Wednesday, April 27, 2011

Oh My Friend [SIX]

omona~cepet bener ini gw apdetnya~ xD
moga aja kayak gini terus..ide mengalir seperti pipis GaHo .. (eh?)
oke, ini yang ke-6! Dan semoga belom bosen~hehe.. Selamat membaca!!^^

Oh My Friend (six)


Senin Pagi.

Pagi yang sangat cerah, dan membuat musim gugur yang sebenarnya mulai dingin, menjadi seperti musim semi. YongBae berjalan pelan menuju gedung sekolahnya, melewati lapangan di depan gedung sekolah yang sangat luas. Ia tersenyum cerah. Kakinya sudah sembuh sekarang, dan ia bisa beraktifitas kembali. Karena insiden beberapa minggu yang lalu, tim basketnya kalah di penyisihan kedua, karena konsentrasi mereka terpecah akibat tim terancam didiskualifikasi. Namun kini semuanya seperti sudah pulih kembali.

"YongBae-a!" seseorang berteriak dari belakangnya, dan sedetik kemudian seseorang sudah merangkul pundaknya akrab. "Annyeong!" sapa orang itu kemudian dengan lolipop strawberry di mulutnya.

"Aa..JiYong-a..Annyeong!" balasnya dengan smile eyes khasnya yang menyenangkan. Mereka berdua tidak membicarakan apapun setelahnya. hanya berjalan dalam diam menuju ke gedung sekolah.

---

"ANNYEONG HASEYOOO!!" JiYong berteriak setelah masuk kedalam rungan tempat dimana mereka meluangkan waktu untuk berkumpul di sekolah. Bekas ruang berita. Sepertinya sudah lama mereka tidak berkumpul disana. Tepatnya setelah YongBae mengalami cedera. Didalam sudah ada SeungRi yang sedang duduk sambil melatih sulap lamanya.

"Yah, Hyeong! Annyeong! Aa..YONGBAE HYEONG?? KAU SUDAH SEMBUH??" pekik SeungRi seraya berlari kearah YongBae, dan sok memeriksa keadaan kaki dan tangan YongBae yang mengalami cedera. YongBae memukul kepala SeungRi pelan. "Aigoo~!" gumam SeungRi dan mundur beberapa langkah dari depan seonbaenimnya.

"Biasa aja! Bukannya aku sudah memberitahu kalian aku akan mulai berangkat hari ini?" ujar YongBae segera.

SeungRi melongo. "Jinjayo?" YongBae melengos. Sebenarnya ini kebiasan SeungRi yang agak over. Dia sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Kemudian berteriak-teriak sok terkejut.

"Ngomong-ngomong..mana Tabi Hyeong dan DaeSeong? Mereka nggak kelihatan?" tanya YongBae sambil memandang sekeliling. Dia amati berapa kalipun di ruangan ini memang hanya ada mereka bertiga. JiYong dan SeungRi ikut memandangi sekeliling. Mereka tidak menyadari bahwa dua orang itu sudah jarang berkumpul di tempat itu, juga berkumpul dengan Tabi dan DaeSeong.

"Mollayo~" jawab SeungRi pendek. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada YongBae. "Aku sudah jarang bertemu dengan mereka akhir-akhir ini. DaeSeong hyeong sibuk dengan club matematikanya, dan Tabi Hyeong..ia tidak pernah terlihat disekolah lagi akhir-akhir ini!" lanjutnya panjang.

"Keurae?" tanya YongBae lagi memastikan. SeungRi mengangguk. YongBae sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada mereka berdua, tapi ia mengurungkannya. Ia takut pertanyaan ini malah akan menambah maslaah lain diantara mereka.

Tapi tak disangka, seseorang menguping pembicaraan mereka dari balik tembol ruangan itu. Seseorang yang hendak masuk kedalam juga sebenarnya. Namun setelahnya, ia malah berlari menjauhi ruangan tersebut dan pergi entah kemana.

***

Kelas 2-2.

Seseorang baru saja masuk dan duduk disalah satu bangku yang berada ditengah ruang kelas tersebut. Seseorang dengan name Tag KANG DAESEONG menempel di bagian dada kiri jas seragamnya. Ia meletakkan ranselnya dengan setengah membantingnya diatas meja, kemudian duduk dan tertunduk sambil memegangi ranselnya tersebut. Ia bingung harus melakukan apa sebenarnya. Sejak beberapa minggu yang lalu, ia jadi berusaha menjauhi teman-teman lainnya. Hari ini sebenarnya ia ingin kembali berkumpul bersama mereka kembali. Namun mendengar pernyataan seseorang barusan, yang ia kenali suaranya sebagai SeungRi, ia mengurungkan niatnya, dan membuatnya kembali mengingat saat terburuknya beberapa minggu yang lalu.

~FLASHBACK~

DaeSeong berdiri kaku di halaman belakang sekolah, sementara seonbaenimnya, Tabi, duduk dengan menyadarkan punggungnya di punggung kursi taman dan menengadahkan kepalanya keatas dengan mata tertutup. Ia setengah tersenyum, namun bisa dilihat ia baru saja mengalami hal buruk.

"Hyeongnim.." panggil DaeSeong dengan nada takut pada Tabi yang masih dengan posisinya semula. Tidak berubah sejak 15 menit yang lalu. "Mianhada..!"

"Mwo? Kau bicara sesuatu?" tanya Tabi sok tidak mendengar apa yang dibicarakan DaeSeong. Padahal ia dengar dengan jelas apa yang diucapkan hoobaenya.

"Mianhamnida, Tabi hyeong!" DaeSeong memperjelas ucapannya. Namun suaranya masih bergetar.

Tabi mencondongkan tubuhnya segera, kemudian terlihat mengorek telinga kanannya dengan jari kelingking kanannya. "Mianhae..pendengaranku sedikit buruk akhir-akhir ini!" ujarnya. Tampaknya ia ingin menenangkan DaeSeong yang akan terus meminta maaf sampai ia dinyatakan tidak bersalah. Tabi melepaskan kelingking dari telinganya, kemudian menoleh kearah DaeSeong. "Kau! Kemari!" ujarnya sambil melambai, menginstruksikan DaeSeong untuk mendekatinya.

DaeSeong berjalan ragu ke arah Tabi, namun setelah melihat seonbaenimnya menginstruksikan untuk kesekian kalinya, ia akhirnya berani mendekat dan duduk di sebelahnya. "W..waeyo, hyeong?" tanya DaeSeong takut-takut.

"Jangan beritahukan soal ini pada siapapun! Oke? Sekalipun itu orang tuaku!" ujar Tabi dengan sedikit senyum. "Biar aku pikirkan sendiri cara untuk mengatasinya! Oke! Kau urus saja kehidupanmu sendiri..jangan menyerah dengan cita-citamu! Arachi?"

DaeSeong memandang Tabi heran. "Hyeongnim.."

Tabi menarik nafas dalam-dalam sambil memandang langit sore itu yang bersembunyi dibalik daun-daun yang menempel berdempetan pada ranting pohon. Daun yang mulai menguning dan gugur. "Sebaiknya aku yang di keluarkan dari sekolah! Bukannya kau!" ujarnya tiba-tiba. Ia mendesah kecil. "Aku mau berangkat ke sekolah setiap hari, hanya karena ada kalian! Aku senang berada disekolah denganmu, JiYong, YongBae, SeungRi.. makanya aku tidak akan pernah absen selama aku masih bersekolah disini!" lanjutnya.

DaeSeong tidak mengatakan apapun. Ia memilih diam dan mendengarkan Tabi dengan penjelasannya. "Aku yang paling tua..jadi aku harus memastikan kalian berempat baik-baik saja! Aku senang saat salah satu dari kalian berhasil dengan impian kalian, tapi aku tetap akan selalu berada dibelakang kalian jika kalian jatuh dan terluka! Tapi aku berjanji hal itu tidak akan terjadi pada kalian berempat!" ujar Tabi serius, namun senyum tipisnya masih menghiasi bibirnya. "Kau, JiYong, YongBae, SeungRi, jangan kecewakan aku! Aku pikir, aku yang paling tidak berguna disini! Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan! Mungkin banyak orang berpikir aku sampah, makanya lebih baik aku yang keluar dari sekolah ini! Berkorban untukmu yang masih punya harapan, Kang DaeSeong!" lanjutnya panjang.

Tabi kemudian menoleh, menatap DaeSeong yang memandangnya miris. Tabi menepuk pundak DaeSeong, memberinya semangat seperti seorang kakak. "Lanjutkan mimpimu, DaeSeong-a! Jadilah guru yang baik! Mulai sekarang, jangan pedulikan mereka yang mengganggumu!" jelas Tabi. Ia tersenyum simpul. "Tangan ini, gunakan untuk mengerjakan hal-hal yang baik! Cepatlah lulus dan ke universitas, kemudian jadilah seorang guru matematika! Buatlah aku tidak menyesal karena membelamu sekarang! Araseo?"

"Tabi hyeong.."

Tabi memperlebar senyumnya, berusaha memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku titip JiYong, YongBae, dan SeungRi padamu di sekolah! Dan ingat, jangan katakan ini pada mereka, Yongie, dan orang tuaku! Aku tidak mau membuat mereka khawatir!" tambahnya bijak sana.

DaeSeong memandang Tabi dengan mata berkaca-kaca. "N..ne.. Tabi hyeong..araseo.." ujarnya dengan bibir bergetar. Ia merasa sangat bersalah. Ia benar-benar ingin meminta maaf sampai membuat keadaan kembali seperti semula.

~FLASHBACK END~

DaeSeong masih tertunduk di bangkunya. Sedikit, ia terisak, namun ia berusaha tidak memperlihatkan bahwa kini ia sedang sangat sedih. "Mi..mianhada..Tabi hyeong.." gumamnya pada diri sendiri.

***

"Oppa?" tanya ChaeYong setelah mendengar pertanyaan JiYong yang baru duduk dihadapannya. Sedangkan SeungRi masih sibuk menarik perhatian teman-teman sekolahnya dengan trik sulapnya. Mengeluarkan burung dari hidung. (?)

"Ne! Oppa mu! Tabi hyeong! Dia sakit?" tanya JiYong lagi.

"S..sakit? Sakit apaan? Dia pulang aja engga!" jawab ChaeYong sekenanya. JiYong agak kaget mendengarnya. Tidak biasanya Tabi tidak muncul ke sekolah kalau dia tidak sakit, meskipun bocah itu tidak pulang ke rumah. "Memangnya ada apa dengan oppa? Ada sesuatu?"

JiYong menggeleng dengan senyum agak dipaksakan. "Ah..ahniyo~..!" jawabnya pendek.

***

YongBae pulang setelah jam sekolah usai. Klub basket tidak ada latihan hari ini, makanya ia bergegas pulang, dan sore nanti ia harus ke dokter untuk kontrol. Tak lama bus datang di halte tak jauh dari tempatnya sekarang, ia hendak naik bus hari ini karena keadaan kakinya yang belum sembuh total. Namun tiba-tiba ia mendengar suara benda logam terjatuh, disertai suara teriakan seseorang, dan membuatnya mengurungkan untuk naik bus itu. Ia mencari asal suara, dan didapati seseorang yang tengah terjungkal diatas sepeda yang ban-nya meluncur sampai ke hadapan YongBae. "Aigoo~!" gumam YongBae kaget. Ia mengambil ban sepeda itu, kemudian mengalihkan pandangannya pada orang yang masih terkapar diatas sepeda itu. "Aigoo! DaeSeong-a!" teriaknya, kemudian berlari kearah temannya itu. "DaeSeong-a! Gwaenchana??"

"G..gwaenchana..!" jawab DaeSeong. YongBae membangunkan anak itu, dan menegakkan sepedanya. Bagaimana bisa ban depan sepeda itu lepas? Pantas saja kalau ia jatuh.

YongBae melihat keadaan sepeda itu, dan sesaat kemudian ia mengeluarkan kantong karet kecil dari saku ranselnya. Berisi banyak alat untuk memperbaiki mesin dan hal-hal semacam itu. "Tunggu sebentar, biar aku benahi!" ujarnya pada DaeSeong.

"N..ne..gomawoyo.." jawab DaeSeong singkat.

Sementara tangannya sibuk dengan pekerjaannya, ia mencoba bercakap-cakap sedikit dengan DaeSeong setelah cukup lama mereka tidak bertemu. "Nan gwaenchana? Aku sudah lama tidak melihatmu di sekolah!" ujarnya basa-basi.

"N..ne..hyeong!" jawab DaeSeong gugup. ia bingung harus mengatakan apa. YongBae bercakap-cakap panjang, namun DaeSeong tidak mendengar karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya ia ingin menyimpan hal ini, tapi ia tidak bisa terus merahasiakannya untuk diri sendiri. Setelah melihat YongBae, ia yakin jika ia menceritakannya, YongBae tidak akan mengatakannya pada yang lain. YongBae benar-benar bisa dipercaya.

"Yah! DaeSeong-a! Kau mendengarku?" tanya YongBae heran. Sepertinya bocah itu tidak mendengarkan semua omongannya.

"N..ne! Tabi hyeong.. eh??"

"T..Tabi? Kau ngelamun ya??" YongBae terkekeh. Tapi melihat tampang DaeSeong yang seperti itu membuatnya ingat dengan kejadian pemukulan yang diceritakan JiYong beberapa waktu yang lalu. "DaeSeong-a..apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" tanya YongBae segera.

"N..ne..ne.. eh..maksudku..ahniyo~!" jawab DaeSeong gugup. YongBae berdiri, kemudian memandang DaeSeong serius.

"Ada sesuatu?" tanya YongBae lagi.

"Ah..anu..itu.."

KLONTANG!!

Kunci inggris yang berada di genggaman YongBae seketika terjatuh mendengar penjelasan panjang yang dilontarkan DaeSeong. Ia tidak tahu kejadiaannya sampai seburuk ini. "Jeongmalayo?? Lalu kenapa kau tidak bilang pada kami??" YongBae menyalahkan DaeSeong.

"Tapi..Tabi hyeong tidak ingin kalian tahu! Bahkan ChaeYong dan orang tuanya..mereka tidak boleh tahu.." jawab DaeSeong jujur, sesuai amanah Tabi yang disampaikannya beberapa waktu yang lalu.

"Tapi kau tidak boleh seperti ini! Aigoo~!" YongBae memegang tengkuknya. Karena marah, tengkuknya jadi agak kaku. Sementara keduanya masih beradu argumen, mereka tidak tahu ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka dengan tampang benar-benar terkejut. Ia masih terdiam disana hingga ia tersadar harus melakukan sesuatu.

***

Rumah keluarga Choi.

Seseorang baru saja masuk, setelah terdengar suara pintu depan terbuka, kemudian tertutup lagi tak lama kemudian. "Aku pulang!" seseorang berteriak dari depan pintu. Ia kemudian masuk kedalam rumah. Namun sebelum ia sampai di kamarnya, tiba-tiba seseorang melompat keluar kamar tak jauh dari tempatnya berdiri, menghalangi jalannya sampai ke kamar. "Yah! Minggir kau!"

"Kau! Apa yang sebenarnya terjadi??" ujar ChaeYong, gadis yang melompat ke hadapan kakaknya, Tabi.

"Apa apanya? Tidak terjadi apa-apa! Minggir!" jawab Tabi sekenanya sambil menyingkirkan adiknya itu dari hadapannya. Tapi rupanya tubuh kecil adiknya itu tidak mudah menyerah. Ia masih berusaha menghalangi kakaknya untuk sampai ke kamarnya. "Apa maumu??"

"Aku mau tahu penjelasanmu, Choi SeungHyun!! Kenapa kau dikeluarkan dari sekolah??!!" teriak ChaeYong tidak kalah keras, hingga membuat Tabi terdiam dihadapannya. Melihat tampang kakaknya itu, ChaeYong meredakan emosinya. "Jebal! Jangan simpan masalahmu sendiri, oppa! Ada aku disini!" lanjutnya. Membuat Tabi menyerah.

Tabi menceritakan semuanya di ruang keluarga. Hari ini ayah-ibu mereka belum pulang. Ayahnya masih bekerja, sedangkan ibunya mengunjungi kakak perempuan mereka yang kini bekerja di Incheon sebagai asisten perancang busana. Tabi menjelaskan semuanya dengan gamblang. Alasannya mabuk, alasan kenapa ia tidak pernah pulang ke rumah, alasan mengapa ia dikeluarkan dari sekolah. Entah kenapa hari ini ia merasa sangat percaya pada adik perempuannya itu. Sementara ChaeYong hanya bisa memandangi wajah kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Sampai ia tidak bisa melihat wajah tirus kakaknya karena terhalang air mata yang sudah berkumpul di pelupuknya.

"Mianhada..aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Tapi aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian lagi!" ujar Tabi mengakhiri ceritanya. GRAB!! Tiba-tiba ChaeYong memeluk kakaknya itu erat. "W..wae yo??" tanya Tabi kebingungan. ChaeYong melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air mata yang baru berkumpul di pelupuk matanya dengan lengan kaosnya.

"Kau bukan seseorang yang tidak berguna, kau bukan sampah bagi kami! Makanya berhentilah mabuk dan jangan pergi dari rumah! Tinggalah di rumah, aku yakin eomma dan appa akan memaafkanmu! Bagaimanapun kau ini oppa ku!" ujar ChaeYong. Ia terdengar seperti menyedot ingus di hidungnya, suara yang identik dengan seseorang yang hendak menangis.

"Hwaiting, Tabi-ya!" ujarnya sambil mengepalkan tangannya diudara. "Jangan kecewakan kami! Aku tahu kau orang yang baik! Jadi lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri! Aku pasti mendukungmu!" lanjutnya. Tabi tersenyum lebar, kemudian mengacak rambut adiknya itu dengan semangat. Benar kata ChaeYong, ia harus melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

***

Rumah Sakit.

YongBae masih terpaku memandangi hasil rongent dan analisis dkter yang baru disampaikan beberapa menit yang lalu. "Aku tidak bisa main basket lagi??" gumamnya muram. Bagaimana tidak? YongBae divonis tidak bisa sembuh total karena cederanya cukup parah. Ia masih bisa beraktifitas seperti biasa, tapi tidak untuk olah raga dan aktifitas berat lainnya, jika tidak ingin cederanya kambuh lagi. Dokter memperingatkannya untuk tidak bermain basket lagi. Hal itu membuatnya sangat terpukul.

"Gwaenchana, YongBae-a?" tanya seseorang yang baru datang setelah menebus resep dokter di apotek rumah sakit. Ia membeli beberapa vitamin untuk YongBae. "YongBae-a?" panggilnya lagi. Ia tetangga apartemen YongBae yang berbaik hati untuk menemaninya kontrol.

"Ah..ne..hyeong..!" jawab YongBae dengan sedikit senyum yang dipaksakan.

"Jhoa!" ujar orang itu dengan senyum lebar. "Ayo pulang!" ajaknya.

"Ne!" jawab YongBae singkat, kemudian mengikuti tetangga apartemennya itu menuju ke rumah. Ia masih tidak menyangka harus mendengar berita yang paling tidak ingin didengarnya. 'Aku tidak bisa basket lagi..?' batinnya.

***To Be Continue***

ne..gamsahamnida for reading! and don't forget to leave a coment (again) guys!!
aku tidak ada apa-apanya tanpa kritikan kalian~kkk..
just waiting fot the next chapter! sankyuuh!!^^

-Keep Shine Like HIKARI-

3 comments:

  1. ck. Sidi jahat.

    Yebe dibikin gabisa main basket lagi. ck. -__-

    waeyo wae sidi waeeee #edisilebe

    nah kan idemu mengalir seperti pipis gaho jadi cepet apdet lagi! (?)

    ReplyDelete
  2. hehehe~kalo baik terus ntar naksir si abang~ (eh?)

    pipis GaHo lagi seret pasti nih~idenya agak macet~ xO

    ReplyDelete
  3. pake pipis boss! lebih lancar dan lebih berkualitas! (?)

    ogah yee naksir sama sidi mending sama jidi lah (~ -3-)~

    ReplyDelete