hyeong!" lanjutnya, kemudian menutup teleponnya tak lama kemudian. SeungRi berbalik sambil memasukkan ponsel kedalam saku sneijasnya, namun betapa kagetnya ia ketika melihat siapa yang ada dibelakangnya. "S..s..sonsengnim? Anyeong haseyo..?"

PLAKK!!! Sonsengnim kembali memukul kepala SeungRi dengan gulungan buku yang tidak lepas dari tangannya sejak tadi. SeungRi hanya bisa merintih sambil menggosok-gosok kepalanya tanpa bisa protes.

***

SeungRi berlari ke arah stadium basket yang sudah tak jauh lagi. Ia baru saja menyelesaikan hukumannya karena menyepelekan kelas biologi, jadi ia harus bersih-bersih ruang guru sebentar, baru bisa pergi menyusul seonbaenimnya.

"Maaf telat!" serunya setelah berhenti berlari. Ia berusaha mengambil nafas setelah berlari cukup jauh, berusaha untuk tidak terlambat.

"Gwaenchana! Pertandingan baru akan dimulai setengah jam lagi!" jawab JiYong sambil memperhatikan sekeliling dengan binocularnya.

"Hyeong sudah lihat dimana YongBae hyeong?" tanya DaeSeong pada JiYong yang berdiri disebelahnya. DaeSeong tidak mengenakan seragam sekolah seperti yang lain, karena ia masih dalam masa skorsing. Tinggal 1 hari lagi, dan besok ia sudah bisa menginjakan kaki kembali ke sekolah.

"YongBae? Tentu saja ia sedang di ruang pemain!" jawab JiYong enteng tanpa melepas binocularnya.

"Lalu untuk apa hyeong memakai itu?" tanya DaeSeong polos.

"Cheerleaders~" jawabnya, kemudian melepaskan binocularnya dan nyengir lebar pada DaeSeong.

Tabi terkekeh sedikit. "Jeongmal.." katanya. Ia lalu melepas binocular JiYong dari mata anak itu. "Malu-maluin tau!" protesnya. "Sudah! Ayo kita temui YongBae!" ajaknya dan mendahului mereka masuk ke dalam stadium.

Setelah masuk kedalam lobi, mereka berbelok ke arah deretan ruang pemain. Terdapat banyak sekali pintu disana, dan orang-orang yang berlalu lalang. Tabi dan 3 temannya terus mencari dimana pemain dari sekolahnya berada. Dan tak lama ia melihat seseorang dengan rambut diikat sedikit dibelakang kepalanya baru saja keluar sambil meminum minuman energi. "Hyunseung!" Tabi berteriak seraya berlari mendekati anak itu.

"A..SeungHyun seonbaenim? Annyeong haseyo!" sapanya sopan. Tabi mengangguk kecil. "Mencari YongBae hyeong?" katanya segera.

"Ne! Dia ada didalam?" tanya Tabi. 

HyunSeung mengangguk. "Sedang persiapan! Kalian masuk saja!" jawabnya ramah. 

"Aku tidak tahu Tabi hyeong kenal dengannya? Sepertinya Tabi hyeong kenal dengan semua orang di sekolah??" bisik SeungRi pada JiYong, namun tidak dijawab, dan membuat SeungRi tidak mood untuk bertanya apapun lagi.

HyunSeung hendak pergi untuk mengambil sesuatu setelah yang lain masuk kedalam ruang pemain untuk menyapa YongBae. Namun perhatiannya teralih pada DaeSeong yang tampak gelisah sambil melihat-lihat sekeliling. "Seonbae? Waeyo?"

"T..toilet~ aku tidak menemukannya sejak tadi!" jawab DaeSeong polos.

"Ahaha..Ara..kekanan saja, lalu belok kekiri sebelum tangga naik! Disana ada toilet!" jawab HyunSeung sambil tertawa kecil.

"Araseo..gamsahamnida!" katanya, kemudian segera berlari kearah toilet. Sudah tidak tahan!

---

"Kenapa malah sakit perut tiba-tiba~" bisiknya pada diri sendiri. DaeSeong berlari-lari kecil masuk kedalam salah satu stall, kemudian menutupnya dan segera duduk diatas kloset demi memenuhi tugas suci demi keberlangsungan hidup metabolisme dalam tubuhnya.

Tak lama, sepertinya datang beberapa orang, dan mereka sedang bercakap-cakap. "Yang nomor 8! Dia baru!" ujar yang seorang dengan suara agak berat.

"Nomor 9 juga! Tapi aku belum cek seberapa hebat mereka!" yang satu lagi menanggapi. DaeSeong tidak bermaksud menguping, tapi dia penasaran saja dengan apa yang mereka berdua bicarakan.

"Tapi yang aku dengar dari temanku, mereka bermain cukup baik! Makanya tahun ini mereka masuk dalam tim inti! Hebat sekali! Padahal yang satu anggota baru!" ujar yang bersuara berat, kemudian terdengar suara gemerick air mengalir sebentar. "Kita jangan sampai kalah lagi tahun ini! SMA 'X' itu selalu mengalahkan kita meski pemain veterannya sudah berganti!" (maap kalo nama SMA nya pake X..ga tau mo di kasi nama apa soalnya~ xO)

"Apa harus kita lakukan sesuatu?" yang bersuara lebih sopran bertanya, kemudian terkekeh.

"Hei! Kau jangan main-main! Kalau seseorang mendengar kita, bisa jadi salah paham!" yang bersuara berat menyangkal. Terdengar ia melepas nafas cukup panjang, kemudian mengatakan sesuatu dengan berbisik. "Kalau bisa, aku akan habisi si nomor 9 di lapangan!" mereka kemudian tertawa lepas, dan tak lama terdengar suara pintu menutup. 

DaeSeong tertegun sebentar. Apa yang sebenarnya dua orang itu bicarakan?? batinnya seraya menarik tisu toilet di sampingnya.

***

"Kau dimana, hyeong? Lihat ke tribun dibagian tengah! Aku membawa balon karet panjang warna hijau!" SeungRi berbicara dengan ponselnya sambil memperhatikan kearah pintu masuk tribun, melihat kalau-kalau DaeSeong sudah datang. Dan tak lama kemudian bocah sipit dengan jaket putih susu itu datang, dan ia juga sedang bicara di telepon. Dengan SeungRi tepatnya. "Hyeong! Aku melihatmu!" SeungRi melambai-lambaikan balonnya agar DaeSeong dapat melihatnya. DaeSeong benar-benar melihatnya, dan bocah itu bergegas ke arahnya melewati banyak orang yang sudah duduk di bangku tribun.

"Maaf lama!" katanya sambil mengantongi ponselnya kedalam kantong jaket berbahan denimnya.

"Mereka baru pemanasan kok! Satu menit lagi baru akan dimulai!" ujar JiYong yang kini sedang melihat ke arah lapangan dari balik binocularnya. Tabi sudah berkali-kali melepas binoculalr itu dari mata hoobaenya, namun tetap saja manusia nyentrik itu memakainya.

Tak lama pertandingan dimulai. SMA mereka langsung menguasai permainan, dan YongBae menjadi yang terdepan. Dibandingkan dengan kapten mereka, YongBae tampak lebih unggul dalam permainan. Tapi meski begitu, ia tetap bekerja sama dengan anggota tim lainnya. Baru sekitar 5 menit pertandingan, mereka sudah mencetak 10 angka, jauh meninggalkan lawan mereka. 4 orang sahabat YongBae yang duduk di kursi penonton itu berteriak-teriak memberinya semangat. Mereka gembira melihat temannya itu bermain dengan gemilang pada debut pertamanya sebagai pemain inti sekolah.

15 menit, quarter 1 berakhir. Dan setelah hanya beberapa menit beristirahat dan pelatih mengatur strategi baru untuk quarter ke dua setelah melihat permainan mereka, kedua tim kembali bertanding. Di tengah sorak sorai penonton, bahkan segerombol penonton menggunakan alat musik marcing band milik sekolah untuk menambah ramainya pertandingan, pemain basket itu berlarian di tengah lapangan, saling mengoper bola, lay up shoot, 2 point shoot, bahkan 3 point yang baru saja dilakukan teman satu tim YongBae yang membuat tim mereka jauh lebih unggul dibandingkan dengan tim lawan. Dan setelah dua babak, didapatkan hasilnya 45-28 untuk tim sekolah mereka.

Babak kedua dengan istirahat yang sedikit lebih lama. Beberapa melakukan sedikit penyesuaian di ring yang berbeda karena pada quarter 3, mereka berpindah wilayah serang. Sementara teman-temannya sedang melakukan penyesuaian dengan wilayah serang yang baru, YongBae pergi keluar lapangan sebentar. Entah dia mau kemana. Namun, tiba-tiba DaeSeong teringat sesuatu yang ia dengar didalam toilet beberapa saat yang lalu. "Ah..engga!" DaeSeong menepis pikiran buruknya. Ia tidak mau menambah cataan keriminal. Demi menjadi guru, ia ingin berhenti menggunakan kekuatan otonya. Ia harus lebih banyak berpikir sebelum melakukan sesuatu.

"YongBae hyeong hebat!" ujar SeungRi bangga pada JiYong yang masih melihat ke lapangan dengan binocular. "Benar tuh nomor 9 nomor keberuntungannya??" lanjutnya dengan tampang bangga.

"Nomor 9?" tanya DaeSeong cepat.

SeungRi mengangguk dan mengalihkan perhatiannya pada DaeSeong. "Iya, nomor 9! Nomor punggung YongBae hyeong! Hyeong tidak lihat? Itu pasti nomor keberuntungannya!" jawab SeungRi. DaeSeong diam dan tampak berpikir sebentar. "waeyo, hyeong?"

Tanpa aba-aba apapun, DaeSeong berlari keluar dari kerumunan penonton. Itu membuat SeungRi bingung dan reflek berteriak memanggilnya. "Hyeong! DaeSeong hyeong!!" teriaknya, namun DaeSong tidak merespon.

"WaeYo?" tanya Tabi segera begitu melihat DaeSeong berlari pergi.

"Nggak tau hyeong! DaeSeong hyeong tiba-tiba lari begitu aja!" jawab SeungRi polos. Tabi pun segera berlari mengikuti bocah itu tanpa berpikir lagi. Pasti ada yang salah dengannya. Ia bisa merasakannya. Melihat itu, SeungRi dan JiYong yang awalnya hanya saling pandang, bergegas berlari mengikuti kedua teman mereka yang tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata pun.

***

"DaeSeong-a! Kang DaeSeong!!" teriak Tabi sambil terus berlari menyusuri lorong stadion tempat mereka nonton basket itu. Setelah berhasil mengikutinya, sampai di tikungan ia tidak bisa menemukan dimana bocah itu berada. Sementara itu JiYong dan SeungRi ikut mencari didaerah yang terpisah.

"YongBae-hyeong! YongBae hyeong!" tak lama terdengar suara panggilan dari arah lain, yang membuat Tabi berhenti sejenak dan melihat ke asal suara.

"Eh.. HyunSeung?" sapa Tabi setengah bertanya pada orang yang baru datang sambil berlari-lari itu.

"Ne, SeungHyun hyeong? A..apa hyeong melihat YongBae hyeong? Dia harus kembali ke lapangan satu menit lagi!" ujar HyungSeung dengan nafas sedikit tersengal karena habis berlari.

"Ahni..dia belum kembali?" tanya Tabi. Ia tahu YongBae keluar lapangan saat istirahat, tapi ia tidak tahu kemana anak itu pergi.

"YongBae hyeong pamit ke toilet sebentar tadi, tapi sampai sekarang belum kembali! Makanya coach menyuruhku untuk mencarinya!" jawab HyunSeung. "Bisa bantu aku hyeong?"

"Ne, araseo! Mungkin ia masih di toilet!" katanya, kemudian bergegas ke arah toilet.

Tak jauh dari tempat mereka berada, mereka melihat plang toilet pria. Keduanya mempercepat langkah menuju ke tempat tersebut. Namun samar-samar keduanya mendengar suara rintihan seseorang, dibarengi dengan suara benturan benda tumpul. Benar saja, seseorang tengah memukuli lelaki dengan seragam basket hitam dengan beberapa corak putih hingga anak itu terlihat mendapat cedera parah di wajahnya.

"Aigoo!" HyungSeung berteriak, dan membuat orang yang memukul anak itu menoleh kaget.

"DaeSeong-a??" kini Tabi yang berteriak. "Apa yang kau lakukan??"

"T..tabi Hyeong??"

***To Be Continue***

thanks for reading and don't forget to leave a coment!^^
gamsahamnida!arigatou gozaimasu!TERIMA KASIH BANYAK!!^^

-Keep Shine Like HIKARI-

8 comments:

  1. hayo dae berulah lagi ya? -___- belom juga skorsing nya kelar helaaaahhh

    ppali apdet! (?)
    (baru juga di post tadi -w-/)

    ReplyDelete
  2. ehh??kaget~..
    td kayaknya di twit pamit bobok ya?pake tarik2 jungshin?hayo? #PLAKK
    hho..yo!segera apdet deh!hoho..tunggu saja mereka di part selanjutnya~^^

    ReplyDelete
  3. /jder

    kan sebelum bobok baca Ff dulu~ :3 nyehe~ XDD

    sampe berapa part sih penasaran saya -3-/

    ReplyDelete
  4. belom tau juga~hahaha..se jadinya..tp kyaknya ga sampe 10 part~ =p
    tunggu aja ya~hahaha xD

    ReplyDelete
  5. aku udah baca semuanya...
    bagus banget...
    keep writing c-yong!!!
    fighting \(≧▽≦)/

    ReplyDelete
  6. ne..gomawo!!^^
    tunggu part selanjutnya yoa~!
    nado hwaitting!! keep writing too!!^0^v

    ReplyDelete
  7. hmm.. Sekedar memberi tau neh yah.. Suara cowo ith tenor sama bass.. Suara cewe sopran sama alto.. Liat scene daesung d kmr mandi.. Kan jd aneh aj kalo ada cowo punya suara sopran.. *mantan anak paduan suara mode on* haha..

    ReplyDelete