Friday, February 17, 2012

I don't Understand [FANFIC] [8]

Chapter ini membuat gw galau #ceileh.. bagaimana engga? Beberapa kali gw revisi chapter ini, tapi feel nya sama sekali nggak dapet, ceritanya terkesan datar dan engga nyambung sama chapter sebelumnya. Sampai hari ini gw memutuskan menulis ulang semuanya. Gw emang belom tau apakah hasilnya memuaskan atau engga, tapi ini hasil final untuk chapter ini..
Sebentar lagi FF ini bakalan kelar, kayak orang lagi bikin film, rasanya sedih gw~ #alay
hahaha.. 8 chapter sejauh ini, chapter FF paling panjang yang pernah gw tulis~ *selain FF gw yang udah 13 chapter tapi suspend gegara ide matet dan akhirnya nggak ada niat untuk diterusin lagi~ *penulis macam apa??* hhh
Ok, happy reading~!^^

I don't Understand


Chaeyong’s scene

Jantung berdebar-debar, perasaan yang meluap-luap, dan kebahagiaan yang berlebih saat bertemu seseorang.. apa artinya?

Kesedihan yang tiba-tiba terasa saat seseorang akan meninggalkanmu, kau tidak rela ia pergi meski kau tahu itu demi kebaikannya.. apakah perasaan ini ada hubungannya dengan perasaan bahagia yang terjadi pada orang yang sama? Perasaan apa itu?

Aku terus membalik-balik buku bahan ajar kuliah di tanganku, tentu saja bukan untuk mencari tahu jawaban tentang itu. Aku hanya sedang menjadi bahan tugas yang diberikan dosen untuk dikumpulkan besok, namun pikiran tentang perasaan ini masih terus melayang-layang di otakku. Dan satu lagi yang sejak tadi terus berkeliaran di kepalaku. Lee Jinki, Jinki oppa. Ia mau ke Harvard.. jauh. Berarti aku tidak akan bertemu dengannya lagi ya? Tapi harusnya aku senang dia bisa mewujudkan keinginannya, bukannya begini.. ahhh!! Aku nggak ngerti!!!

Ku acak-acak rambutku sendiri setelah terlebih dulu membanting buku bahan ajar itu di meja. Kalau kesimpulanku benar tentang perasaan ini.. tapi masa segitu cepatnya? Apakah ini pelarian dari perasaanku pada Joongki oppa? Mungkin begitu.. berarti aku tidak bisa. Andwe! Ini tidak boleh terjadi, aku tidak ingin menyakiti Jinki oppa. Tidak boleh, ia terlalu baik, aku harus menjaga perasaannya. Aku tidak bisa menyukainya, Yongi, kendalikan perasaanmu.. jebal~! Hanya sampai tahun depan dan Jinki akan berangkat ke Amerika. Sampai tahun depan, dan ia akan berangkat menjauh dari..ku..

Sesaat kurasakan sakit yang teramat sangat dalam dada. Ahss.. tiba-tiba ada kabut didepan mataku~

Chaeyong’s scene END

***

“Ankle mu masih sakit?” tanya coach pada Chaeyong saat istirahat di tengah latihan. Chaeyong duduk di tepi lapangan sambil menenggak botol minumannya dan sesekali menyeka keringat di kening dan lehernya dengan handuk putih di tangannya.

“Sudah lumayan, coach!” jawab Chaeyong. Ia menutup botol minumannya dan meletakkannya di sampingnya.

“Itu karena kau nggak main berat semi final kemarin..” Coach menjelaskan tanpa diminta. Chaeyong mengangguk-angguk saja. “Ngomong-ngomong, aku belum tanya, waktu perempat final.. kau pergi kemana?”

Ye?” Chaeyong sedikit tersentak.

“Kau telat 2 kuarter!” tegas Coach.

“Ah.. ye, igeon..” Chaeyong menggaruk-garuk tengkuknya, mencoba mencari jawaban, namun tak ia temukan sama sekali. Berbohong bukan keahliannya.

“Aku hanya tidak ingin kau mengulanginya lagi! Jangan mentang-mentang kau kapten, jadi bertindak seenaknya. Seorang kapten itu bertugas menyatukan dan memimpin tim, bukan untuk di sombongkan karena dipandang sebagai yang terbaik, kapten tak selalu yang terbaik!” Coach mengkuliahi Chaeyong yang hanya mengangguk-angguk. Ia sadar apa yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu itu salah. Karena emosinya ia hampir mengorbankan tim nya, karena keegoisannya. Kalau saja tidak ada Jinki..

Kalau saja tidak ada Jinki..

Jinki..

Sesaat pikiran Chaeyong melanglang buana, dan sudah tak mendengar lagi apa yang dikatakan perlatihnya saat itu. Entah pikirannya kemana. Tatapannya kosong, tangannya sibuk menyeka keringat di pipinya sampai benar-benar kering, namun ia masih menggosoknya dengan handuk.

“Yongi~! Kau mendengarkanku?” Coach menggoyangkan badan Chaeyong.

“Ah.. ye coach? Cwesonghaeyo..” Chaeyong memasang senyum canggung. Coach mendengus kesal.

“Seperti yang kubilang, bicarakan padaku kalau kau sedang ada masalah! Aku tidak mau masalah pribadimu sampai mengganggu tim! Arra?” jelas Coach.

Chaeyong mengangguk. “Ye coach, arraseumnida!” jawabnya mantab. Coachnya menepuk bahu Chaeyong, seraya berdiri dan pergi dari sana untuk kemudian memulai latihan lagi setelah ia rasa istirahatnya cukup. Chaeyong ikut berdiri, membanting handuknya asal dan berlari bersama teman-temannya yang lain. ‘Jangan pikirkan Jinki hyeong!’ pikirnya.

***

Jinki menimang-nimang kertas pengumuman itu di tangannya. Sesekali ia membacanya. Keterangan LULUS beserta nilai yang tertera tidak berubah sedikitpun, tentu saja. Sesekali ia menghela nafas, meletakkan kertas itu di atas amplop di tepi meja belajar, kemudian membenamkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas meja. Ia masih merasa tidak ingin berangkat ke Harvard tahun depan.

Tapi ia sudah terlanjur memberitahukan pada orang tuanya. Ia sudah terlanjur bilang kalau tahun depan setelah kelulusan, ia akan langsung kesana mengurusi segala macam yang dibutuhkan untuk kuliah dan kehidupannya di Massacusette. Ia tidak mungkin membatalkannya, ia tidak ingin orang tuanya kecewa.

Jinki beranjak dari duduknya, hendak mengambil buku dari rak buku yang ada di sebelah meja belajar. Ia tarik salah satu buku dengan harcover itu, namun tak sengaja menjatuhkan satu buku lagi hingga buku itu terbuka dan mengeluarkan beberapa isinya, termasuk.. sebuah foto. Ia tidak ingat pernah menyimpan foto disini.

Ia berjongkok, mengambil foto itu dan memandanginya sejenak. Fotonya bersama Chaeyong, sekitar beberapa tahun yang lalu, mereka tengah makan disebuah restoran. Jinki membaliknya, tertera beberapa tulisan disana.

Lee Jinki, resmi ku nobatkan kau sebagai Lee Chicken! kkkkkkkkkk..~
-Jjang Chaeyong- ^0^

Jjang? (Jjang:the best, sedangkan marga Chaeyong ‘Jang’)” Jinki terkekeh. Ia bangkit, merapikan buku-bukunya, mengambil buku yang diinginkan dan kembali duduk di meja belajarnya. Sudah cukup lama sejak ia mengenal Chaeyong, saat gadis itu menjadi mahasiswa baru di universitasnya. Disaat dimana ia berpikir melihat seorang mahasiswa, bukannya mahasiswi, tengah mengendap-endap di balik semak-semak.

~FLASHBACK~

Mahasiswa baru harus menghormati senior, tidak boleh melawan jika senior menginginkan sesuatu, menerapkan senyum, salam, sapa setiap bertemu dengan senior, selalu mendahulukan senior. Kalimat panjang itu tertera di papan pengumuman di loby depan kampus. Oh yeah! Sesuatu yang sangat tidak disukai oleh seorang mahasiswa baru dengan backpack coklat dan kemeja kotak-kotak warna coklat-hijau yang lengannya digulung sampai beberapa centi dibawah siku itu. Sejak tadi ia hanya berdiri di tembok gerbang kampus, menunggu saat yang tepat untuk masuk. Ia tidak ingin bertemu dengan senior.

Setelah saat yang cukup tepat itulah ia masuk, mengendap-endap melalui semak di pinggir, dan sesekali berhenti untuk melihat keadaan. Sebenarnya tak ada masa orientasi khusus untuk mahasiswa baru disini. Tak ada perploncoan, maupun acara-acara sejenisnya yang dipandang terlalu Spartan dan hanya membuat mahasiswa mengalami kelelahan fisik dan mental. Namun tulisan yang tertera di loby kampus itu sudah menjadi budaya di universitas itu. Tapi sebenarnya tidak perlu ditakuti, tidak semua senior menginginkan hal seperti itu juga, hanya orang-orang tertentu yang suka jika dipandang karena kekuasaannya.

Mahasiswa baru itu masih mengendap-endap, sesekali ia melongok keluar semak, memastikan semuanya aman, kemudian berjalan lagi. Padahal 5 menit lagi kelas akan dimulai, kalau dia tetap berjalan seperti itu, mungkin 30 menit lagi baru sampai ke kelasnya yang ada di lantai 3~!

Ya~! Kau sedang apa?” tiba-tiba seseorang mengagetkannya. Mahasiswa baru itu menoleh. Ia mendapati seorang senior tengah berjongkok tepat di belakangnya sambil ikut melongok keluar semak.

“Yhiaaa~!! Seonbaenim..” Mahasiswa itu jatuh terduduk. Seniornya mengernyitkan keningnya.

“Kamu kenapa?”

“A..ahniyo~! Jeongmal cwesonghamnida~! Aku harus segera pergi!” dengan gugup, mahasiswa baru itu bangun, kemudian bergegas. Ia keluar dari semak, berjalan dengan biasa saja, meski ia masih takut bertemu dengan senior.

Tiba-tiba ia rasakan sebuah tangan melingkar di belakang lehernya. Ia menoleh, senior itu sudah merangkulnya sok akrab. “S..seonbaenim..”

“Jangan panggil aku seonbaenim kalau kamu tak mau ketahuan mereka! Aku tahu kau tidak mau sok sopan pada senior kan?” tebak senior itu dengan senyum percaya diri.

“Ah.. ye~”

“Ngomong-ngomong, aku Jinki! Lee Jinki! Mahasiswa tingkat 2! Kau?”

“J..jeoneun.. Jang Chaeyong.. ieyo..”

Sesaat ekspresi Jinki seperti ‘uhh?’ tapi sesaat kemudian ia sudah merubah ekspresinya. ‘Memang sekarang banyak orang tua yang menamai anak laki-lakinya dengan nama yang cantik..’ batinnya. Pikiran yang sangat salah pada awalnya.

“Jadi kau Jang Chaeyong? Kau yang beberapa waktu lalu meminjamkan payung itu kan? Aku kembalikan besok ya!” ujar Jinki, tangan kanannya masih bertengger di bahu Chaeyong. “Kuharap kita bisa jadi teman baik!”

Chaeyong melirik seniornya yang bernama Jinki itu, kemudian tersenyum kecil. “Oh! Bangapseumnida, seonbaenim!” Ia tampak senang. Jinki adalah teman pertamanya di kampus. Dan ia merasa senang seorang senior mau berteman dengannya dengan tangan terbuka, bukannya membuat peraturan aneh yang tidak terdaftar dalam undang-undang kampus, namun junior harus mentaatinya.

~FLASHBACK END~

Jinki terkekeh. Ia merasa lucu mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu. Namun sesaat ia terdiam, mungkin dulu lebih baik ia tidak tahu kalau Chaeyong itu seorang perempuan. Atau mungkin, seharusnya dulu ia tidak menghampiri bocah yang tengah mengendap-ngendap di balik semak dan menyelamatkannya jadi senior-senior kampus.., ah tidak.. mungkin.. Tapi ia tahu, Tuhan mungkin sudah mentakdirkan ini semua. Bagaimana ia harus bertemu dengan bocah itu. Di sesali pun waktu tidak akan kembali seperti sebelum mereka bertemu. Namun ia masih sedikit berterima kasih, Chaeyong sudah membuat hidupnya sedikit berwarna, ia tidak hanya hidup dengan belajar. Ia masih sedikit bermain-main, dan bisa merasakan bagaimana perasaan itu datang. Ketika ia mencintai seseorang.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, Jinki mengambilnya dari atas meja dan segera membukanya. Sebuah pesan dari Chaeyong.

Chicken hyeong, besok pertandingan final! Datang ya! Kutitipkan tiketnya pada Joongki hyeong! Besok kalian masuk sama-sama aja!^^ -Jjang Chaeyong-

“Lagi..?” Jinki terkikik geli. Cepat-cepat ia balas, hanya mengiyakan. Ia tidak bisa terlalu banyak bicara, dengan kata lain tidak bisa memikirkan mau membicarakan apa. Setelah pesan terkirim, ia kembalikan lagi layar ponsel itu ke wallpapernya. Gambar ayam goreng (-__-). Jinki menghela nafas, disertai senyum kecil. “Bahkan dia hampir mengalahkan benda kesayanganku~” bisiknya pada diri sendiri, meletakkan kembali ponselnya, dan membuka bukunya untuk segera belajar.

***

Tomorrow 7.00 PM

Quarter 4 babak final basket putri sudah dimulai 3 menit yang lalu. Skor sementara berbeda tipis antara Klub Seoul dengan lawan. 55-54. Klub Seoul berusaha menambah angka untuk melebarkan jarak, hingga detik-detik terakhir mereka terus melakukan perlawanan, namun seperti memiliki beteng setinggi atap gedung olah raga itu, pertahanan mereka di menit-menit terakhir pertandingan selalu gagal untuk di runtuhkan klub Seoul, membuat sedikit celah pun sangat sulit.

2 menit terakhir, bola didapatkan klub lawan, dan mereka segera mendriblenya ke daerah deffens klub Seoul. Dengan cukup ketat, kelima pemain andalan klub Seoul yang sudah berpeluh cukup banyak itu berusaha menjaga daerah mereka mati-matian. Namun gagal, klub lawan berhasil men-shoot bola itu tepat didepan Hyojung setelah sedikit melakukan fake. 2 angka untuk tim lawan, skor menjadi 55-56. Seoul harus melakukan perlawanan, jika tidak mereka selesai sampai disini.

Minyeong mengambil bolanya di luar lapangan, mem-pass nya pada Chaeyong dan membawanya ke daerah offense mereka. Chaeyong memberikan kode-kode untuk menentukan strategi yang digunakan. Ia mem-pass nya pada Jiyeon, Jiyeon kembalikan ke Chaeyong. Kemudian ia pass pada Minyeong, Minyeong berbalik, ia seperti hendak menembak, namun ternyata ia pass pada Bora. Tapi terbaca! Gerakan mata Minyeong yang mengkode Bora, tertangkap lawan, dan pemain depan lawan berhasil melakukan cut! Fast-break pun dilakukannya untuk menyerang daerah deffens Seoul. Namun dengan segala cara, Chaeyong mengupayakan untuk merebut bolanya.

Ia rebut bola itu dengan menepisnya, bola terjatuh di lantai, jauh dari siapapun. Setelah sepersekian detik mereka harus mencerna hal yang sedang terjadi, hampir semuanya bergegas berniat untuk mengambil bola itu. Chaeyong melompat, seperti terbang, ia mengambil bola itu dengan posisi terlentang setelah sekali bergulung.

“30 detik lagi..” Jinki dari bangku penonton bergumam. Ia mengatupkan tangannya, bedoa. “Seoul menang..” bisiknya.

“Setengah menit!!” dari arah bangku cadangan, beberapa pemain berteriak. Mereka mencoba menyemangati tim yang sedang berada di tengah lapangan. Chaeyong melihat ke papan skor. 29 detik. Ia melihat ke daerah offense, pertahanan tim lawan sedang kalut. Ia melihat Hyojung sudah berlari ke arah ring, meminta bolanya.

Jebal~” bisik Chaeyong. Ia melempar bolanya ke arah Hyojung. Hyojung berusaha mengambilnya.

PLAKK!

Bola berhasil ditepis lawan. Chaeyong terperanjat, namun segera berusaha mengambilnya lagi. Ia tumpukan badannya pada kaki kirinya.. “ARRRHHH!!” pekiknya.

“Chaeyong!” Minyeong berseru.

“KEJAR BOLANYA!!” Chaeyong berteriak, berusaha untuk bangun sendiri, tak mengijinkan siapapun untuk membantunya.

Klub Seoul masih berusaha mati-matian, merebut bola, bola berhasil di ambil Jiyeon. Ia mendribble bolanya ke arah ring, dan hendak memasukannya dengan lay-up, meski dihadapannya 2 orang berjaga. Tak mau membiarkan bola masuk ke ring mereka.

“5..! 4..! 3..! 2..! 1..!” seiring seruan dari penonton, waktu habis, tepat dengan terkaparnya Jiyeon setelah center tim lawan mem-block nya saat ia hendak melakukan layup.

Suara supporter tim lawan riuh, namun hening di pihak klub Seoul. Minyeong, Bora, Hyojung, berdiri lemas di tengah lapangan. Jiyeong menangis, ia masih terkapar, terlentang di bawah ring, sedang dihadapannya 2 orang yang semula menjaganya telah berpelukan gembira. Chaeyong masih berusaha berdiri, namun sakit di kakinya sudah berangsur menghilang, kini sakit karena kekalahan lebih dirasakannya. Pemain di kursi cadangan segera menghambur, beberapa memeluk ketiga pemain yang tengah terpejam menahan air mata itu, membantu Jiyeon dan Chaeyong berdiri. Diiringi isak tangis dari semuanya karena kekalahan mereka, mereka kembali lagi masuk ke ruang pemain.

“Mereka kalah..” Jinki bergumam. Wajahnya tak percaya. Ia tahu ini tidak mudah bagi Chaeyong.

Joongki hanya tersenyum, meski sebenarnya ia juga kecewa. Tapi ini hanyalah sebuah game. Klub Seoul sudah bermain dengan baik, hanya faktor Luck yang tidak berpihak pada mereka. Joongki menghela nafas pendek, kemudian menepuk bahu Jinki. “Kita keluar yuuk, kita tunggu di depan ruang pemain!”

---

“Good game, gals! Kita memang tidak juara tahun ini, tapi permainan kalian jauh lebih bagus dibandingkan tahun kemarin! Coach salut dengan kerja keras kalian!” Coach buka suara setelah semua berkumpul dan berhenti menangis, meski sedikit isakan masih terdengar dari beberapa pemain. “Terima kasih banyak semuanya sudah berjuang dengan baik! Jangan disesali, jadikan ini sebagai pelajaran agar kita bisa bermain lebih baik lagi! Tahun depan, kita balas kekalahan kita! Arra??”

YE! COACH!” seru mereka keras, dan evaluasi pun usai.

Semuanya keluar dari ruang pemain, Chaeyong keluar paling akhir dengan langkah gontai dan sedikit terseok karena ankle nya kembali cedera di lapangan. Masih terdengar sesekali ia terisak. Ia merasa gagal sebagai kapten, meski yang lain tidak menganggapnya begitu.

Di depan, Jinki dan Joongki sudah menunggunya. Mereka segera menghampiri bocah itu begitu ia muncul dari balik pintu. “Yongi-a, gwaenchanayo?” Jinki bertanya khawatir. Chaeyong hanya mengangguk kecil dan berusaha tersenyum.

Joongki mengacak rambut gadis itu. “Good game! Nggak perlu menangis, kalian cuma kalah hoki aja kok!” komentar Joongki. “Udah yuk, kita makan! Mengembalikan mood..” ajak Joongki sambil melihat ke dua bocah di hadapannya. “Restoran ayam?” Jinki langsung tersenyum lebar, Chaeyong terkekeh melihatnya.

Aigoo~ kalau ketawa habis nangis nanti muncul tanduk di pantat mu lo!” goda Jinki. Chaeyong mendengus, menoyor kepalanya, kemudian pergi. Diikuti Joongki yang berjalan menyamai langkahnya. Jinki menghela nafas, tersenyum kecil, kemudian mengikuti mereka. Setidaknya kali ini ia membuatnya tesenyum.

***

Yoonhee memandangi cincin di jari manis tangan kanannya. Couple ring. Ia masih tidak percaya angannya itu terwujud. Ia pacaran dengan idolanya semasa SMA, Song Joongki. Pertemuan mereka berawal dari wawancara majalah sekolah, itu yang diingat Joongki. Tapi menurut Yoonhee, semua berawal saat Yoonhee kesulitan membawa seabreg file yang harus dipindahkannya dari ruang berita ke ruang majalah sekolah. Tidak ada satupun teman klub yang membantunya, ia mengerjakan semuanya sendiri. Dan disaat itulah anak laki-laki itu datang. Song Joongki. Ia baru kembali dari ruang loker, mengganti baju olah raganya dengan seragam, dan ia segera menawarkan diri untuk membantu saat melihat Yoonhee kesulitan.

Yoonhee pun langsung menyukainya pada pandangan pertama. Joongki saat itu tidak terlalu tampak fashionable. Rambut pendek biasa khas anak SMA, seragam sekolah yang dikenakan tanpa variasi. Sepatu sekolah. Ia remaja biasa, tapi hanya dengan itu pun kharismanya bisa terpancar begitu hebatnya, ditambah ia punya perangai yang sangat baik. Membuat Yoonhee segera menyukainya begitu bertemu. Tapi mungkin Joongki melupakan itu, ia hanya ingat pertama kali mereka bertemu saat Yoonhee mewawancarai Joongki untuk majalah sekolah mereka, dan dari situlah keduanya mulai menjadi teman baik.

Gadis dengan rambut diikat ekor kuda itu tersenyum kecil, membuat paras cantiknya tampak semakin mempesona. Pipinya memerah. Namun ia masih memikirkan tentang Joongki tidak benar-benar mencintainya. Bahkan ia terang-terangan mengatakan pacaran dengannya hanya sebagai pengalihan. Sungguh jahat. Memang, Joongki pun merasa begitu. Tapi Yoonhee hanya bisa mengiyakan, sejauh Joongki merasa bahagia, itu juga menjadi kebahagiaannya.

“Uuu.. di pandangi terus! Nanti lecet lho cincinnya!” seorang editor bernama Park Shinhye menghampirinya dengan food tray berisi cake dan jus jeruk. Ia duduk di sebelah Yoonhee yang masih saja memandangi couple ring nya itu. “Kau begitu menyukai Joongki sebanyak itu?”

Yoonhee mengela nafas, kemudian mengangguk kecil. “Seperti mimpi aku bisa pacaran dengannya!” katanya, mulai menurunkan tangannya dan melipatnya di atas meja.

“Tapi kalian sangat serasi! Dia tampan, dan kau cantik! Ah~ rasanya seperti nonton drama!” komentar Shinhye, keduanya terkekeh.

“Tapi kadang aku malah merasa sedang di bohongi..” dengus Yoonhee, ia menopang sebelah dagunya dengan tangan kanan, memandang kosong ke depan.

“Kau ini mikir apa? Aku tahu Joongki seonbae bukan orang yang seperti itu! Percayalah!” Shinhye berkata menurut penilaiannya. Meski mungkin tidak 100% benar, tapi Yoonhee berharap apa yang dikatakan Shinhye benar. Joongki serius soal hubungan mereka.

***

“Masih mengurus kepindahanmu taun depan?” tanya Chaeyong. Mereka, Chaeyong dan Jinki, duduk berjajar di bangku di perpustakaan. Suasan sudah mulai dingin meski mereka berada didalam ruangan, itulah kenapa Chaeyong mengenakan syal tebal mengelilingi lehernya, dan membenamkan setengah wajahnya sampai hidung disana. Tangannya terus berada didalam saku jaket, dan sebentar-sebentar ia menggerak-gerakkan tubuhnya agar badannya sedikit menghangat.

Jinki mengangguk kecil, matanya masih memeriksa beberapa berkas yang baru diambilnya dari bagian akademik. Sesekali ia benahi letak kacamatanya, kemudian kembali membaca. “Aku bakal tinggal di asrama nantinya, bersama mahasiswa Korea yang lain. Jadi aku harus mengurusi ini itu..” Jinki bercerita tanpa diminta. Namun matanya masih tak lepas dari kertas-kertas itu. “Aku harap bisa cepat beradaptasi disana!”

“Hmhh.. keuraeyo~?” mata Chaeyong melirik ke arah berkas-berkas itu, mencoba membaca apa yang ada disana. “Wae Harvard~? Kan jauh banget..” desis Chaeyong lirik, ia sedikit melamun, makanya jadi ngelantur dan tanpa sadar baru mengucapkan apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Mwohae?” Jinki menoleh, merasa mendengar sesuatu.

Chaeyong terperanjat, menggelengkan kepalanya cepat. “Ahni.. ahni..” tangannya dikibas-kibaskan didepan wajahnya. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Jinki. Ia ingin Jinki meraih cita-citanya, itu yang ia tanamkan di hatinya. Untuk saat ini. “Ah.. tapi, apa yang akan kau lakukan sebelum pergi ke Harvard, hyeong?”

Jinki mendongak, berpikir sejenak. “Menyelesaikan kuliah untuk semester ini, semester depan aku akan menulis skripsi, sidang, ujian, lulus, kemudian aku akan segera ke Harvard..” Jinki menghela nafasnya mengakhiri kalimatnya.

Chaeyong mengangguk-angguk. “3 tahun itu begitu cepat..” desis Chaeyong. Jinki hanya berdehem, ia melirik Chaeyong dari sudut matanya. “Rasanya baru kemarin kau membantuku lolos dari senior-senior itu, dan sekarang hyeong sudah mau S2! Haha.. kau sudah tua!” komentar Chaeyong, diiringi kekehan kecil di akhir kalimatnya.

Mwoya??” Jinki menyenggol lengan Chaeyong menggunakan bahunya, sehingga membuat Chaeyong terhuyung, namun ia kembali menegakkan duduknya lagi.

“Aa..  Jinki hyeong..”

Mwohaeyo?” tanya Jinki. Ia memasukkan semua berkas itu kedalam amplop, kemudian memasukannya kedalam ranselnya.

“Ah.. ahniyo~” ia menghela nafas pendek. ‘Pabo~!’ batinnya pada diri sendiri.

***

Ia, Jinki, baru memasukkan beberapa berkas lagi ke bagian akademik. Ia sudah melengkapi semuanya, dan mulai tahun depan setelah lulus ia akan segera menjadi mahasiswa di Harvard University. Jinki berjalan pulang sendirian, hari ini Chaeyong pulang mendahuluinya, entah katanya ia ada urusan. Udara dingin mulai menusuk-nusuk sampai ke tulang. Ia lipat tangannya didepan dada dengan erat. Mempercepat langkahnya. Nafas yang keluar dari mulut dan hidungnya mengepul berwarna putih, bagai gumpalan kapas tipis yang berterbangan.

Meski ia baru saja menyelesaikan urusan soal keberangkatannya itu, hatinya masih saja belum ikhlas. Ia masih tidak rela harus berangkat meninggalkan Seoul. Meninggalkan Chaeyong.. Ia masih berharap gadis itu mencegahnya, dan menyuruhnya untuk tidak berangkat.

Jincha..” Jinki bergumam. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku mantel hitam yang menutupi hingga beberapa centi di atas lutut saja, setelah merapatkan syal di lehernya. ‘Apa aku harus melupakannya..?’ pikirnya. Tapi setelah ia pikir-pikir lagi, membayangkannya saja tidak bisa. Chaeyong terlalu kuat melekat didalam hatinya. Meski ia dengan cerdik menyembunyikan perasaannya dengan sempurna.

Wae..” desisnya. Suaranya bergetar. Sebentar kemudian, air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya, dan sedetik kemudian, setitik air sudah menetes di pipinya. Meleleh dengan lembut hingga terjatuh dari dagunya, ke tanah. Ia menyekanya dengan lengan mantelnya. Namun air mata itu tak kunjung habis.

Jinki memakai tudung mantelnya, ia tidak ingin orang melihatnya menangis. Ia kenakan kacamatanya, untuk menutupi matanya yang merah, mempercepat jalannya menuju ke rumah. Ia menyesal tadi tidak berangkat pakai motornya ke kampus.

***

Suara benturan antara kerikil dengan tanah terdengar sedikit lebih keras di sebuah jalan perkampungan dimana Chaeyong tengah berjalan pulang sekarang. Setengah wajahnya masih terbenam di dalam lingkaran syal tebalnya. Tangannya terus berada didalam kantong jaket baseballnya. Kakinya yang bersepatu itu tak berhenti menendang kerikil yang sama hingga benda kecil tak beraturan itu menggelinding kesana kemari.

Chaeyong mendengus, ia kesal, pikirannya tak bisa lepas dari bocah itu. Jinki. Padahal ia sudah mati-matian menolak perasaannya. Ia pikir perasaan itu hanya sebuah pelarian, makanya ia tak mau perasaan itu menjadi lebih dalam lagi. Namun yang dialaminya adalah, semakin ia menolaknya, semakin ia mengerti, perasaan sukanya pada Jinki sangatlah besar. Mengingat semua hal yang pernah mereka lakukan sama-sama di tahun-tahun ini, ia baru menyadari, perasaan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Dimana kadang ia merasakan kebahagiaan yang berlebih saat mereka bersama. Oke, sedikit klasik, tapi itulah keadaannya.

Chaeyong berhenti, menoleh ke arah kardus yang diletakkan di bawah tiang listrik yang terang  karena lampu jalan yang menempel di atasnya. Ia mendengar suara gonggongan lirih anak anjing dari dalam kardus itu, Chaeyong mendekatinya, berjongkok, dan membukanya. Seekor anak anjing berwarna putih menggemaskan, meraung-raung kelaparan. Chaeyong meraih sesuatu didalam tasnya. Biskuit. Ia mematahkannya menjadi potongan kecil dan menyuapkannya pada anjing itu. Dimakan. Chaeyong mengelus kepala anjing itu pelan. “Kau dibuang.. tapi setidaknya masalahmu nggak se kompleks ini.. kau cuma perlu rumah~” gumam Chaeyong, dan sekali lagi menyuapkan biskuitnya.

Chaeyong menghela nafasnya pendek. “Kalau kau ayam, aku akan membawanya ke rumah chicken hyeong! Tapi kau anjing sih..” Chaeyong terkekeh sendiri dengan kalimatnya. Ia ngelantur. Dalam waktu sebentar saja 2 keping biskuitnya sudah habis. “Heh, anjing! Kau suka biscuit? Kalau ayam, suka nggak?” katanya random. “Ahh.. pabo..” Chaeyong memukul kepalanya sendiri.

Ia masih mengelus anjing itu sambil terus berpikir tentang perasaannya. Beberapa saat kemudian, ia berdiri sambil membawa kotak berisi anjing itu, membawanya ke tempat perawatan hewan terlantar.

***

Song Family’s home

“Masih meneruskan proyek mu, oppa?” Yoonhee yang baru meletakkan kudapan di meja makan itu duduk di sebelah Joongki sambil ikut melihat apa yang dikerjakan Joongki dengan laptopnya. Memilah-milah foto yang akan digunakan saat pameran keduanya nanti. Ia hampir saja lupa dengan proyek ini, sampai semalam ia memeriksa laptopnya lagi. “Foto yang itu bagus..” Yoonhee menunjuk foto Jinki yang sedang menikmati ayamnya dengan binal, Joongki terkekeh, begitu juga Yoonhee.

“Itu Yongi yang mengambilnya, bukan aku.” Joongki menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya. Yoonhee mengangguk-angguk saja.

“Keurae.. kelihatannya cukup berbakat..” bisik Yoonhee dengan senyum tipis di bibirnya.

“Yoonhee-a, gwaenchanayo?” tanya Joongki tiba-tiba.

Mwohae?”

Joongki menggeleng kecil. “Kata Shinhye kau menceritakan sesuatu tentangku padanya?” jawab Joongki jujur. Beberapa waktu lalu Shinhye memang kelepasan bicara saat keduanya sedang mengobrol.

Aish.. geu Shinhye..” desis Yoonhee.

“Ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Joongki lagi.

“Ah..ahniyo oppa~” jawab Yoonhee ragu.

Joongki menghentikan aktifitasnya, kemudian menoleh pada Yoonhee yang duduk di sampingnya. “Apa ini tentang.. kenapa kita pacaran?” katanya dengan jeda ditengah kalimatnya. Ia merasa harus menjelaskan ini sekarang. Yoonhee terperanjat, Joongki seperti bisa membaca apa yang tengah ia pikirkan.

Joongki mengalihkan pandangannya. “Aku juga ragu pada awalnya.. tapi sekarang aku mengerti!” Joongki menghela nafas pendek, membalik badannya kea rah Yoonhee, meraih kedua tangan gadis itu dan mengusapnya lembut. “Neol saranghae..”

“N..ne?”

“Kau tidak tahu? Perasaanku sudah tumbuh begitu saja, entah sejak kapan.. dan aku harap kau, juga aku, tidak meragukan ini..” Joongki tersenyum kecil. “Yoonhee ga Jhoahae!”

Oppa..” Yoonhee terbengong, namun sesaat kemudian senyum mulai terbias di wajahnya. Sangat lebar. Bahkan seberapa besar kegembiraannya bisa terlihat dari wajahnya. Ia tidak menyangka hari ini akan mendengar Joongki mengatakan hal itu. Hal yang sudah ditunggunya sejak SMA. Meski ia tahu saat itu tak seorangpun ada di hati Joongki. Dan kini ia mendengarnya. Yoonhee memeluk Joongki erat. “Gomawoyo!” bisiknya. Air mata meleleh di pipinya. Terharu. Ia benar-benar bahagia.

Joongki mengangguk, membalas pelukannya, sambil sesekali menepuk punggung Yoonhee lembut. “Nado.. gomapda!” balasnya.

***

Jinki’s scene

Hari terakhir ujian.. ahh~ tak terasa semester ini sudah berakhir. Tinggal nunggu nilai keluar. Aku keluar dari ruangan sambil menepuk-nepuk bahuku, terlalu banyak duduk membuat punggungku sakit! Aku mau pulang saja setelah ini, sampai aku melihat seseorang melangkah dengan gontai ke arahku sambil memandang ke lantai. Chaeyong. Sudah seminggu ini aku tak ada kontak dengannya. Selain karena ujian, juga karena.. perasaanku.

“Yongi!” aku menyapanya seperti biasa, tanpa menampakkan kegugupanku agar ia tidak curiga dengan perasaanku.

“O..oh, hyeong~! Annyeong!” sapanya gugup.

Waeyo? Sesuatu terjadi padamu?” tanyaku khawatir. Aku tak pernah melihatnya gugup seperti ini.

“Kuharap sonsaengnim salah baca waktu mengkoreksi nanti..” tiba-tiba ia berjongkok, aku menunduk, meraih lengannya untuk membangkitkannya. Tapi ia tetap berjongkok. Kedua tangannya memegang kepala, mengacak-ngacak rambutnya dengan asal. “Ujiannya susah~!!”

Aku tersenyum lebar, mengangkatnya bangkit sambil terkekeh. “Nggak jauh beda sama keluhanmu semester kemarin!” aku tertawa. Chaeyong meninju lenganku hingga aku mundur beberapa langkah.

Aku masih tertawa, sampai aku sadar sejak tadi Chaeyong hanya diam sambil melihat ke arahku. Apa dia marah? Kesal denganku karena kata-kataku barusan? Bahkan ia tidak tersenyum sedikit saja. Wajahnya datar, melihat ke arahku tanpa berkedip. “Mwohaeyo?” tanyaku takut-takut.

“Jinki op.. ahni.. hyeong..” katanya.

Mwo?”

“Aku..” Chaeyong membuang pandangannya. “Jangan pergi ke Amerika..” katanya pelan. Namun aku masih bisa mendengarnya, cukup jelas.

Aku terdiam sebentar. Mencoba mencerna apa yang baru saja kudengar. “Jangan pergi..?” aku mengulanginya. “Wae?”

“Tidak tahu.. aku hanya tidak ingin kau pergi, oppa..” katanya. “Mianhae..” Chaeyong berbalik, kemudian berlari pergi.

Aku tertegun sebentar. Ia mencegahku pergi. Ia memanggilku oppa. Perasaanku meluap-luap! Aku tak bisa menjelaskannya, terlalu bahagia, berlebihan. Apa artinya ini?? Orang bilang aku jenius, tapi untuk urusan ini, aku merasa sangat idiot! Namun disamping itu, aku merasakan sedikit keraguan terhadap sesuatu.. Aku hanya bisa memandang bocah itu, hingga ia menghilang di tikungan koridor.

Jinki’s scene END

***To be Continue***

#EHEM.. OKAY! Terjawab sudah.. dan sudah hampir di penghujung cerita!
Thx for reading dan jangan lupa komennya di butuhkan demi kemajuan karya THE BRIGHTESS AUTHOR IN THE GALAXY(?), LIGHT~!! *tepok tangan sendirian(-__-)*
Hontou ni sankyuu~!^^

-Keep Shine Like HIKARI-

9 comments:

  1. THE BRIGHTESS AUTHOR IN THE GALAXY ????

    hhh ~ buruan kelarin !! panjang bener ~

    10 jempol deh *pinjem jempol sana sini -___-a*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah.. udah gausah dibahas~ -__-

      gapapa lah~ masih ada yang lebih panjang dari FF gw ini~kkk

      makasi deh.. bakal cepet lanjot~^^>

      Delete
    2. cepetin supaya FF rikuesan kegarap hihihihi

      Delete
  2. uwwaaaahhh...scene terakhir bikin deg-degan >,<
    buru deh dilanjut kkk

    ga ada yg ga sreg ky yg km omongin kmrn
    tapi kalo di flashback, kayaknya jdi cepet bgt chaeyong lupa sama perasaannya ke joongki padahal kmrn ia sempet down krn joongki, tp gpp over all aku suka ceritanya ^^b

    ReplyDelete
  3. oh iya beneran ga ke post -_-

    emm itu scene terakhir bikin deg-degan,
    akhirnya ya chaeyong ngomong juga...

    ni ff kl dibaca bagian ini tok g krasa kurang tp malah kyak gini => d(^_^)b
    tp kalo dibaca dari awal, agak gimana gitu soalnya perasaan jantung berdebar-debar&perasaan yg meluap-luap itu dateng kayak cepet gitu, padahal kl di flashback kmrn itu si chaeyong kacau bgt gegara joongki, iya kan...
    cuma itu sih, tp ga jd masalah kok, bagussss, aku sukaaa

    jinki, jd keinget dia hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga ngerasa gitu.. -__-
      ntar aku coba bikin biar yang di awal itu gajadi kebaca nyebelin karena kesannya yong melampiaskan perasaannya ke orang yang beda..

      makasih bedewe udah mau baca~!^^

      ayam lagi apa ya? .. haha..

      Delete
    2. gpp gpp..ga nyebelin kok cuma agak tega hhh *tabokin - dorong ke 'kandang' ayam*

      ya sama2 loh ^^

      ayam lg ngelamun, mikirin kamu kali #eaa

      Delete
    3. *mewek2 melukin ayam*
      *tiba2 tabi dateng, ambil satu ayam* tabi:mau bikin mie ayam sepesial dulu~ *eh, kok jadi nyambung ama twitt? ._.a*

      hahaha.. bisa aja~ *dorong hyun sampe nyungsruk* eh~
      kkkkkkkkk

      Delete