Thursday, October 7, 2010

Inspired from my Big Bro..Choi Tabi..^-^ [PART 1]

Sebenernyya cerita ini nangkring di FB udah lama..
waktu awal-awal aku kenal Korea dan BIG BANG!!
jadi repost nih..hehehe =p

======================================================

Inspired from my Big Bro..Choi Tabi..^-^ [PART 1]

Cast :
Choi Seung Hyun (Choi Tabi)
Miyamoto Riko (fiction)

Author : Nanba Hikari (C-Dragon)

======================================================

Atashi wa aisuru wo nikumu.

Aku tidak bisa mengatakan hal lain selain itu. Aku ingin menjerit begitu keras, hingga tak dapat menjerit lagi. Ingin aku berlari jauh, hingga aku tak dapat berlari lagi. Bukan salah siapapun sehingga aku berkata begitu. Kalau di pikir-pikir ini adalah salahku sendiri. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan diriku sendiri.

Memandangi foto itu terus menerus seperti orang yang sedang frustasi. Kau tahu, sulit sekali untuk melupakan seseorang yang masuk dalam kehidupanku, meniupkan cinta, dan menghiasinya dengan berbagai hal menyenangkan. Walaupun orang itu kini telah pergi jauh dan mungkin saja sudah melupakanku.

***

Sudah hampir jam sembilan, dan Riko masih dalam perjalanan ke sekolah. Kalau tiga menit lagi belum sampai juga, ia akan terlambat. Padahal hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di sekolah barunya setelah ia pindah dari Hokkaido. Apakah harus memberikan kesan pertama yang buruk dengan terlambat datang?

Riko berlari-lari berusaha mempercepat langkahnya menuju sekolah. Ia terus memperhatikan arlojinya. Pasti akan terlambat! Sebenarnya ini bukan salahnya, karena sebelum berangkat ke sekolah ia harus berbenah dahulu. Karena ia baru sampai di rumah barunya tadi pagi-pagi buta.

Seperti pepatah pucuk di cinta ulam pun tiba. Sedang tergesa-gesanya Riko, tiba-tiba seseorang dengan seragam dari sekolah yang sama dengan Riko menghentikan motor maticnya di depan Riko. Anak lelaki itu membuka kaca helm. Kalau dilihat dari wajahnya, sepertinya ia bukan orang jepang.

“Yamagata Nishii gakuen?” tanya anak lelaki itu. Riko yang merasa di tanya mengangguk saja. “Naiklah! Kalau tidak kau bisa terlambat!”
Tanpa pikir panjang lagi, Riko yang membutuhkan tumpangan segera naik ke atas motor, dan motor itupun melaju kencang menuju sekolah mereka.

“Apa kau punya SIM?” tanya Riko pada anak lelaki tadi.

“Tidak penting! Yang penting kita sampai sekolah dengan cepat!” jawab anak lelaki tadi dan mempercepat laju sepeda motornya.

***

Mereka segera berlari ke ruang guru, mencari wali kelas baru mereka. Tapi yang mereka temui di sana hanya seorang guru wanita yang mengenakan pakaian olah raga. Rambutnya di ikat ekor kuda dan memakai kacamata. Kini ia terlihat sedang membuat sesuatu di atas kertas dengan drawing pen.

“Sumimasen!” keduanya berkata bersamaan. “Eh??”

“Kau murid baru juga?” tanya anak lelaki tadi pada Riko. Riko hanya mengangguk saja. Anak lelaki tadi tersenyum aneh dan mengangguk-ngangguk. Kemudian menggaruk kepalanya sedikit. Anak lelaki itu sepertinya memang bukan orang jepang. Bahasa jepangnya memang lancar, tapi logatnya sangat terlihat kalau dia bukan orang jepang.

“Sumimasen!” kata Riko sambil mengetok pintu ruang guru. Guru tadi menengok sedikit, kemudian bergegas berjalan ke arah mereka.

“Kenapa kalian terlambat?” kata guru wanita tadi.

“Gomenasai!” Riko menjawab. Guru tadi tersenyum simpul.

“Sudahlah! Ayo aku antarkan ke kelas kalian!” kata guru itu. Mereka bertiga berjalan ke arah yang sama, ke arah kelas 2-B. Guru tadi lalu mengetuk pintu, kemudian membukanya. “Ichihara sensei! Dua murid barumu sudah datang!”

“F..futari?(dua?)” dua anak baru itu saling memandang.

“Oh..hai! Arigatou Kouchou-san!(Ya!terima kasih ibu kepala sekolah!)” jawab Ichihara sensei.

“Kochou?(kepala sekolah?)” dua anak itu berkata lagi dan menjadi semakin kaget. Ibu kepala sekolah itu menepuk pundak dua anak baru itu dan berjalan menjauh dari sana.

Lalu Ichihara sensei mempersilakan dua anak itu untuk masuk ke dalam kelas. Mereka tidak menyangka kalau akan menjadi teman satu kelas.

Seisi kelas tampak antusias dengan teman baru mereka. Terutama anak-anak perempuannya, setelah melihat anak laki-laki tinggi berambut amat cepak dengan tindik di salah satu daun telinganya yang wajahnya lumayan dan sorot matanya tajam itu, mereka langsung berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bisikan.

“Baiklah, anak-anak! Mereka adalah Miyamoto Riko dan Cho..Cho..” Ichihara sensei menghentikan tulisannya di papan tulis dan mencoba mengingat-ingat nama salah satu murid barunya itu.

“Choi Seung Hyun!” kata anak lelaki itu.

“Yah, itu dia! Namamu susah sekali!” kata Ichihara Sensei. Sejenak sesisi kelas tertawa. “Miyamoto pindahan dari Hokkaido! Dan Choi dari Korea selatan!”

Sesaat kemudian seisi kelas langsung riuh. Mereka sepertinya senang mendapat teman pindahan dari luar negri. Mereka tampak kagum dan mungkin semuanya ingin menjadi teman Seung Hyun.

“Sudah! Sudah! Kenalannya nanti saja ya! Sekarang, silakan kalian duduk di belakang, dekat jendela, ada dua tempat yang masih kosong!” kata Ichihara sensei.

“Hai! Arigatou sensei!” kata mereka berdua dan bergegas duduk di bangku mereka.

***

Sudah seperti yang siapapun pikirkan, meja Seung Hyun yang ada di belakang Riko menjadi ramai saat jam istirahat tiba. Terutama penuh dengan gadis-gadis yang ingin berkenalan dengan anak itu. Agak berlebihan memang, tapi mereka seperti sedang bertemu dengan artis pujaan dunia!

“Choi-san! Hajimemashite!” “Choi-kun! Makoto Nami desu!” “Choi-kun! Ohayou!” dan seruan-seruan sejenisnya meramaikan meja kecil di pojok ruangan itu. Seung Hyun hanya bisa mengangguk-ngangguk dan tersenyum simpul. Tapi di batinnya, ‘menyebalkan sekali’.

Berbeda 180 derajat dengan meja Riko yang sepi-sepi saja. Sempat tadi beberapa anak perempuan mengajak berkenalan, dan sampai sekarang mereka masih mengobrol, dan hanya bertiga dengan Riko. Tapi tiba-tiba Riko beranjak, “Aku mau ke toilet!”

“Ya, silakan!” kata salah satu teman barunya. Riko lalu berjalan menjauh. Tapi terhenti sesaat saat seseorang memanggilnya dari belakang.

“Kau mau kemana?” tanya Seung Hyun sambil berdiri, dan membuat kerumunan di sekitarnya terdiam sesaat.

“Otoire!” jawab Riko jujur.

“Aku ikut!” kata bocah lelaki itu dan segera menjauhkan diri dari kerumunan.

“He? Kau gila ya?” tanya Riko. Tapi Seung Hyun tetap menarik tangan Riko keluar dari kelas.

“Tolong selamatkan aku dari monster-monster wanita itu!” bisiknya sambil terus menarik Riko ke arah toilet siswa putri. Riko hanya tersenyum dan mengikuti Seung Hyun.

---

Beberapa menit setelah Riko masuk ke dalam toilet, akhirnya ia keluar sambil melap tangannya dengan sapu tangan. Tampak Seung Hyun sedang menunggu sambil bersandaran di tembok. “Lama sekali!” katanya pada Riko setelah ia melihat gadis itu muncul dari dalam toilet.

“Siapa juga yang menyuruhmu menunggu!” jawab Riko cuek. Seung Hyun melengos mendengar pertanyaan Riko. “Sudah! Ayo kita kembali ke kelas!” ajak Riko.

“Jangan!” Seung Hyun jadi heboh sendiri. Ia masih paranoid dengan keadaan kelas, terutama pada para wanitanya yang mengerumuninya tadi.

“Lalu mau kemana?” tanya Riko.

Seung Hyun bingung. Ia berpikir dan matanya mencari-cari sesuatu, kalau ada tempat yang bagus untuk bersembunyi. Sesaat ia melihat tumpukan bangku di tangga sekolah yang naik ke arah atap. Ia lalu dapat ide.

“Kita ke sana saja!” katanya sambil menunjuk ke arah tangga yang tertutup bangku itu. Riko masih bingung. Seung Hyun lalu menarik Riko ke tempat yang ia maksud.

---

Beruntung sekali mereka, tidak ada guru yang memergoki mereka naik ke atap. Entah karena apa atap sekolah itu sengaja di tutup. Mungkin pernah ada suatu kejadian. Tapi dua anak yang baru naik tadi tidak terlalu memperdulikan itu. Terutama Seung Hyun yang lebih memikirkan keselamatan dirinya dari pada berpikir kenapa atap sekolah di tutup.

Mereka terdiam sejenak. Riko hanya duduk sambil bersandar dinding atap sekolah, sedangkan Seung Hyun duduk di bangku sekolah sambil bertopang dagu dan memandang ke arah langit. Ia baru saja mengambil salah satu kursi dan meja sekolah yang bertumpuk di tangga tadi.

“Bel masuk berapa menit lagi?” tanya Seung Hyun.

“Wakaranai!” jawab Riko seadanya. Ia lalu mengambil ponselnya, untuk mengecek kalau ada email yang masuk. Tapi saat pertanyaan muncul dalam benaknya. “Kenapa tadi pagi kau berhenti dan menyuruhku ikut? Padahal kau juga terlambat!”

“Betsu ni!” jawab Seung Hyun. Riko tersenyum kecil.

“Arigatou na!” kata Riko. Seung Hyun tersenyum dan mengangguk.

“Omae no namae wa?” tanya Seung Hyun dengan logatnya yang aneh.

“Miyamoto Riko! Panggil Riko saja!” jawab Riko. “Kimi wa?”

“Choi Seung Hyun!” jawab Seung Hyun. Entah kenapa mereka saling bertanya nama, padahal pada saat perkenalan di kelas tadi mereka sudah tau nama masing-masing.

“Namamu benar-benar susah di hafal!” kata Riko bercanda.

“Sudah lah!” kata Seung Hyun.

“Jadi benar kau dari Korea?” tanya Riko. Seung Hyun hanya mengangguk. “Lalu kenapa kau pindah kemari?”

“Aku kabur dari rumah!” jawab Seung Hyun jujur. Riko kaget, kabur dari rumah tapi sampai ke luar negri?? Tapi Riko hanya bisa terbengong-bengong memandangi kawan barunya itu. Masih takjub dengan kehebatannya kabur sampai keluar dari negaranya sendiri. “Orang tuaku baru saja memutuskan untuk bercerai! Dan karena aku tidak setuju, aku kabur saja!” katanya lagi sambil tersenyum. Riko jadi agak tidak enak setelah mendengar kalau orang tua Seung Hyun akan bercerai.

“Lalu sekarang kau tinggal dimana?” tanya Riko lagi.

“Di rumah susun di dekat stasiun!” jawab Seung Hyun. Riko mengangguk-ngangguk, tidak tahu lagi dia harus berkata apa.

“Kau ini benar-benar orang korea?” tanya Riko. Seung Hyun mengangguk. “Tapi bahasa jepangmu fasih sekali!”

“Ibuku orang jepang! Dan di rumah ia masih sering menggunakan bahasa jepang! Jadi aku lancar!” jawabnya. Riko mengangguk-ngangguk saja. “So da na! Yoroshiku na!”

“Hmmh! Yoroshiku!” jawab Riko sambil tersenyum.

***

Pulang sekolah. Riko segera keluar dari kelas. Ia ingin cepat-cepat pulang dan membantu ibunya merapikan rumah baru mereka karena ayahnya akan pulang larut malam ini. Tapi langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya dari belakang. “Riko!”

Riko menoleh. “Ne, Seung Hyun? Doushita no?”

“Kau mau kemana?” tanya Seung Hyun.

“Pulang! Aku harus membantu ibuku merapikan rumah karena kami baru sampai tadi pagi!” jawab Riko. Mereka lalu berjalan menuju keluar sekolah.

“Boleh aku membantu?” tanya Seung Hyun.

“He?” Riko tidak tahu apa yang di maksudkan kawan barunya itu.

“Ne, anggap saja sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkanku dari mereka!” kata Seung Hyun sambil menunjuk ke anak-anak perempuan yang sedari tadi mengamatinya. Riko melihat ke arah anak-anak perempuan itu, lalu tersenyum.

“Baiklah!” kata Riko.

***

“Tadaima!” serunya sambil masuk ke dalam rumah. “Ayo masuk saja!” katanya pada Seung Hyun. Anak lelaki itu hanya mengangguk pelan, dan ikut masuk.

Mereka melepas sepatu di depan pintu dan segera masuk ke ruang tengah. Tampak ibu Riko sedang mendorong lemari besar. “Okaeri, Riko!” kata ibunya tanpa berhenti mendorong lemari itu.

Seung Hyun yang melihat ibu Riko bersusah payah merasa harus membantu. Ia lalu melepas tas sekolahnya dan ikut membantu ibu Riko mendorong lemari itu sampai ke tempat yang di maksudkan.

“Hah! Arigatou gozaimasu!” kata ibu Riko sambil tersenyum. Ia lalu menyeka keringat di keningnya.

Riko mengambilkan air minum dari dapur dan memberikannya pada ibunya. “Kachan! Sudah aku bilang tunggu aku pulang dulu baru berbenah!” kata Riko. Ibunya hanya tersenyum menanggapi Riko. “Sudah, sekarang ibu istirahat saja! Biar aku dan Seung..Oh ya, ibu belum aku kenalkan! Dia Seung Hyun, teman baru di sekolah! Dia juga baru masuk hari ini!”

Seung Hyun mengangguk hormat. “Yoroshiku onegai shimasu!” kata Seung Hyun kemudian.

“Hai!” kata ibu Riko. “Kau bukan orang Jepang ya?” tanya ibu Riko kemudian. Seung Hyun menggeleng.

“Saya dari Korea!” jawab Seung Hyun.

“Ah..So ka! Tapi bahasa jepangmu fasih sekali!” kata ibu Riko. Seung hyun tersenyum.

“Ibu saya orang jepang, dan kalau di rumah masih suka memakai bahasa jepang!” jawab Seung Hyun. Ibu Riko mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Sudah-sudah! Ibu sekarang istirahat saja! Biar aku yang beres-beres!” kata Riko. Dan beres-beres pun di mulai.

---

Keduanya bekerja keras hari ini. Dengan atribut celemek dan alat kebersihan, semua ruangan yang semula berantakan dengan barang-barang yang belum tertata rapi, sekarang menjadi bersih, rapi dan nyaman untuk di tempati.

“Selesai!” kata Seung Hyun. Mereka tampak lega setelah berhasil membereskan ruangan terakhir. “Sudah semua?”

“Iya!” kata Riko sambil tersenyum dan melihat sekeliling.

Tiba-tiba ponsel Seung Hyun berdering. Ia lalu membukanya. Ada email. Setelah membacanya sesaat ia tampak terkejut. Dan setelah membalas dengansedikit kata-kata ia mengantongi lagi ponselnya dan segera melepaskan celemeknya.

“Ne? Nan desuka? Daijobu?” tanya Riko ikut kaget.

“Daijobu! Daijobu!” jawab Seung Hyun sambil menyerahkan celemek tadi pada Riko. Ia lalu mengambil tas sekolahnya. “Tapi aku harus pulang! Seseorang menunggu motorku di rumah!”

Seung Hyun bergegas keluar, diikuti Riko yang masih memakai celemek dan membawa celemek yang tadi di pakai Seung Hyun.

“Aku harus cepat pulang! Salam untuk ibumu!” seru Seung Hyun sambil memakai helmnya.

“Iya! Terima kasih juga karena sudah banyak membantuku hari ini!” kata Riko. Seung Hyun mengangguk sebentar, kemudian segera menjalankan motornya menuju rumah susunnya. Karena motor itu hanya ia pinjam dari tetangganya yang seorang mahasiswa karena hari ini ia berangkat terlambat.

Riko masuk lagi ke dalam rumahnya. Ia lalu meletakkan celek tadi di gantungan.

“Kemana temanmu?” tanya ibu Riko. “Padahal ibu sedang membuat makan malam!”

“Pulang! Ada yang menunggu motornya!” jawab Riko. Ia lalu berjalan ke dapur. “Aku bantu ibu memasak ya!”

“Dia sudah punya SIM?” tanya ibu Riko.

“Mana mungkin! Dia masih 16 tahun!” jawab Riko.

“Temanmu tadi tampan sekali!” kata ibu Riko. Riko hanya tersenyum. “Beruntung kalau kau bisa jalan dengannya!”

“Hei, apa yang ibu bicarakan! Sudah, jangan bicara begitu padaku!” jawab Riko. Ibunya tersenyum, lalu melanjutkan masakannya.

***

つづく -To be Continue-

Bonus piku..


Hohoho..

-Keep Shine Like HIKARI!- ^-^

No comments:

Post a Comment