Saturday, October 9, 2010

Inspired from my Big Bro..Choi Tabi..^-^ [PART 2]

Inspired from my Big Bro..Choi Tabi..^-^ [PART 2]

Cast :
Choi Seung Hyun (Choi Tabi)
Miyamoto Riko (fiction)

Author : Nanba Hikari (C-Dragon)
=============================================================

Masih seperti hari kemarin, Riko terlambat lagi. Yang kali ini karena ia terlalu lelah, dan ia terlambat bangun. Makanya ia sekarang lari-lari ke sekolah, padahal dia belum sarapan sama sekali. Ia berlari sambil memandangi jam tangannya. Semakin lelah lagi karena ia juga membawa tas besar, entah apa isinya. Dan tinggal beberapa menit lagi jam masuk sekolah. Kalau tidak cepat-cepat ia akan terlambat.

TIIINNN!!

Suara klakson motor membuat langkahnya terhenti. Di lihatnya di tempat yang sama dengan kemarin. “Naiklah! Atau kau akan terlambat lagi!”

“Ah hai!” Riko segera membonceng.

“Pegangan yang kuat atau kau akan jatuh!”

***

“Kalian datang berdua lagi!” kata Yumi, teman baru Riko yang mengajaknya ngobrol pada saat istirahat kemarin, pada Riko. Sakura, anak perempuan yang satunya lagi mengangguk mendukung pernyataan Riko.

“Kami bertemu di jalan! Seperti kemarin!” jawab Riko biasa saja.

“Kalian ini seperti di takdirkan saja!” kata Sakura lirih. Yumi mengangguk.

“Nan de?” tanya Riko yang tidak mendengar apa yang di ucapkan Sakura.

“Ja nai!” jawab Sakura sambil tersenyum.

***
Riko nampak lesu saat jam makan siang kali ini. Ia lebih memilih tidur di bangkunya dari pada bangun dan melihat teman-temannya memakan bekal makan siang mereka. Dia lupa menyiapkan bekal! Padahal tadi pagi sudah tidak sarapan. Dan cacing diperutnya sudah semakin menjadi-jadi. Dan lebih parah lagi ia melupakan dompetnya dan meninggalkannya di atas meja belajarnya bersama ponselnya. “Baka da ne!” gumamnya lirih mengatai dirinya sendiri.

Seung Hyun yang tadinya hanya duduk di bangkunya sendiri sambil membaca buku novel, jadi beranjak mendekati Riko yang lesu. Ia melepas kacamatanya dan menyimpannya bersama novel yang habis ia baca itu di laci, kemudian menarik kursinya ke sebelah bangku Riko. “Daijobu?”

“Betsu ni!” jawab Riko lemas. Posisinya tidak berubah. Kepalanya masih menempel dengan meja.

“Lalu kenapa kau lemas begitu?” tanya Seung Hyun. Riko menegakkan kepalanya, dan sesaat kemudian terdengar suara kukuruyuk dari dalam perutnya. “Baka janeyo!” kata Seung Hyun. Ia kembali sebentar ke bangkunya, mengambil sesuatu dari dalam tas sekolahnya, kemudian kembali lagi.

Ia menepukkan plastik berisi roti isi coklat ke kepala Riko, kemudian menyodorkannya pada gadis itu. “Arigatoo!!” Riko tampak senang sekali. Ia lalu melihat ke arah Seung Hyun. “Kau tidak makan?”

“Aku sudah menghabiskan dua buah tadi!” jawab Seung Hyun.

“So ka? Kau baik sekali! Beruntungnya aku menjadi temanmu!” kata Riko sambil menepuk kepala Seung Hyun. Seung Hyun mengambil buku, menggulungnya dan memukul kepala Riko.

“Baka dayo na!” kata Seung Hyun. Riko hanya terkekeh dan segera memakan roti itu.

Mereka terdiam sebentar. Riko sibuk memakan rotinya, dan Seung Hyun sibuk mendengarkan lawakan anak-anak laki-laki di kelas itu. Kelas itu menyenangkan baginya. Penuh dengan kesenangan dimasa SMA. Ia bisa merasakan itu, meski baru saja dia berada di sana. Tapi hawa persahabatan selalu terasa sekali di sana.

***

Riko mendaftar di klub musik. Sedangkan Seung Hyun ikut klub seni lukis. Riko suka sekali bermain saxophone. Dia memainkan alat musik tersebut saat ikut klub marching band di SMPnya di Hokkaido. Sedangkan Seung Hyun hobi sekali menggoreskan cat minyak di atas canvas. Ia sepertinya puas kalau sudah melakukan hal itu, meskipun tidak tahu apa maksud dari coretannya sendiri. Tapi hanya dengan membuat goresan demi goresan cat di atas canvasnya, hatinya bisa lega sekali.

Kemampuan Riko dalam memainkan Saxophone sudah tidak bisa diragukan lagi. Dan pada hari pertama, seorang kakak kelas dari klub musik juga, langsung merekrutnya masuk ke dalam bandnya sebagai pemain saxophone. Dan pada hari itu juga mereka langsung berlatih.

“Arigatou gozaimasu!” kata Riko seusai latihan.

“Jangan lupa besok kamis kita berlatih lagi!” kata Toma, drummer dari band itu.

“Hai! Saya pulang dulu!” kata Riko. “Matta ashita!”

“Hai! Matta ne!” kata anak-anak lelaki yang masih ada di dalam studio musik sekolah.

Riko pulang melewati ruang seni. Awalnya ia hanya mau lewat saja, tetapi sesaat matanya terpancing pada kerumunan yang ada di dalam ruang lukis yang ukurannya cukup besar itu. Ia lalu masuk dan mencoba mencari tahu.

“Riko! Riko! Temanmu itu hebat sekali!” kata Yumi tiba-tiba sambil menarik Riko ke bagian depan kerumunan. Yumi juga ikut klub seni lukis. Makanya ia berada disana.

“Atashi no...tomodachi?” tanya Riko. Yumi hanya mengangguk-angguk. Dan setelah sampai di bagian depan kerumunan, Yumi menunjuk ke arah orang yang sedang dilihat semua orang yang ada di sini. Seung Hyun. Ia sedang sibuk menggoreskan cat minyaknya dengan serius. “He? Seung Hyun?”

Sesaat Seung Hyun merasa namanya dipanggil oleh suara orang yang dikenalnya. “Ne, Riko!”

***

“Sugoi na!” kata Riko mantap. Seung Hyun hanya bisa tersenyum malu sambil memandangi langit sore yang berwarna kuning. Kini mereka sedang duduk di atas rerumputan yang ada di tepi sungai. Seung Hyun meninggalkan motornya di atas. “Apa maksud lukisanmu tadi?” tanya Riko lagi.

“Wakaranai yo!” jawab Seung Hyun sekenanya. Riko terbengong. Tapi ia memutuskan untuk tetap diam dan mendengarkan teman yang baru di kenalnya dua hari itu. “Aku tidak pernah tau apa maksud dari lukisanku! Tapi aku senang karena aku bisa puas membuatnya! Itu caraku melegakan diri sendiri!”

Riko mengangguk-ngangguk sambil tersenyum. “Lalu bagaimana cara melegakan dirimu?” tanya Seung Hyun.

“Tunggu sebentar!” Riko lalu membuka tas besar yang tadi ia bawa dan mengeluarkan saxofone dari dalamnya. Ia lalu berdiri dan mengalungkan tali saxofonenya ke lehernya. Ia lalu memainkan sebuah lagu. Seung Hyun tertegun sesaat. Ternyata anak pendek itu bisa memainkan saxofone dengan amat baik dan sempurna.

Riko mengangguk setelah selesai memainkan satu lagu. Kemudian duduk dan memasukkan alatmusiknya lagi ke dalam tas. “Bagaimana?” tanya Riko.

“Kau tidak keberatan ya membawa alat musik itu? Badanmu kan mini sekali!” bukan pujian yang muncul dari mulut Seung Hyun, tapi malah ejekan kecil.

“Nante nayo!” protes Riko. Mereka tertawa.

“Nancatte na!” kata Seung Hyun.

Mereka lalu terdiam sesaat, merasakan semilir angin sore hari yang menjadi semakin dingin saja. Tetapi tiba-tiba Seung Hyun seperti melihat sesuatu. “Nan de? Daijobu? Seung Hyun?” tanya Riko kebingungan.

Tapi tanpa sempat menjawab Seung Hyun segera menarik Riko menuju ke motor mereka. “Nan de?” Riko terus bertanya dengan tampang bingung. Tapi Seung Hyun tidak menjawab. Dan setelah keduanya naik ke atas motor, Seung Hyun segera mengendarai motornya cepat-cepat.

***

Kamar Riko sepi. Hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas. Riko sedang mengerjakan PR. Tapi sesaat ia mengingat-ingat lagi kejadian tadi. Riko bertopang dagu sambil memandang ke awang-awang. Sesaat dahinya mengernyit.

“Kenapa tadi tiba-tiba ia lari seperti itu?” gumam Riko pada dirinya sendiri. Ia jadi ikut panik melihat reaksi Seung Hyun yang tiba-tiba, dan tanpa tahu apakah penyebabnya. “Apakah dia ada masalah dengan orang?”

Tapi sedang seriusnya berpikir, seseorang mengetuk pintu kamarnya. “Riko! Makan malam sudah siap!” kata seseorang di luar. Ayahnya. Hari ini ayahnya pulang agak sore.

“Ah, Hai!” kata Riko seraya meninggalkan meja belajarnya dan untuk sementara melupakan kejadian sore tadi.

***

“Itte kimasu!!” seru Riko seraya keluar rumah. Hari ini ia tidak terlambat seperti kemarin. Dan semua perlengkapanya tidak ada yang terlupa, termasuk obentou dan pakaian olah raga. Ia siap sekali berangkat sekolah hari ini. Tapi langkahnya sesaat terhenti ketika ia sampai di pagar rumah. Seseorang tengah berdiri di depannya sambil tersenyum.

“Ohayou!” sapanya.

“Seung Hyun?” tanya Riko kaget.

“Nan de?” tanya orang itu, Seung Hyun.

“Yada! Yada!” jawab Riko. Ia lalu berjalan mendahului Seung Hyun. Bocah lelaki itu mengikuti dan menyamai langkah Riko. “Eh, kemana motormu?” tanya Riko.

“Itu bukan motorku! Aku hanya meminjamnya karena aku bisa terlambat kalau tidak pakai motor!” jawab Seung Hyun. Riko mengangguk-angguk saja.

***

“Ohayou!” sapa Riko pada Yumi dan Sakura yang sedang mengobrol . Riko lalu duduk di bangkunya yang berada di belakang bangku Yumi.

“Ohayou!” balas Yumi. Ia lalu melihat ke arah Seung Hyun yang tadi berjalan di belakang riko, dan kini sudah duduk di tempat duduknya sendiri. “Kalian berangkat bersama lagi? Jangan bilang kalian habis bertemu di jalan?”

Namun Riko hanya tersenyum. Yumi dan Sakura sepertinya tidak puas dengan jawaban Riko. Terutama Sakura yang sudah jatuh hati pada Seung Hyun sejak pertama ia melihatnya.

“Kalian ini benar-benar hanya berteman?” tanya Sakura.

“Tentu saja!” jawab Riko. “Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kau ini aneh-aneh saja!”

“Betsu ni!” jawab Sakura dengan senyum yang di paksakan. Yumi tersenyum geli. Dan kemudian obrolan berlanjut sampai bel masuk berdering.

***

Riko mencuci mukanya di kran yang ada di dekat lapangan sepak bola. Kelasnya baru saja selesai pelajaran olah raga. Di sana sepi. Teman-temannya sudah beramai-ramai menuju ruang ganti. Dan karena Riko tidak suka yang ramai-ramai, makanya ia cuci muka dulu di dekat lapangan sepak bola sekolah.

Tiba-tiba handuk jatuh dan menutupi kepalanya. Ia cepat-cepat melepaskannya dan melihat sekeliling, mencari orang yang melempar handuk itu. Seung Hyun. Ia datang sambil melihat sekitar.

“Kau lagi!” kata Riko. Lalu mengelap mukanya dengan handuk itu. “Terima kasih handuknya!”

“Hmh!” jawab Seung Hyun sambil mengangguk.

Mereka terdiam sesaat. Seung Hyun kini yang mencuci mukanya di kran. Sedangkan Riko tampak menunggu sambil melihat ke arah lapangan sepak bola. Ia lalu jadi teringat sesuatu. “Hmm..Ano sa..” kata Riko.

“Nan ni?” tanya Seung Hyun sambil mengelap wajahnya dengan handuk yang dari tadi bertengger di lehernya.

“Kemarin itu, kenapa tiba-tiba kau lari?” tanya Riko. Seung Hyun tersenyum simpul sambil menggeleng.
“Tidak ada apa-apa!” jawab Seung Hyun. Ia lalu berjalan ke arah gedung sekolah mendahului Riko. “Ayo cepat! Kalau tidak nanti kita bisa ketinggalan pelajaran!”

Riko segera berlari mengikuti Seung Hyun dan berjalan bersama menuju gedung sekolah.

***

Seung Hyun itu sebenarnya orang seperti apa sih? Itu yang selalu terngiang di benak Riko. Karena ia akan tampak pendiam sekali di depan teman-temannya yang lain. Tapi ketika mereka hanya berdua, Seung Hyun dengan mudahnya menampakkan wajah cerianya. Walaupun kalau sedang tertawa wajahnya memang terkesan mengolok dan angkuh.

Seperti sekarang ini. Keduanya pulang sekolah bersama lagi. Hari ini mereka tidak ada kegiatan klub. Riko bercerita banyak tentang sekolahnya di Hokkaido (dan entah mengapa mereka jadi mengobrolkan itu). Dan Seung Hyun tertawa-tawa geli sepanjang cerita. Ia juga menanggapi cerita Riko itu kalau di otaknya muncul ide konyol. Tapi jika dibandingkan dengan sikapnya di dalam kelas yang hanya tersenyum jika perlu, jarang menyapa teman lain, dan hanya berbicara sedikit itu membuat Riko jadi penasaran dengan kawan yang baru dikenalnya tiga hari itu.

Akhirnya Riko kehabisan cerita juga. Dan mereka hening sejenak. Namun tiba-tiba Seung Hyun mendorong masuk Riko ke dalam sebuah toko. Toko buku. Dan secara tiba-tiba Seung Hyun berlari ke arah rak majalah dan pura-pura membaca salah satu majalah di dalam deretan.

“Doushita no?” tanya Riko bingung. Tapi Seung Hyun hanya diam dan lebih terlihat seperti sedang bersembunyi di bandingkan membaca majalah. Ia lalu melirik ke luar melalui kaca. Dan sesaat kemudian wajahnya tampak lega. “Seung Hyun? Doushita no?”

“Yada!” jawab Seung Hyun.

“Tapi kenapa kau membaca majalah itu?” tanya Riko sambil menunjuk ke arah majalah yang di bawa Seung Hyun. Seung Hyun melihat cover majalah itu. Sebuah majalah tentang tanaman obat.

“Aa..aku hanya ingin menambah wawasan!” jawab Seung Hyun sambil nyengir. Tapi cengirannya langsung menghilang ketika seseorang memukulnya dari belakang. Seung Hyun berbalik. Tampak seorang pria tua dengan celemek hijau, membawa kemoceng kecil.

“Siapa yang memperbolehkan membaca di tokoku?” kata bapak tua itu. Seung Hyun segera mengembalikan majalah tadi dan berjalan keluar sambil mendorong Riko.

“Gomenasai! Gomenasai!” kata Seung Hyun.

***

つづく
Bonus piku..


^^
-Keep Shine Like HIKARI!!-

No comments:

Post a Comment